Jalin Luncurkan Gerakan Ibu Cek Dulu Lawan Penipuan Digital

Maya K. · 3 min baca · 1 jam lalu · 23 dibaca
Bisik.id
Jalin Luncurkan Gerakan Ibu Cek Dulu Lawan Penipuan Digital

Gambar atau konten salah?

Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia kini menghadapi ancaman serius dari berbagai modus penipuan digital. Modus-modus tersebut meliputi pemalsuan bukti transfer, tautan palsu yang mengatasnamakan penyedia jasa keuangan, hingga permintaan kode one-time password (OTP) yang bisa merugikan bisnis jika tidak segera dikenali sejak awal.

Penipuan semacam ini tidak hanya mengganggu kelancaran transaksi, tetapi juga berpotensi mengancam stabilitas keuangan usaha dan keluarga. Menyadari bahaya tersebut, PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin), yang merupakan bagian dari Danantara Indonesia, meluncurkan sebuah inisiatif bernama Gerakan Ibu Cek Dulu. Program ini dirancang untuk memperkuat literasi keamanan transaksi digital, dengan fokus utama pada perempuan yang menjalankan usaha mikro dan kecil.

Menurut VP Corporate Secretary Jalin, Putu Agnia, keamanan dalam bertransaksi digital harus berjalan seiring dengan pesatnya perkembangan infrastruktur pembayaran. Ia menekankan bahwa program ini hadir untuk menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan pemahaman masyarakat. "Sebagai penyelenggara infrastruktur sistem pembayaran nasional, Jalin ingin memastikan kemajuan teknologi pembayaran diimbangi dengan peningkatan literasi keamanan digital. Bagi perempuan pelaku UMKM, kemampuan ini penting untuk melindungi transaksi, keberlangsungan usaha, dan keuangan keluarga," ujar Putu dalam keterangan resminya pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Langkah awal program ini dimulai dengan memberikan edukasi kepada 100 perempuan di Kelurahan Susukan, Ciracas, Jakarta Timur, pada Jumat, 16 Oktober 2026. Kegiatan ini terlaksana berkat kerja sama dengan T.CARE. Para peserta terdiri dari perempuan pelaku UMKM, ibu rumah tangga yang juga menjalankan usaha, kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), serta anggota komunitas perempuan setempat.

Dalam sesi edukasi tersebut, para peserta dibekali keterampilan untuk mengenali transaksi yang mencurigakan, melindungi data pribadi, dan menentukan langkah yang tepat saat menghadapi dugaan penipuan. Materi disampaikan melalui program Digital Safety Academy yang menggunakan simulasi kasus sehari-hari. Simulasi ini mencakup cara mengamankan akun digital dan memanfaatkan kanal pengaduan resmi yang tersedia.

Upaya edukasi ini sangat relevan mengingat masih adanya kesenjangan antara akses dan pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan. Data dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan bahwa indeks inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 93,61%. Namun, indeks literasi keuangan hanya berada di angka 69,57%.

Angka tersebut mengungkapkan adanya selisih sebesar 24,04 poin persentase antara tingkat inklusi dan literasi keuangan. Artinya, meskipun masyarakat memiliki akses yang luas terhadap layanan keuangan, pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakannya secara aman masih perlu ditingkatkan secara signifikan.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi pembayaran digital pada Agustus 2026 mencapai 6,11 miliar transaksi. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 40,36% secara tahunan. Besarnya volume aktivitas transaksi digital ini membuat pemahaman tentang keamanan pembayaran menjadi semakin krusial, terutama bagi pelaku usaha yang mengandalkan transaksi digital dalam operasional sehari-hari.

Untuk memperluas jangkauan edukasi, Jalin membentuk lebih dari 100 duta keamanan digital melalui program Digital Safety Ambassador Activation. Setiap duta akan mendapatkan perangkat edukasi berupa Digital Safety Toolkit serta pendampingan. Targetnya, masing-masing duta dapat mengedukasi setidaknya lima orang di lingkungan sekitarnya.

Dengan skema tersebut, program ini ditargetkan dapat menjangkau 500 penerima manfaat tambahan di luar 100 peserta awal. Ke depannya, Jalin berharap Gerakan Ibu Cek Dulu dapat menjangkau lebih banyak komunitas perempuan pelaku UMKM di berbagai wilayah Indonesia melalui kolaborasi dengan mitra-mitra lokal.

Secara keseluruhan, inisiatif ini menyoroti pentingnya literasi keamanan digital di tengah pesatnya adopsi teknologi pembayaran. Kesenjangan antara akses dan pemahaman menjadi tantangan nyata yang perlu diatasi agar transaksi digital tidak hanya mudah, tetapi juga aman bagi semua pihak, terutama para pelaku usaha kecil.

penipuan digitalUMKMliterasi keamananedukasi transaksiGerakan Ibu Cek DuluOTPDigital Safety Academy

Komentar

Memuat komentar...