Probiotik: Manfaat, Gula, Risiko Minuman Fermentasi

Nurul H. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Probiotik: Manfaat, Gula, Risiko Minuman Fermentasi

Gambar atau konten salah?

Ketika kata probiotik terdengar, kebanyakan orang langsung mengaitkannya dengan yogurt atau minuman susu fermentasi yang sering dipromosikan sebagai kunci kesehatan pencernaan. Namun, sejarah probiotik jauh lebih panjang daripada sekadar tren produk tinggi gula yang kini menjadi sorotan.

Manusia sudah memanfaatkan proses fermentasi sejak ribuan tahun lalu. Praktik sederhana ini, yang awalnya dimaksudkan untuk mengawetkan makanan, secara tidak sengaja membuka jalan bagi konsep penting dalam ilmu kesehatan modern.

Para peneliti memperkirakan bahwa fermentasi susu sudah berlangsung sekitar 7.000 hingga 10.000 tahun lalu. Di wilayah Asia Timur Tengah, Asia Barat, dan Asia Tengah, para penggembala menyimpan susu hasil perahan dalam kantong kulit hewan. Mikroorganisme alami yang menempel pada wadah dan kondisi lingkungan yang mendukung mulai mengubah susu menjadi produk lebih kental, asam, dan awet.

Walaupun manusia pada masa itu belum mengetahui keberadaan bakteri, mereka menyadari bahwa susu yang difermentasi memiliki rasa unik dan tahan lama. Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari budaya pangan di banyak negara.

Manfaat probiotik mulai dipahami secara ilmiah pada awal abad ke‑20 lewat penelitian Ilya Ilyich Mechnikov, seorang ilmuwan Ukraina yang dikenal juga sebagai Elie Metchnikoff. Metchnikoff bekerja di Pasteur Institute dan tertarik mempelajari tingginya angka harapan hidup masyarakat pedesaan di Bulgaria. Ia menemukan bahwa penduduk tersebut rutin mengonsumsi susu fermentasi.

Pengamatan tersebut memicu Metchnikoff mengembangkan teori bahwa bakteri penghasil asam laktat dalam makanan fermentasi dapat menekan pertumbuhan mikroorganisme berbahaya di usus. Menurutnya, pembusukan di saluran cerna berkontribusi pada penuaan dan berbagai gangguan kesehatan. Pada tahun 1907, ia menerbitkan buku berjudul The Prolongation of Life yang mempopulerkan gagasan bahwa konsumsi bakteri menguntungkan dapat mendukung kesehatan dan umur panjang.

Meskipun konsep probiotik sudah ada sejak awal 1900‑an, istilah probiotik baru diperkenalkan beberapa dekade kemudian. Pada tahun 1965, peneliti Lilly dan Stillwell mempublikasikan istilah ini untuk menggambarkan zat yang dihasilkan mikroorganisme yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme lain. Kata probiotik berasal dari bahasa Yunani: pro (untuk) dan bios (kehidupan), sehingga secara sederhana berarti sesuatu yang mendukung kehidupan.

Seiring berkembangnya penelitian, makna probiotik berubah. Dari awal merujuk pada zat yang dihasilkan mikroorganisme, kini probiotik didefinisikan sebagai mikroorganisme hidup yang memberikan manfaat kesehatan ketika dikonsumsi dalam jumlah cukup. Definisi ini menjadi dasar bagi berbagai produk probiotik yang beredar saat ini.

Probiotik memasuki era komersial pada abad ke‑20. Pada tahun 1935, ilmuwan Jepang Minoru Shirota berhasil mengisolasi bakteri asam laktat Lactobacillus casei Shirota, yang mampu bertahan hidup di saluran cerna manusia. Penemuan ini menghasilkan salah satu produk susu fermentasi pertama yang dipasarkan secara luas, menandai awal industri probiotik modern yang kemudian menyebar ke berbagai negara.

Seiring meningkatnya minat terhadap kesehatan pencernaan, penelitian mengenai probiotik juga berkembang pesat. Berbagai produk yogurt dan minuman fermentasi diproduksi secara massal dengan kultur bakteri hidup yang dirancang untuk memberikan manfaat kesehatan. Pada akhir abad ke‑20, probiotik tidak lagi dianggap sekadar makanan fermentasi tradisional. Mereka menjadi bagian dari industri pangan fungsional yang didukung oleh penelitian ilmiah dan terus berkembang hingga saat ini.

Lebih dari satu abad setelah Metchnikoff memperkenalkan gagasannya, para ilmuwan kini mengetahui bahwa tubuh manusia dihuni oleh triliunan mikroorganisme yang membentuk ekosistem kompleks bernama mikrobiota. Penelitian modern menunjukkan bahwa mikrobiota usus tidak hanya berperan dalam pencernaan, tetapi juga terlibat dalam sistem kekebalan tubuh, metabolisme, dan komunikasi antara usus dan otak.

Perkembangan teknologi analisis genetik memungkinkan peneliti mempelajari hubungan manusia dan mikroorganisme dengan tingkat detail yang belum pernah dicapai sebelumnya. Dari sini lahir berbagai penelitian baru mengenai probiotik dan perannya dalam menjaga keseimbangan mikrobiota usus.

Di sisi lain, komersialisasi probiotik menuntut agar produk bisa diterima dengan baik oleh konsumen. Gula yang awalnya ditambahkan untuk mendukung proses fermentasi kini memiliki fungsi lain yakni memperbaiki cita rasa. “Ada produk minuman susu fermentasi yang mendapat penambahan gula pasca proses fermentasi untuk menyeimbangkan rasa asam yang dihasilkan,” kata Guru Besar Mikrobiologi Universitas Indonesia, Prof Dra Wellyzar Sjamsuridzal, M.Sc, PhD, dalam sebuah interview.

Dilema muncul ketika gula tambahan membawa risiko lain bagi kesehatan. Data menunjukkan, prevalensi kasus diabetes mengalami tren pergeseran dari yang semula didominasi kelompok usia lanjut, kini mulai banyak diidap usia lebih muda. “Meningkatkan risiko sih. Kita ada penelitiannya, konsumsi minuman‑minuman manis itu meningkatkan risiko diabetes,” kata konsultan endokrin, metabolik, dan diabetes, dr Dicky Levenus Tahapary, SpPD‑KEMD, kepada 11 Juni 2026.

Proses fermentasi dalam berbagai produk probiotik memang membutuhkan gula. Namun, tidak semua gula yang ada dalam produk probiotik benar-benar dibutuhkan oleh bakteri. Beberapa gula ditambahkan semata‑mata untuk memperbaiki cita rasa, sementara yang lain memang diperlukan agar bakteri dapat tumbuh dan berfungsi di usus.

Seiring waktu, pengetahuan tentang probiotik terus berkembang. Dari fermentasi sederhana di masa lalu hingga penelitian modern tentang mikrobiota, konsep ini telah berubah dan berkembang. Namun, inti dari probiotik tetap sama: mikroorganisme hidup yang memberikan manfaat kesehatan ketika dikonsumsi dalam jumlah cukup.

Dengan pemahaman ini, konsumen dapat lebih bijak memilih produk probiotik, memperhatikan kandungan gula, dan memahami manfaat serta risiko yang terkait. Probiotik tetap menjadi bagian penting dari pola makan modern, namun tetap perlu dipertimbangkan dalam konteks kesehatan pribadi dan kebutuhan nutrisi.

probiotikfermentasi susubakteri asam laktatmikrobiota ususkesehatan pencernaanindustri pangan fungsionalgula tambahan

Komentar

Memuat komentar...