VKTR Catat Penjualan Rp648 Miliar, Laba Melonjak 1.782%

Dedi S. · 3 min baca · 1 jam lalu · 21 dibaca
Bisik.id
VKTR Catat Penjualan Rp648 Miliar, Laba Melonjak 1.782%

Gambar atau konten salah?

PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) melaporkan penjualan bersih sebesar Rp 648 miliar. Angka ini naik 56% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini terjadi seiring dengan meningkatnya permintaan kendaraan listrik komersial.

Segmen manufaktur suku cadang juga ikut mendorong kinerja perusahaan. Industri otomotif nasional yang terus pulih sepanjang tahun ini menjadi pendorong utamanya. Laba usaha VKTR tercatat Rp 15 miliar, melonjak 1.782% year on year. Sementara laba bersih mencapai Rp 10 miliar, naik 25% year on year.

Total aset VKTR hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp 1,8 triliun. Liabilitas perusahaan sebesar Rp 561 miliar, dengan ekuitas Rp 1,2 triliun. Kondisi keuangan ini menjadi modal bagi VKTR untuk mengembangkan bisnis dan menangkap peluang pertumbuhan kendaraan listrik komersial di Indonesia.

Direktur Utama PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk, A. Ardiansyah Bakrie, mengatakan pertumbuhan positif ini menunjukkan kebutuhan terhadap kendaraan listrik komersial semakin berkembang. Kendaraan ini mulai digunakan dalam berbagai kebutuhan operasional, seperti transportasi publik, logistik, perkebunan, hingga sektor industri dan pertambangan. "Bagi kami, ini bukan hanya tentang pertumbuhan penjualan, tetapi juga menunjukkan bahwa pasar kendaraan listrik komersial di Indonesia terus berkembang menuju tahap yang lebih matang," ujarnya dalam keterangan tertulis pada Kamis, 01 Oktober 2026.

VKTR melihat tantangan elektrifikasi ke depan tidak lagi hanya soal ketersediaan kendaraan. Tantangannya juga bagaimana membuat adopsi kendaraan listrik lebih mudah, fleksibel, dan bisa diperluas skalanya oleh operator maupun pelaku usaha. Selain memperkuat portofolio dan kapasitas kendaraan listrik komersial, VKTR mulai mengembangkan Electric Mobility-as-a-Service (e-MaaS). Layanan ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menjadi enabler dalam percepatan adopsi kendaraan listrik.

Model e-MaaS mengalihkan struktur pengeluaran dari belanja modal (CAPEX) menjadi belanja operasional (OPEX). Dengan begitu, pengguna mendapatkan fleksibilitas keuangan yang lebih besar. Risiko pendanaan juga berkurang, dan perencanaan anggaran menjadi lebih terukur serta dapat diprediksi. Pendekatan ini menghilangkan hambatan investasi awal yang sering menjadi kendala dalam adopsi kendaraan listrik. Pengguna bisa memperluas skala operasional armada secara lebih cepat tanpa harus melalui proses pengadaan aset dan penyusunan skema pembiayaan yang rumit.

Model e-MaaS juga memungkinkan pembaruan dan optimalisasi armada secara berkala. Ini penting karena teknologi kendaraan listrik berbasis baterai terus berkembang. Pengguna bisa terus mendapatkan manfaat dari peningkatan kinerja, efisiensi operasional, dan standar keselamatan kendaraan yang lebih baik. Mereka tidak perlu menanggung risiko penurunan nilai aset atau biaya penggantian teknologi di masa depan.

Melalui skema e-MaaS, calon konsumen bisa mengurangi kebutuhan belanja modal untuk pembelian kendaraan di awal. Kebutuhan pendanaan jangka panjang juga berkurang. Skema ini menawarkan pendekatan yang berkelanjutan secara keuangan dan biaya operasional yang lebih efisien. Pembayaran dilakukan secara bulanan, bukan dengan tekanan belanja modal besar di awal. Dengan kemudahan ini, dan dengan jasa penyewaan beragam kendaraan listrik komersial produksi VKTR, skema e-MaaS akan membantu VKTR memperluas penetrasi pasar dan mempercepat distribusi kendaraan listrik komersial ke berbagai segmen industri.

Bagi VKTR, percepatan elektrifikasi tidak hanya bergantung pada ketersediaan kendaraan. Kesiapan solusi dan ekosistem juga penting agar kendaraan bisa diadopsi secara komersial. Ardi menambahkan, "Karena itu, pengembangan e-MaaS menjadi bagian dari strategi VKTR untuk berperan tidak hanya sebagai penyedia kendaraan listrik komersial, tetapi juga sebagai enabler yang membantu pelanggan mengadopsi dan mengoperasikan kendaraan listrik secara lebih efisien."

VKTR akan terus memperkuat kapasitas dan portofolio kendaraan listrik komersial. Perusahaan juga akan mengembangkan solusi pendukung untuk mempercepat adopsi di berbagai sektor. VKTR optimistis kombinasi antara pertumbuhan pasar, kapabilitas manufaktur lokal, dan model bisnis yang semakin terintegrasi akan membuka ruang pertumbuhan baru bagi kendaraan listrik komersial di Indonesia.

Pertumbuhan penjualan VKTR menunjukkan bahwa pasar kendaraan listrik komersial di Indonesia memang sedang berkembang. Namun, perusahaan tidak hanya mengandalkan penjualan kendaraan. Mereka juga membangun model bisnis baru seperti e-MaaS untuk mengatasi hambatan adopsi, terutama soal biaya awal yang tinggi. Strategi ini bisa menjadi kunci untuk memperluas pasar kendaraan listrik di Indonesia, terutama di sektor komersial yang membutuhkan skala besar.

penjualan bersihkendaraan listrik komersiale-MaaSVKTRpertumbuhan pasarmanufaktur suku cadangadopsi kendaraan listrik

Komentar

Memuat komentar...