Api Gerbang Neraka Turkmenistan Meredup, Gas Metana Tetap
Gambar atau konten salah?
Di gurun Karakum, Turkmenistan, terdapat sebuah kawah yang telah menyala sejak lebih dari lima puluh tahun. Kawah ini dikenal dengan nama Kawah gas Darvaza atau Gerbang Neraka karena nyala apinya tampak tak pernah padam.
Asal-usul kawah ini masih menjadi misteri, namun versi yang paling banyak dipercaya adalah pada 01 Januari 1971 ketika seorang insinyur Uni Soviet sedang mengebor untuk mencari ladang minyak. Saat itu, ia secara tidak sengaja menembus sebuah kantong gas alam raksasa. Untuk mencegah gas beracun menguap ke atmosfer, para Soviet memutuskan untuk menyalakan gas tersebut.
Akibatnya, tanah di sekitar kawah menjadi ambles, dan terbentuklah sebuah lubang dengan diameter 70,1 meter serta kedalaman 20,1 meter. Sejak saat itu, kawah terus menyala, memakan gas metana alami yang terus mengalir dari bawah bumi.
Walau kawah ini sulit dijangkau, ia telah menjadi daya tarik wisata. Bahkan, pernah dijadikan latar belakang kampanye promosi presiden Turkmenistan. Namun, beberapa tahun terakhir, para pengamat mencatat bahwa nyala api di Gerbang Neraka mulai meredup.
Di sebuah konferensi pada 01 Januari 2025, Turkmenistan mengumumkan bahwa intensitas api di kawah gas Darvaza telah menurun. Irina Luryeva, direktur perusahaan energi milik negara Turkmengaz, menyatakan, “Penurunan intensitas api mencapai hampir tiga kali lipat,” menambahkan bahwa perubahan ini terlihat jelas dari data satelit.
Data satelit tersebut berasal dari perusahaan asal Inggris, Capterio, yang memiliki spesialisasi dalam mengurangi pembakaran gas di industri minyak dan gas. Menurut pemerintah Turkmenistan, penurunan intensitas disebabkan oleh dua sumur yang dibor di dekat kawah pada 01 Januari 2024 untuk mengekstraksi gas alam dari kantong gas tersebut.
Namun, Capterio memiliki pandangan berbeda. Mengutip New York Times, perusahaan tersebut meyakini bahwa nyala api sudah meredup sebelum sumur dibor, dan belum dapat dipastikan apakah faktor alam turut berperan.
Menurut New York Times, meski nyala apinya melemah, kemungkinan besar api tidak akan padam sepenuhnya dalam waktu dekat. Kawah ini masih menghasilkan gas metana dalam jumlah besar.
Antara 01 Januari 2022 dan 01 Januari 2025, kawah ini melepaskan rata-rata sekitar 1.300 kilogram metana per jam, menurut data Carbon Mapper. Pada 01 Oktober 2025, emisi metana bahkan melonjak hingga 1.960 kilogram per jam.
Walaupun jumlah ini lebih kecil dibandingkan gas yang dilepaskan beberapa ladang minyak dan gas raksasa, angka ini tetap signifikan karena metana adalah gas rumah kaca yang kuat. Metana dapat memerangkap panas di atmosfer sekitar 30 kali lebih kuat daripada karbon dioksida.
Untungnya, ketika metana terbakar di kawah, ia berubah menjadi karbon dioksida. Dampaknya sedikit lebih ringan bagi lingkungan dibandingkan jika metana dilepaskan dalam bentuk mentah.
Jika api tersebut benar-benar padam, metana mentah yang mampu mengurung panas akan terlepas begitu saja ke udara. Meskipun karbon dioksida adalah pendorong utama perubahan iklim jangka panjang, metana adalah gas rumah kaca terbanyak kedua dan menyumbang sekitar 11% emisi global.
Secara keseluruhan, meski nyala api di Gerbang Neraka tampak lebih redup, belum ada tanda-tanda bahwa ia akan padam sepenuhnya dalam waktu dekat. Kondisi ini, menurut beberapa analis, mungkin tidak menjadi masalah besar, mengingat proses pembakaran metana tetap berlangsung di kawah.
Dengan demikian, Gerbang Neraka tetap menjadi fenomena alam yang menarik, sekaligus menjadi peringatan tentang dampak gas rumah kaca yang terus berputar di bumi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Fabiola Terjebak, Scammer Internasional Jangkau Sukoharjo
Ariston Luncurkan Pemanas Air Andris 3, Kamar Mandi Smart
Cisco Luncurkan Foundry Security Spec untuk Keamanan AI
Fabiola Pimpin Scam Internasional dengan Video Call Online
Ariston Pamer Andris 3: Water Heater Cerdas Kamar Mandi
Rupiah Menembus Rp 18.000 Pagi Saat Dolar Tembus 18k Indonesia
Berita Terbaru
Venus & Jupiter Dekat di Langit pada 08–09 Juni 2026
DKI Alokasikan Rp253,6 Miliar untuk 103 Sekolah Swasta
Latihan Pra Operasi Patuh Agung 2026 Fokus ETLE Lalu Lintas
Indonesia Mulai Transisi Ekspor SDA Satu Pintu lewat DSI Pemerintah
Trans7 Bimbing Santri & Mahasiswa Cipta Konten Digital
Job Fair Ciamis 2026: Ribuan Peserta Berharap Pekerjaan
Menteri Keuangan: Rupiah Melemah, Tetap Kelola Nilai
Semampir: Mobil Baleno, 8 Jeriken Pertalite Ditemukan
