Bekasi: Wanita 35 Gagal Ginjal Stadium 5 karena Hipertensi
Gambar atau konten salah?
Sema Chintya, seorang wanita yang tinggal di Bekasi, baru saja menerima diagnosis gagal ginjal stadium 5 pada tahun 2024. Ia terkejut, karena selama ini ia hanya menganggap minum air putih cukup untuk menjaga kesehatan. “Rasanya itu kepalaku sakit banget, aku memang ketahuan hipertensi di usia 25 pas lagi hamil, tapi memang aku tuh nggak pernah minum obat, dulu edukasi hipertensi juga jarang,” ungkap Sema di TikTok.
Sejak usia 25, Sema sudah diketahui memiliki hipertensi. Namun ia tidak pernah rutin minum obat, sehingga tekanan darahnya terus naik. Sebelum diagnosis gagal ginjal, tekanan darahnya mencapai 193/129 mm Hg, angka yang sangat tinggi. Akibatnya, fungsi ginjalnya menurun drastis. Dua tahun sebelum diagnosis, pemeriksaan kesehatan lengkap di fasilitas kesehatan menunjukkan fungsi ginjal hanya tersisa 47 %.
Perubahan fisik mulai terlihat tujuh bulan sebelum diagnosis. Sema merasakan kantung mata yang tidak kunjung hilang. “Muka bengep sudah kelihatan lebih dari 7 bulan, tapi gejala parahnya gagal ginjal baru dirasakan satu bulan sebelumnya dan satu minggu sebelum divonis gagal ginjal,” jelasnya. Selain kantung mata, ia juga mengalami banyak lebam di tubuh, penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan tanpa sebab. Wajahnya pucat, sering mual, dan muntah. Semua gejala ini akhirnya dihubungkan dengan kerusakan ginjal.
Menurut dokter penyakit dalam, penumpukan cairan di wajah, atau edema, adalah tanda khas orang yang mengalami gagal ginjal. “Muka aku khas orang kena ginjal,” kata Sema. Ia menyesali tidak mengontrol hipertensinya sejak usia 25. “Kebiasaan yang menurut aku dampaknya juga nyata banget ke tubuh itu, menghiraukan sakit kepala, overthinking dan stres,” tambahnya.
Penelitian dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases menjelaskan bahwa tekanan darah tinggi dapat menyempitkan pembuluh darah. Penyempitan ini merusak dan melemahkan pembuluh darah di seluruh tubuh, termasuk di ginjal. Jika pembuluh darah ginjal rusak, ginjal tidak dapat membuang limbah dan cairan berlebih. Kelebihan cairan di dalam tubuh kemudian meningkatkan tekanan darah, menciptakan siklus berbahaya yang memperparah kerusakan ginjal.
Di Amerika Serikat, hampir 1 dari 2 orang dewasa—sekitar 108 juta orang—mengalami hipertensi. Lebih dari 1 dari 7 orang dewasa—sekitar 37 juta orang—diperkirakan mengalami penyakit ginjal kronis. Hipertensi menjadi penyebab gagal ginjal terbesar kedua di negara tersebut, setelah diabetes.
Kasus Sema menyoroti pentingnya pengawasan tekanan darah dan perawatan hipertensi sejak dini. Terkadang, gejala seperti kantung mata atau penurunan berat badan dapat menjadi tanda awal kerusakan ginjal. Pemeriksaan rutin dan pengobatan yang tepat dapat mencegah komplikasi serius, termasuk gagal ginjal stadium 5.
Dalam konteks ini, Sema menjadi contoh nyata bahwa gaya hidup sehat tidak hanya tentang minum air putih. Pengawasan medis, pengobatan hipertensi, dan perhatian terhadap perubahan fisik dapat menjadi kunci untuk mencegah penyakit ginjal yang berakibat fatal.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Genetika Baru Terobosan Penyakit Kanker di Indonesia
BGN Hentikan MBG Gratis Selama Liburan Sekolah 2026
BGN Refokus Dana, Hilangkan MBG di 76 Sekolah Indonesia
Tiga Penis Ditemukan di Cadaver 78 Tahun di Inggris
Brawijaya Buka Pusat Sel Punca, Terapi Tanpa Operasi
Daveigh Chase, Bintang Lilo & The Ring, Meninggal Usia 35
Berita Terbaru
Sholat Lima Waktu: Ibadah Pokok Harus Dipenuhi Muslim
Denpasar Diberi Jadwal Salat Minggu 19 Juni 2026 Tiap Hari
Jawa Timur 19 Juni: Cuaca Beragam, Waspada Hujan Lebat
Ceko-Afrikas Selatan Imbang 1-1 di Piala Dunia 2026
32 KK Longsor Cisarua Masih Kontrakan, Bantu Sewa Rp172,8 Jt
Pelita Jaya Siap Hadapi Bogor Hornbills di Final IBL 2026
Jadwal Sholat Jumat 19/06/2026 di Jawa Timur: 38 Kabupaten
Neymar Kembali Latih Brasil, Siap Piala Dunia 2026
AHY Soroti Kesenjangan Wilayah di Kuliah UMUM IPDN Sumedang
Kubo Cedera Lutut, Timnas Jepang Imbang 2-2 di Dallas