Produktivitas Pelindo Naik 70% Pascamerger

Sari D. · 5 min baca · 46 menit lalu · 11 dibaca
Bisik.id
Produktivitas Pelindo Naik 70% Pascamerger

Gambar atau konten salah?

Lima tahun sudah berlalu sejak merger PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo. Kini perusahaan itu terus mendorong standarisasi layanan, efisiensi, dan penguatan kualitas di terminal peti kemas. Semua ini bertujuan memperbaiki pengelolaan pelabuhan. Hasilnya? Produktivitas naik. Waktu singgah kapal dan barang di pelabuhan pun berkurang.

Widyaswendra, Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, bilang transformasi pascamerger 2021 sudah mendongkrak produktivitas terminal lebih dari 70 persen. Efisiensi operasional yang dirasakan pelanggan pun signifikan.

"Alhamdulillah, produktivitas meningkat lebih dari 70 persen. Dengan meningkatnya produktivitas, dampaknya pelanggan mendapatkan value yang lebih baik. Port stay juga jauh berkurang sehingga mereka menjadi lebih efisien," ujar Widyaswendra dalam keterangan tertulis, Jumat (02 Oktober 2026).

Pernyataan itu disampaikan saat dihubungi pada Rabu (30 September). Ia menjelaskan transformasi melalui standarisasi, sistematisasi, dan peningkatan kompetensi SDM sudah menunjukkan hasil positif. Hampir semua dari total 32 terminal peti kemas merasakan dampaknya.

"Karena merger sudah dilakukan sejak 2021, peningkatan kompetensi dan knowledge secara otomatis distandardisasi. Dari total 32 terminal, hampir semua perbaikannya sudah terlihat secara nyata," tuturnya.

Transformasi juga mencakup optimalisasi peralatan. Merger memungkinkan peralatan dari terminal yang kelebihan alat dialihkan ke terminal lain yang lebih membutuhkan.

"Beberapa terminal sebelumnya punya masalah terkait alat. Dengan merger, ada terminal yang kami modernisasi. Alat yang ada sebelumnya bisa diberikan kepada terminal yang membutuhkan," jelas Widyaswendra.

Langkah itu berdampak pada port stay dan cargo stay. Waktu singgah kapal dan barang di pelabuhan jadi lebih baik.

"Dampaknya, port stay dan cargo stay menjadi lebih baik," ungkapnya.

Widyaswendra menjelaskan peningkatan produktivitas juga membuka peluang kerja sama dan pengembangan rute baru. Produktivitas terminal yang tinggi jadi kuncinya.

"Dari situ kami melihat banyak peluang, mulai dari pengembangan bisnis dengan kerja sama antarkorporasi sampai pembukaan rute-rute atau service baru. Banyak rute baru yang diperoleh karena produktivitas masing-masing terminal sudah tinggi," ujar Widyaswendra.

Pembenahan tata kelola terminal peti kemas berfokus pada penguatan ekosistem maritim. Langkah ini mendukung efisiensi biaya logistik nasional.

"Pada akhirnya ketika terjadi peningkatan produktivitas dan kinerja operasional diharapkan juga memberikan dampak pada biaya operasional kapal. Fokus kami adalah bagaimana ekosistem maritim bisa berkontribusi terhadap penurunan biaya logistik, sekaligus konektivitas yang semakin baik," jelas Widyaswendra.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan perbaikan layanan Pelindo selama lima tahun merger sudah dirasakan perusahaan pelayaran di berbagai wilayah.

"Sejauh ini Pelindo selama lima tahun merger telah melakukan banyak improvement layanan secara terus-menerus dan sudah kami rasakan perbaikannya di semua area Pelindo," tutur Carmelita.

Menurutnya, pembenahan layanan terminal peti kemas masih perlu dilanjutkan. Langkah itu penting untuk menciptakan sistem pelayanan logistik yang semakin terintegrasi di seluruh Indonesia.

"Sampai sekarang Pelindo terus berbenah mengembangkan layanannya untuk lebih terintegrasi di seluruh Indonesia," ungkap Carmelita.

Peningkatan kualitas layanan terminal penting bagi perusahaan pelayaran. Soalnya, ini berkaitan langsung dengan produktivitas kapal. Layanan terminal tidak hanya soal bongkar muat, tapi juga efisiensi operasional dan waktu kapal di pelabuhan.

"Harapan kami agar perbaikan dan atau penggantian peralatan bongkar muat dapat segera dilakukan agar port stay lebih baik," ujarnya.

Carmelita menilai kesiapan peralatan bongkar muat berpengaruh langsung terhadap produktivitas terminal. Hal ini dilakukan untuk mendukung kepastian jadwal pelayaran kapal.

"Yang kami harapkan tentu layanan semakin baik, semakin terintegrasi, dan bisa memberikan kepastian bagi pelaku usaha," tuturnya.

