Cahyo S. · 2 min baca · 1 jam lalu · 25 dibaca
Bisik.id

Gambar atau konten salah?

Timotius Firman dulu dikenal sebagai anggota band Saint Loco yang meraih popularitas di era 2000-an. Setelah berkarier di dunia musik, ia kini melayani sebagai pastor. Di sela‑sela tugas mengajar dan mengisi panggung, ia menemukan hobi baru: membuat sambal.

Perjalanan kulinernya tidak terjadi sekaligus. Semua bermula ketika ia menjalani rehabilitasi di RSKO Cibubur pada 01 Januari 2019. Di sana, ia bereksperimen dengan resep sederhana, terinspirasi oleh ayam geprek yang disiram sambal bawang dan minyak panas. Ia mengaku, “Sambal buatan saya ternyata disukai teman‑teman di rehabilitasi.

Setelah keluar dari rehabilitasi, pandemi melanda. Aktivitas manggung dan pekerjaannya sebagai kontraktor terhenti, sehingga ia mencari sumber penghasilan baru. Bersama istri, ia membuka usaha rice bowl bernama Ayam The King. Menu utamanya adalah ayam suwir dengan sambal racikannya sendiri. Usaha ini berjalan hampir dua tahun sebelum akhirnya dihentikan ketika situasi mulai normal.

Di tahun 01 Januari 2026, ia kembali mengembangkan resep sambalnya. Ia memberi nama Sambal Babon, singkatan dari bawang dan rebon. Ide tersebut muncul setelah ia menonton banyak konten kuliner di media sosial. Ia mengembangkan resep menjadi racikan sendiri dan menawarkannya seharga Rp 50.000 per jar. Ia menyatakan, “Saya bikin resep dengan bahan, takaran, dan gaya saya sendiri.

Kepercayaan diri Timotius meningkat ketika ia membuka booth di festival Hammersonic 2026 pada 01 Mei 2026. Di sana, ia menjual sambal, nasi jeruk, lemper, kopi, dan minuman segar. Pengunjung tak terduga, sehingga seluruh stok habis terjual selama dua hari festival berlangsung. Ia mengungkapkan, “Kami pulang tanpa bawa stok. Hampir semuanya sold out.

Selain sambal, ia juga mengembangkan Lemper Babon dan Gado‑gado Babon. Kedua produk tersebut menggunakan resep keluarga yang diwariskan turun‑turun. Ia menambahkan, “Kalau di musik saya berkarya lewat lagu, sekarang saya juga bisa berkarya lewat makanan.

Untuk memesan Sambal Babon, pelanggan dapat menghubungi akun Instagram @sambalbabon. Meskipun ia masih aktif sebagai pastor, ia menilai makanan sebagai bentuk karya lain yang memberi kepuasan tersendiri. Ia menikmati ketika racikannya mendapat respons positif dari pelanggan.

Perjalanan ini menunjukkan bagaimana seseorang dapat bertransformasi dari dunia musik ke dunia kuliner tanpa kehilangan identitas. Keterbukaan terhadap pengalaman baru, baik di rehabilitasi maupun di pandemi, menjadi katalis bagi Timotius untuk menciptakan produk yang kini menjadi incaran banyak orang. Dengan harga terjangkau dan rasa yang autentik, Sambal Babon telah menembus pasar kuliner lokal, sekaligus memperkaya warisan kuliner keluarga. Seiring waktu, ia terus menyesuaikan resep dan menambah variasi menu, menegaskan bahwa kreativitas tidak terbatas pada satu bidang saja.

Timotius FirmanSaint LocoSambal BabonRSKO Cibuburfestival Hammersonic 2026pastorayam suwir

Komentar

Memuat komentar...