Benda Cerah di Lampung: Sampah Antariksa, Bukan Rudal Iran

Nurul H. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 118 dibaca
Bisik.id
Benda Cerah di Lampung: Sampah Antariksa, Bukan Rudal Iran

Gambar atau konten salah?

Di langit Lampung, sebuah benda bercahaya melintasi cakrawala. Video yang diunggah ke media sosial segera menjadi viral, menimbulkan komentar beragam dari netizen. Salah satu komentar menuduhnya sebagai “rudal Iran.” “Rudal Iran,” kata netizen di kolom komentar sebuah akun Instagram yang memuat video tersebut. “Apa itu?” bertanya yang lain penasaran.

Benda tersebut tampak bersinar terang, meninggalkan jejak panjang di langit. Melalui video, cahaya itu memecah menjadi serpihan-serpihan beberapa kali. Meski terlihat seperti rudal, penjelasan ilmiah menunjukkan sebaliknya.

Profesor Astronomi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa objek itu adalah sampah antariksa bekas roket Tiongkok CZ‑3B. “Masyarakat sekitar Lampung dan Banten dihebohkan dengan objek terang yg meluncur di langit dan tampak terpecah menjadi beberapa bagian. Itu adalah pecahan sampah antariksa,” ujarnya.

Informasi terbaru dari Space‑Track dan analisis orbit menunjukkan roket tersebut meluncur dari arah India menuju Samudera Hindia di pantai barat Sumatera. Sekitar pukul 19:56 WIB, ketinggiannya turun di bawah 120 km. Objek tersebut memasuki atmosfer padat, terus meluncur terbakar dan pecah. Itulah yang disaksikan warga sekitar Lampung dan Banten, kata Djamal.

Oleh karena itu, benda bercahaya di langit Lampung bukan rudal, melainkan sampah antariksa. Djamal menambahkan bahwa fenomena jatuhnya sampah antariksa sebenarnya tidak langka secara global, namun kejadian yang dapat disaksikan langsung di wilayah Indonesia tergolong jarang. Peristiwa serupa terakhir kali terjadi pada tahun 2022, ketika objek serupa terlihat di Lampung juga dan jatuh di wilayah Sanggau, Kalimantan Barat.

Menurut Djamal, fenomena ini pada umumnya tidak membahayakan masyarakat. Sebagian besar sampah antariksa akan habis terbakar di atmosfer sebelum mencapai permukaan Bumi. Risiko hanya muncul jika ada bagian yang tidak terbakar sempurna dan jatuh di area permukiman, namun hingga saat ini belum pernah terjadi di mana pun di dunia.

Ia menjelaskan bahwa penyebab utama sampah antariksa jatuh ke Bumi adalah hambatan udara pada orbit rendah. Bekas roket atau satelit yang sudah tidak aktif akan mengalami perlambatan akibat interaksi dengan atmosfer, sehingga ketinggiannya terus menurun hingga akhirnya masuk ke lapisan atmosfer padat dan terbakar.

Terakhir, Djamal mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik apabila melihat fenomena serupa di masa mendatang. Fenomena ini merupakan bagian dari dinamika aktivitas antariksa global yang dapat diamati secara ilmiah, sekaligus menjadi momentum untuk meningkatkan literasi publik terkait sains dan keantariksaan.

Peristiwa ini mengingatkan bahwa langit yang tampak damai seringkali menyimpan cerita tersembunyi. Bagi warga Lampung, kejadian ini bukan sekadar tontonan, melainkan pelajaran tentang bagaimana teknologi luar angkasa memengaruhi bumi. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat dapat menanggapi kejadian semacam ini tanpa rasa takut, melainkan dengan rasa ingin tahu dan pengetahuan yang lebih.

Lampungsampah antariksarudal Iranroket Tiongkok CZ-3BBRINSpace-Trackliterasi publik

Komentar

Memuat komentar...