BMKG Prediksi Kemarau Awal 2026 Lebih Panjang di Jawa Timur
Gambar atau konten salah?
BMKG mengumumkan bahwa musim kemarau di Jawa Timur pada tahun 2026 diperkirakan akan datang lebih awal, lebih kering, dan lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Data ini didapat dari akun Instagram resmi @jatimpemprov, yang menyoroti pergeseran nyata dalam pola curah hujan.
Menurut lembaga tersebut, curah hujan selama musim kemarau 2026 diprediksi akan berada di bawah rata‑rata di sebagian besar wilayah Jawa Timur. Akibatnya, hujan akan semakin jarang, tanah menjadi lebih kering, dan sumber air akan semakin berkurang. Kondisi ini menimbulkan risiko krisis air bagi petani dan masyarakat yang bergantung pada irigasi.
Faktor utama yang memicu kemarau datang lebih cepat dijelaskan oleh BMKG. Pertama, melemahnya fenomena La Nina sejak Februari 2026. La Nina biasanya membawa curah hujan tinggi, namun penurunan intensitasnya membuat wilayah Jawa Timur tidak menerima hujan yang cukup. Kedua, datangnya Angin Monsun Australia lebih awal. Angin ini membawa udara kering dan menggantikan Monsun Asia lebih cepat dari biasanya, sehingga periode kering menjadi lebih lama.
Juli hingga September 2026 diprediksi sebagai periode puncak kemarau. Juanda Taufiq Hermawan, kepala BMKG, menjelaskan bahwa puncak musim kemarau akan terjadi pada periode tersebut. Ia menyatakan, “Sebagian besar hampir 70% wilayah di Jawa Timur itu puncak musim kemaraunya ada di bulan Agustus,”. Secara keseluruhan, sekitar 71,6% wilayah Jawa Timur diprediksi mengalami puncak kemarau pada Agustus. Sementara itu, sekitar 56,9% wilayah diperkirakan sudah mulai memasuki musim kemarau sejak Mei 2026, dengan beberapa daerah bahkan lebih dulu mengalaminya pada April.
Untuk memantau perkembangan kemarau, BMKG menggunakan hitungan dasarian, yaitu periode 10 hari. Berikut daftar wilayah Jawa Timur yang masuk kemarau pada setiap dasarian bulan April 2026:
- Dasarian I (1‑10 April 2026)
- Bangkalan: Tanjung Bumi
- Banyuwangi: Kalipuro
- Jember: Ambulu, Balung, Puger, Tempurejo, Wuluhan, Gumukmas, Jombang, Kencong, Umbulsari
- Sampang: Banyuates, Ketapang
- Situbondo: Asembagus, Banyuputih, Jangkar, Banyuglugur, Besuki, Jatibanteng, Mlandingan, Suboh, Bungatan, Kapongan, Kendit, Mangaran, Panarukan, Panji, Situbondo
- Probolinggo: Besuk, Dringu, Gending, Kraksaan, Krejengan, Pajarakan, Sumberasih, Kotaanyar, Paiton, Pakuniran
- Kota Probolinggo: Kademangan, Kanigaran, Kedopok, Mayangan, Wonoasih
- Dasarian II (11‑20 April 2026)
- Bangkalan: Arosbaya, Geger, Klampis, Kokop, Sepulu
- Banyuwangi: Banyuwangi, Blimbingsari, Giri, Glagah, Kabat, Rogojampi, Singojuruh, Bangorejo, Cluring, Gambiran, Muncar, Pesanggaran, Purwoharjo, Siliragung, Srono, Tegaldlimo, Tegalsari
- Bojonegoro: Balen, Baureno, Kanor, Kepohbaru, Sumberrejo
- Lamongan: Babat, Karanggeneng, Kedungpring, Laren, Maduran, Modo, Sekaran
- Lumajang: Kunir, Lumajang, Rowokangkung, Sumbersuko, Tekung, Tempeh, Yosowilangun
- Tuban: Bancar, Jatirogo, Kenduruan, Tambakboyo, Palang, Plumpang, Rengel, Widang
