BI dan Kemenkeu Koordinasi Tegaskan Langkah Stabilkan Rupiah

Sari D. · 3 min baca · 59 menit lalu · 30 dibaca
Bisik.id
BI dan Kemenkeu Koordinasi Tegaskan Langkah Stabilkan Rupiah

Gambar atau konten salah?

Pada Sabtu, 6 Juni 2025, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengadakan pertemuan penting. Perwakilan yang hadir adalah Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Tujuan rapat ini adalah menegaskan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter dianggap kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam pertemuan tersebut, para pejabat menegaskan komitmen mereka untuk terus memperkuat sinergi antara kedua otoritas.

"Penguatan koordinasi fiskal-moneter itu terus kita lakukan dan saat ini adalah memang difokuskan, bagaimana fiskal dan moneter seirama, saling mendukung, saling memperkuat, dengan kewenangan masing-masing untuk memperkuat upaya-upaya bersama melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah," ungkap Perry dalam keterangan persnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu, 6 Juni 2025.

Dua langkah utama disepakati dalam rapat tersebut. Pertama, meningkatkan daya tarik imbal hasil bagi investor asing agar arus dana masuk. Kedua, menjaga kecukupan likuiditas pasar keuangan dan perbankan melalui pengelolaan kas pemerintah di BI.

"Dengan kenaikan bunga luar negeri, memang itu ada outflow, ada saham dan SBN dan juga kecil di SRBI. Oleh karena itu fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflows ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," terangnya.

"Menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan dengan cara pengelolaan kas pemerintah tetap di BI, tapi tentu saja ada peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan BI kepada pemerintah. Dengan demikian operasi moneter itu tetap berjalan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, sementara operasi fiskalnya juga mendukung," jelasnya.

Purbaya menyoroti dampak kebijakan pada sektor mikro. Ia menyatakan bahwa pelemahan rupiah sudah terasa di kalangan pedagang dan produsen tahu-tempe. Menurutnya, kenaikan biaya produksi akibat impor bahan baku membuat mereka terpaksa menaikkan harga jual.

"Dengan nanti kebijakan lebih bagus itu, kita akan melihat rupiah yang lebih stabil sehingga para pedagang tahu, tempe, dan ibu-ibu rumah tangga juga bisa merasakan harga yang lebih baik, dan tidak terbebani lagi, beban hidupnya secara, tidak mengalami kenaikan beban hidup yang terlalu signifikan," jelasnya.

Purbaya menegaskan bahwa fundamental ekonomi domestik dalam keadaan sangat baik. Ia menekankan pentingnya koordinasi yang lebih erat dengan BI agar kebijakan fiskal dan moneter sejalan, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap rupiah.

"Kita akan mendukung Bank Sentral memperkuat koordinasi supaya kebijakan semakin sinkron, supaya dampak kebijakan antara moneter dan fiskal lebih signifikan ke perekonomian. Dan tentunya kalau kebijakannya sudah menyatu seperti itu, sinergi penuh, itu harusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar ke nilai rupiah, sehingga rupiah akan meningkat secara signifikan," pungkasnya.

Pada Jumat, 5 Juni 2025, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menembus Rp 18.036 per dolar, menandakan tekanan lemah pada mata uang. Purbaya mengaitkan penurunan ini dengan dampak pada harga barang konsumen, khususnya produk tahu-tempe.

Dengan dua langkah strategis tersebut, BI dan Kemenkeu berharap dapat menstabilkan nilai tukar, menjaga likuiditas, serta meningkatkan daya tarik investasi asing. Langkah ini diharapkan juga akan menurunkan biaya pinjaman bagi pemerintah dan menambah kepercayaan pasar.

Secara keseluruhan, pertemuan ini menegaskan komitmen kedua otoritas untuk bekerja bersama. Koordinasi yang lebih erat diharapkan dapat menstabilkan rupiah, mendukung pertumbuhan ekonomi, dan mengembalikan kepercayaan investor. Dengan demikian, kebijakan fiskal dan moneter yang sinkron diharapkan memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional.

Bank IndonesiaKemenkeunilai tukar rupiahkoordinasi fiskal-moneterlikuiditas pasarinvestasi asing

Komentar

Memuat komentar...