Tito Karnavian Kunjungi Aceh, Fokus Pemulihan Bencana
Gambar atau konten salah?
Mendagri Muhammad Tito Karnavian mengunjungi Aceh pada 09 Juni 2026 untuk rapat koordinasi dan evaluasi penanganan bencana hidrometeorologi. Rapat itu diadakan di kantor Gubernur Aceh dan dipimpin oleh Gubernur Muzakir Manaf (Mualem). Selain Tito, hadir Wakil Gubernur Fadhlullah Dek Fadh, beberapa wali kota dan bupati, serta perwakilan kementerian.
Di tengah suasana serius, Tito menyatakan bahwa “Terlepas dari kita sudah bisa mengembalikan kepada fungsi yang normal kehidupan masyarakat, tapi kan masih banyak persoalan yang belum diselesaikan,” ia ucapkan kepada wartawan. Ia menekankan bahwa meski kondisi sudah kembali ke fungsi normal, masih banyak pekerjaan yang harus selesai.
Berbagai masalah yang belum terselesaikan antara lain perumahan, pendidikan, rumah ibadah, madrasah, jalan, jembatan, sawah, tambak, dan lain‑lain. Proses perbaikan, rehabilitasi, dan rekonstruksi akan berlangsung dari tahun ini hingga 2028 mendatang.
Tito menjelaskan rincian anggaran: “Total anggaran yang sudah disetujui oleh Pak Presiden dan DPR itu adalah untuk tiga provinsi ini selama tiga tahun Rp100,1 triliun, dibagi menjadi tiga tahapan, Rp39 triliun, Rp 32 triliun, dan Rp 28 triliun lebih.” Ia menambahkan bahwa di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terdapat tambahan Rp10,6 triliun dalam bentuk Transfer Keuangan Daerah (TKD).
Menurutnya, kementerian dan lembaga memiliki anggaran Rp39 triliun untuk rehabilitasi dan rekonstruksi. “Mereka diminta segera mengeksekusi program bila anggarannya sudah dicairkan Kementerian Keuangan,” Tito menegaskan. Ia juga menyoroti pentingnya pelaksanaan cepat setelah dana dicairkan.
Setelah dana dicairkan, “Begitu nanti sudah dicairkan dari Kementerian Keuangan, maka otomatis kita akan segera bekerja cepat untuk mengeksekusi program-program dan kegiatan yang jumlahnya 11.512 kegiatan untuk tiga provinsi. Termasuk otomatis Aceh, karena Aceh berdampak yang paling berat,” jelas mantan Kapolri itu.
Tito menggambarkan kondisi Aceh saat ini: “Kondisi Aceh saat ini sudah normal fungsional. Normal yang dimaksud adalah pergerakan orang dan barang berjalan baik, listrik juga bagus, SPBU berjalan operasional, internet kembali aktif, logistik juga tidak kekurangan.” Ia menambahkan bahwa evaluasi telah dilakukan untuk menilai apa yang sudah dicapai selama masa tanggap darurat dan transisi.
Namun, ia juga mengakui bahwa belum semua berjalan sempurna: “Tadi kita melakukan evaluasi apa yang sudah dicapai selama masa tanggap darurat dan transisi. Intinya, kita sudah kembali kepada normal, tapi belum permanen. Normalnya normal fungsional,” katanya. Ia menegaskan bahwa masih ada beberapa sekolah yang masih di tenda, masih dalam keadaan darurat, atau menumpang di sekolah lain, meskipun sebagian besar sudah kembali ke sekolah asal.
Dengan semua data dan pernyataan tersebut, terlihat bahwa proses pemulihan Aceh masih berlangsung. Meski sudah banyak langkah positif, masih ada tantangan yang harus diatasi sebelum kondisi benar-benar stabil dan berkelanjutan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Minuman Manis Tingkatkan Risiko Kanker Hati, Studi Jangka Panjang
Mi Instan: Beban Sodium dan Risiko Metabolik pada Konsumen
PKB Tetapkan 22 Ketua DPC di Sumatera Utara 2026‑2031
Tradisi Menerbeb Sumatra Utara: Upacara Penghormatan Anak
Tanda Serangan Rayap pada Pintu Kayu dan Cara Mengatasinya
WhatsApp Perkenalkan Fitur Tautkan Perangkat Ganda
Berita Terbaru
Pemerintah Rencanakan Pengurangan Emisi CO2 2025, Fokus Energi
Persela Lamongan Kembali Menyambut Dendi Sulistiawan
Alkohol Dorong Rasa Gurih, Tambah Kalori, Bikin Berat Badan
Kebun Binatang Bandung Tunggu Izin Operasi, Faunaland Siap?
England 3-0 Kosta Rika: Gordon Menang, Keane Prediksi
Meksiko Kalahkan Afrika Selatan 2-0 di Piala Dunia 2026
