Putri N. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id

Gambar atau konten salah?

Di Jakarta, seorang karyawan BAKTI (Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi) Kementerian Komunikasi dan Digital seringkali membayangkan menaklukkan Mars. Namun, tugasnya lebih dekat: membawa konektivitas digital ke wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal, yang dipanggil 3T.

Fadilah Mathar, Direktur Utama BAKTI, menjelaskan bahwa semangat 3T sudah menjadi bagian dari budaya kerja di lembaga tersebut. Ia berkata, “Semua rekan‑rekan di BAKTI ketika bapak ibu tanya culture‑nya apa sih di BAKTI, mereka pasti akan bilang 3T. Mereka pasti akan siap‑siap pergi ke wilayah 3T.”

Suatu waktu, Fadilah mengunjungi SpaceX, perusahaan antariksa milik miliarder teknologi Elon Musk, di Berau, Kalimantan Timur. Saat bertemu dengan seorang petinggi SpaceX, ia bertanya tentang budaya kerja di sana. Ia mengingat, “Saya pernah bertanya waktu itu ke setingkat direktur, apa corporate culture di SpaceX? Mereka bilang semua yang kerja di sini pasti mau ke Mars.”

Menurut Fadilah, setiap organisasi perlu memiliki tujuan besar yang menjadi identitas bersama. Di BAKTI, tujuan itu diwujudkan lewat komitmen melayani wilayah 3T yang masih menghadapi keterisolasian dan keterbatasan infrastruktur telekomunikasi.

BAKTI berperan sebagai ujung tombak pemerintah dalam menyediakan akses internet dan telekomunikasi di tempat-tempat yang tidak menarik bagi operator swasta. Ia menegaskan, “BAKTI ini khusus untuk menyelenggarakan dan membangun akses internet atau konektivitas digital atau sinyal di wilayah‑wilayah yang tidak dibangun oleh pihak swasta. Karena kalau pemerintah tidak mengurus maka sampai kapan pun akses tidak akan diterima oleh masyarakat.”

Program BAKTI mencakup pembangunan BTS 4G, penyediaan akses internet gratis bagi sekolah dan fasilitas kesehatan, serta pemanfaatan Satelit Republik Indonesia (SATRIA‑1) untuk menjangkau daerah terpencil. Hingga kini, lebih dari 31 ribu titik layanan publik telah terhubung melalui jaringan yang dibangun BAKTI.

Infrastruktur ini tersebar di sekolah, puskesmas, kantor desa, fasilitas keamanan, dan berbagai layanan publik lainnya di seluruh Indonesia. Dengan begitu, masyarakat di daerah terpencil kini dapat mengakses informasi, belajar, dan berkomunikasi secara online.

Secara keseluruhan, BAKTI menunjukkan bahwa upaya pemerintah dalam menutup kesenjangan digital dapat dilakukan lewat kolaborasi antara teknologi, kebijakan, dan komitmen terhadap wilayah 3T. Koneksi yang terjangkau dan berkelanjutan kini menjadi bagian penting dalam pembangunan sosial dan ekonomi di Indonesia.

BAKTI3TSatRIA-1konektivitas digitalwilayah terpencilSpaceXkesenjangan digital

Komentar

Memuat komentar...