AI Jadi Mitra Utama Keamanan Siber, Tuntut Data Lebih Akurat

Wati N. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 78 dibaca
Bisik.id
AI Jadi Mitra Utama Keamanan Siber, Tuntut Data Lebih Akurat

Gambar atau konten salah?

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) kini dianggap semakin penting bagi pihak keamanan siber di Indonesia. AI tidak lagi dilihat sekadar teknologi, melainkan mitra strategis yang dapat membantu mengatasi lonjakan serangan digital yang terus meningkat.

General Manager Virtus, Wisnu Nursahid, menegaskan bahwa AI dapat mempermudah pekerjaan berulang sehingga tenaga manusia dapat dialokasikan pada tugas yang lebih strategis. “Jadi, kalau dimaknai secara positif, AI merupakan mitra kerja kita, terutama untuk menangani pekerjaan‑pekerjaan yang sifatnya repetitif dan otomatis. Dengan begitu, manusia bisa lebih fokus pada hal‑hal yang membutuhkan analisis dan pengambilan keputusan,” ujarnya di acara R17 Podcast Show vol.4 di Jakarta, 23 April 2026.

Wisnu juga menyoroti peningkatan signifikan dalam ancaman siber di Indonesia. Ia mengutip data yang menunjukkan lonjakan serangan dalam dua tahun terakhir. “Kembali ke poin sebelumnya, kita perlu fokus pada keamanan di Indonesia serta berbagai jenis pekerjaan yang terkait. Berdasarkan data yang sempat saya sampaikan, pada tahun 2025 terdapat sekitar 5,5 miliar serangan. Sementara itu, pada tahun 2026, baru kuartal pertama saja sudah mencapai sekitar 1,5 miliar serangan,” jelasnya.

Menurutnya, tantangan berikutnya adalah mengidentifikasi berapa banyak serangan yang memanfaatkan AI. Menurut Wisnu, mengetahui proporsi serangan AI‑driven penting untuk memahami pola ancaman yang semakin kompleks. “Menarik jika kita bisa mengategorikan dari seluruh serangan tersebut, mana yang merupakan AI‑driven attack. Ini bisa menjadi bahan analisis yang penting. Mungkin data dari Red Intelligence jika dikombinasikan dengan data dari BSSN dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai landscape serangan, khususnya yang berbasis AI,” kata Wisnu.

Ia mengakui bahwa hingga saat ini belum ada data pasti terkait proporsi serangan berbasis AI. Menurutnya, dibutuhkan sistem pengumpulan dan analisis data yang lebih matang. “Namun, hingga saat ini belum ada data pasti terkait proporsi serangan berbasis AI. Dibutuhkan sistem pengumpulan dan analisis data yang lebih matang untuk mendapatkan gambaran yang akurat,” ia menambahkan. Ia juga menekankan perlunya proses kategorisasi dan workflow yang lebih rigid agar data yang dihasilkan lebih akurat.

Wisnu menjelaskan bahwa adopsi AI dalam organisasi harus dilihat dari dua aspek utama: sumber daya manusia dan teknologi. Dari sisi SDM, ia menegaskan bahwa manusia tetap menjadi faktor penentu dalam ketahanan organisasi terhadap serangan siber. “Pertama adalah people (sumber daya manusia). Sekitar 40 % keberhasilan ketahanan sebuah organisasi ditentukan oleh faktor manusia. Oleh karena itu, integrasi pemahaman dan pemanfaatan AI pada SDM harus terus ditingkatkan, karena kontribusinya sangat besar,” ungkapnya.

Dari sisi teknologi, Wisnu menekankan pentingnya membangun sistem keamanan yang terintegrasi, salah satunya melalui Security Operations Center (SOC). “Kedua adalah dari sisi teknologi. Sebagai contoh, dalam konteks Security Operations Center (SOC), tentu semua organisasi ingin memiliki sistem yang lengkap dan terintegrasi, baik dari sisi people, process, maupun technology,” tambahnya.

Implementasi SOC mencakup berbagai komponen penting yang kini banyak diadopsi organisasi, seperti endpoint security, network detection, IDS/IPS, hingga MDR (Managed Detection and Response). Komponen-komponen ini bekerja bersama untuk mendeteksi, mencegah, dan merespons ancaman secara real‑time.

Secara keseluruhan, pernyataan Wisnu menyoroti bahwa AI dapat menjadi alat bantu yang signifikan dalam mengelola keamanan siber, namun masih memerlukan data yang lebih terperinci dan sistem pengumpulan yang lebih baik. Organisasi harus memperkuat kapasitas manusia dan teknologi secara bersamaan untuk menghadapi ancaman yang semakin kompleks.

kecerdasan buatan (AI)keamanan siberserangan digitalSecurity Operations Center (SOC)Managed Detection and Response (MDR)AI-driven attackdata analisissumber daya manusia

Komentar

Memuat komentar...