- Sumenep: Batang, Batuan, Dungkek, Gapura, Gayam, Giliginting, Kalianget, Kota Sumenep, Manding, Nonggunong, Ra’as, Saronggi, Talango
- Pasuruan: Gondang Wetan, Grati, Kraton, Lekok, Nguling, Pohjentrek, Rejoso, Winongan
- Kota Pasuruan: Bugul Kidul, Gadingrejo, Panggungrejo, Purworejo
- Probolinggo: Tongas
- Dasarian III (21‑30 April 2026)
- Blitar: Binangun, Kesamben, Selopuro, Wates
- Bojonegoro: Bojonegoro, Dander, Gayam, Kalitidu, Kapas, Kasiman, Kedewan, Malo, Margomulyo, Ngasem, Ngraho, Padangan, Purwosari, Tambakrejo, Trucuk
- Bondowoso: Botolinggo, Cerme, Klabang, Prajekan
- Gresik: Bungah, Duduksampeyan, Gresik, Manyar, Sidayu, Ujungpangkah
- Lamongan: Glagah
- Madiun: Dagangan, Dolopo, Geger, Kebonsari, Gemarang, Wungu
- Tuban: Bangilan, Grabagan, Jenu, Kerek, Merakurak, Montong, Semanding, Singgahan, Tuban, Parengan, Senori, Soko
- Sumenep: Bluto, Ganding, Guluk‑Guluk, Pragaan
- Situbondo: Arjasa
- Trenggalek: Panggul
- Ponorogo: Babadan, Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Jenangan, Jetis, Kauman, Mlarak, Ponorogo, Sambit, Sampung, Sawoo, Siman, Slahung, Sukorejo
- Sampang: Camplong, Kedungdung, Omben, Sampang, Torjun
- Nganjuk: Bagor, Baron, Berbek, Gondang, Jatikalen, Lengkong, Nganjuk, Patianrowo, Rejoso, Sukomoro, Tanjunganom, Wilangan
- Pacitan: Donorojo, Pringkuku, Punung, Kebonagung, Ngadirojo, Pacitan, Sudimoro, Tulakan
- Kota Madiun: Taman
- Magetan: Kawedanan, Lembeyan, Nguntoronadi, Parang, Takeran
- Malang: Bantur, Donomulyo, Kalipare, Pagak (irb/hil)
Daftar ini menunjukkan bahwa hampir semua wilayah di Jawa Timur sudah merasakan tekanan kemarau pada bulan April 2026. Perubahan ini diharapkan memicu penyesuaian kebijakan irigasi dan pengelolaan sumber daya air di daerah-daerah tersebut.
Dengan pergeseran pola hujan dan datangnya angin kering lebih awal, pemantauan BMKG menjadi penting bagi para petani, pemerintah daerah, dan masyarakat umum. Data ini memberi waktu bagi pihak berwenang untuk menyiapkan strategi mitigasi, seperti penyimpanan air, penggunaan teknologi irigasi yang lebih efisien, dan penyesuaian jadwal tanam.
Secara keseluruhan, prediksi ini menandai perubahan signifikan dalam iklim Jawa Timur. Puncak kemarau yang lebih panjang dan kering menempatkan wilayah ini pada situasi yang lebih menantang dibandingkan musim kemarau sebelumnya. Penerapan kebijakan adaptasi menjadi kunci untuk mengurangi dampak negatif pada produktivitas pertanian dan kesejahteraan masyarakat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bersihkan Karpet di Rumah dengan Cuka dan Baking Soda Efektif
1 Muharram 1448 H: Hari Libur Nasional 16 Juni 2026
Jalur Non Tes Rapor 2026 Unesa Buka Kembali, 1.800 Kuota
BI Rate 5,5%: Dampak Suku Bunga Kredit Kendaraan di Indonesia
Swiss Juara Grup B Piala Dunia 2026, Fair Play Menentukan
Kunjungan DPR ke Tol Ciawi‑Sukabumi, Seksi 3 81% Pembangunan
Cuaca 14 Juni: Sebagian Jawa Tengah Hujan Ringan, Cerah
Probiotik: Manfaat, Gula, Risiko Minuman Fermentasi
Usia Messi 38 Tahun Tidak Menghalangi Argentina 2026
