Generasi Muda Jadi Penggerak Iklim di Tengah Kekhawatiran

Ani R. · 2 min baca · 20 jam lalu · 13 dibaca
Bisik.id
Generasi Muda Jadi Penggerak Iklim di Tengah Kekhawatiran

Gambar atau konten salah?

UNESCO mengungkapkan melalui surveinya, The World in 2030, bahwa perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati menjadi isu yang paling dikhawatirkan masyarakat global. Lebih dari setengah responden survei tersebut berusia di bawah 35 tahun. PBB menegaskan bahwa anak muda memiliki peran penting sebagai penggerak aksi iklim dan pembangunan berkelanjutan. Mobilisasi generasi muda di seluruh dunia menunjukkan kemampuan mereka untuk mendorong perubahan dan memengaruhi kebijakan publik.

Prof. Djati Mardiatno, peneliti Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada, menambahkan bahwa situasi serupa terlihat di Indonesia. Menurutnya, generasi muda memiliki peluang besar untuk memperluas gerakan penyelamatan lingkungan melalui media sosial sekaligus aksi langsung di masyarakat. “Dengan keaktifan dalam melakukan kampanye secara digital, mereka juga dapat mengadakan gerakan-gerakan secara langsung,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UGM, Rabu 10 Juni 2026.

Prof. Djati menyoroti bahwa generasi muda dekat dengan perkembangan teknologi digital, sehingga dapat menyampaikan pesan lingkungan dengan cara yang lebih efektif. “Mereka punya peran yang sangat penting karena dengan karakteristik yang dimiliki saat ini ya, mereka bisa melakukan kegiatan-kegiatan lingkungan dengan lebih efektif dan efisien yang menyesuaikan karakteristik generasi muda saat ini,” jelasnya.

Menurutnya, generasi muda belajar dari berbagai persoalan lingkungan yang terjadi saat ini, sehingga tumbuh kesadaran untuk ikut mengurangi dampak perubahan iklim. Djati menegaskan bahwa peran tersebut menjadi penting karena anak muda adalah generasi yang akan menghadapi dampak lingkungan dalam jangka panjang.

Media sosial dapat menjadi sarana untuk memperluas kesadaran masyarakat mengenai isu lingkungan. Berbagai gerakan yang viral di ruang digital diyakini mampu mengajak lebih banyak orang untuk peduli terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Namun, kampanye di media sosial tidak hanya untuk penyebaran informasi saja. Djati menekankan pentingnya kampanye juga diwujudkan dalam tindakan nyata di masyarakat. “Dimulai dari individu masing-masing, kemudian dibentuk kelompok kecil sehingga menjadi kelompok yang lebih besar. Tentunya harus terdapat sinergi antara gerakan melalui media sosial yang diiringi dengan aksi nyata gitu,” pungkasnya.

Langkah sederhana yang dilakukan individu dapat berkembang menjadi komunitas yang lebih besar. Dengan sinergi antara aksi digital dan nyata, gerakan lingkungan dapat mencapai dampak yang lebih luas.

Peran generasi muda dalam menggerakkan perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan menjadi fokus utama. Mereka memiliki kemampuan untuk memanfaatkan teknologi digital dan menghubungkan pesan lingkungan dengan aksi nyata. Keterlibatan aktif mereka diharapkan dapat memperkuat gerakan lingkungan di Indonesia.

Kesimpulannya, generasi muda Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan lingkungan. Dengan memanfaatkan media sosial dan aksi langsung, mereka dapat memperluas kesadaran dan menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam menjaga bumi.

UNESCOperubahan iklimkeanekaragaman hayatigenerasi mudamedia sosialkampanye digitalaksi nyata

Komentar

Memuat komentar...