INSA juga mendorong keberlanjutan standarisasi layanan di berbagai terminal. Pola layanan yang semakin seragam dibutuhkan perusahaan pelayaran agar operasional kapal bisa direncanakan lebih baik.

"Bagi perusahaan pelayaran, kepastian layanan itu penting. Kami membutuhkan pelayanan yang bisa mendukung produktivitas dan kepastian operasional kapal," jelasnya.

Di sisi lain, tekanan biaya akibat pelemahan rupiah membuat efisiensi semakin penting bagi industri pelayaran. Biaya perawatan dan operasional kapal, termasuk suku cadang yang masih harus diimpor, ikut terdampak.

"Pelemahan rupiah akan berdampak terhadap sejumlah biaya yang masih menggunakan dolar atau sangat dipengaruhi oleh nilai tukar," ujar Carmelita.

Dampak gejolak kurs mata uang asing mulai merembet ke sektor investasi industri pelayaran nasional. Tekanan itu tidak hanya membengkakkan pengeluaran rutin harian, tapi juga memengaruhi kalkulasi rencana investasi perusahaan ke depan.

"Jadi bukan hanya biaya operasional sehari-hari, tetapi juga perencanaan investasi perusahaan ikut terdampak," jelas Carmelita.

Menurutnya, efisiensi tidak cukup hanya dilakukan pengusaha. Pemerintah juga perlu menjaga struktur biaya industri agar tetap kompetitif.

"Efisiensi dari sisi pengusaha saja tidak cukup. Pemerintah juga perlu membantu menjaga agar struktur biaya industri tetap kompetitif," tegasnya.

Lima tahun setelah merger Pelindo, standarisasi layanan terminal petikemas dinilai menunjukkan perkembangan positif. Namun, penyamaan sistem dan proses bisnis belum sepenuhnya membuat kualitas layanan seluruh terminal Pelindo menjadi seragam.

Pengamat supply chain dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Raja Oloan Saut Gurning, mengatakan merger Pelindo telah mendorong standarisasi pengelolaan terminal lebih terpusat. Hal itu terlihat dari penyelarasan proses bisnis, penggunaan Terminal Operating System (TOS), hingga indikator kinerja terminal.

"Standardisasi layanan petikemas Indonesia lima tahun terakhir berada pada jalur yang tepat. Arsitektur proses bisnis, sistem operasi atau TOS, dan indikator kinerja telah terstandarisasi secara terpusat," ujar Saut.

Menurutnya, langkah itu menjadi bagian penting dari pembenahan pengelolaan terminal setelah integrasi Pelindo. Tapi, tantangan berikutnya adalah memastikan standarisasi tersebut menghasilkan kualitas layanan yang konsisten di lapangan.

"Namun, konsistensi layanan riil antarterminal belum sepenuhnya tercapai. Yang terjadi saat ini adalah segmented consistency, konsisten di dalam tier masing-masing, tetapi belum homogen secara nasional," tuturnya.

Kondisi itu perlu dilihat dari karakteristik masing-masing terminal yang dikelola Pelindo. Tidak semua terminal memiliki kondisi geografis, peralatan, karakteristik kapal, dan dukungan hinterland yang sama.

"Terminal di wilayah sungai pasang-surut seperti Musi, Barito, atau Kapuas memiliki tidal window yang membatasi konsistensi kedatangan dan keberangkatan kapal. Ini berbeda dengan pelabuhan laut dalam," jelasnya.

Menurut Saut, perbedaan kondisi geografis membuat kinerja terminal tidak bisa diukur hanya berdasarkan satu indikator produktivitas. Standarisasi TOS tidak otomatis membuat produktivitas terminal sama apabila peralatan bongkar muat yang digunakan berbeda.

"TOS yang sama jika dijalankan di terminal dengan STS berkecepatan tinggi akan menghasilkan output berbeda dibanding terminal yang hanya mengandalkan HMC tua atau derek kapal," imbuhnya.

Oleh karena itu, Saut menilai Pelindo perlu memastikan standarisasi juga diikuti dengan peningkatan equipment availability dan keandalan peralatan. Penguatan sarana bongkar muat itu penting agar produktivitas di seluruh terminal peti kemas bisa tercapai secara merata.

"Tingkat kesiapan alat atau equipment availability dan mean time between failures di terminal luar Jawa masih belum merata," pungkasnya.

Merger Pelindo memang sudah membawa perubahan. Produktivitas naik, waktu tunggu berkurang. Tapi standarisasi layanan belum sepenuhnya merata. Perbedaan geografis dan peralatan masih jadi tantangan. Tekanan biaya akibat kurs rupiah juga menambah beban industri pelayaran. Efisiensi dari pengusaha saja tidak cukup. Pemerintah perlu turun tangan menjaga struktur biaya tetap kompetitif.

merger Pelindostandarisasi layananproduktivitas terminalefisiensi operasionalport staybiaya logistikterminal peti kemas

Komentar

Memuat komentar...