BMKG: Sesar Kendeng Bojonegoro Tidak Menimbulkan Gempa Besar
Gambar atau konten salah?
Sesar Kendeng di Bojonegoro menjadi topik hangat di Threads, khususnya akun @hsuliz2021. Akun tersebut mengklaim bahwa sesar tersebut berpotensi memicu gempa di daratan dengan Magnitudo 7.
Menurut Ricko Kardoso, S.Tr, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, tidak ada anomali tekanan di sesar Bojonegoro. “Kami terus memonitor, hingga saat ini masih dalam kondisi normal dan tidak ada lonjakan aktivitas seismik di Java Back-arc Thrust (JBT),” ujarnya pada 19 Juni 2026.
Ricko menjelaskan metode BMKG dalam memantau gempa. “BMKG melakukan pengamatan gempa bumi dengan metode geofisika (seismologi) dengan menggunakan pendekatan geofisika untuk memonitor aktivitas gempa bumi, mendeteksi dengan seismometer dan menganalisis lokasi, kekuatan, kedalaman dan sumber kegempaannya,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa wilayah Jawa Timur dan sekitarnya terus diawasi setiap harinya. “Setiap hari Jumat kami selalu mendiseminasikan hasil monitoring kami selama seminggu terakhir di media sosial kami. Sejauh ini aktivitasnya normal,” tambahnya.
Ricko menegaskan bahwa Sesar Kendeng memang ada di beberapa wilayah Jawa Timur, termasuk Kabupaten Bojonegoro. Sesar ini melintang sejauh 300 kilometer di Pulau Jawa. “Zona Sesar Kendeng melintang sepanjang kurang lebih 300 Kilometer di bagian Utara Pulau Jawa, membentang dari selatan Semarang Jawa Tengah hingga ke wilayah Jawa Timur,” terangnya. Ia memecahnya menjadi enam segmen utama: Segmen Demak, Segmen Purwodadi, Segmen Cepu, Segmen Blumbang (melintasi Lamongan), Segmen Surabaya (melintasi jantung Kota Surabaya), dan Segmen Waru (melintasi Sidoarjo). Secara administratif, jalurnya meliputi Salatiga, Grobogan, Blora, Madiun, Nganjuk, Jombang, Bojonegoro, Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo, hingga Kota Surabaya.
Dalam sejarah, Ricko menyinggung aktivitas sesar terakhir yang cukup parah pada tahun 1915. Ia menekankan bahwa Sesar Kendeng bergerak lambat, sekitar 5 milimeter per tahun, dan memiliki periode ulang gempa yang panjang. “Sesar Kendeng adalah sesar dengan pergerakan lambat, sekitar 5 milimeter per tahun dan memiliki periode ulang gempa yang cukup panjang. Karena itu, gempa besar merusak atau destructive earthquake akibat sesar ini sebagian besar tercatat dalam sejarah masa lalu,” jelasnya.
Ia memaparkan beberapa gempa besar yang terjadi akibat sesar tersebut. Pada tahun 1836 dan 1837, gempa merusak wilayah Mojokerto dan Ploso Jombang dengan estimasi kekuatan Magnitudo 6 hingga 7 bila dikonversi ke skala modern. Selanjutnya, gempa pada tahun 1862 dan 1915 merusak wilayah Madiun, dan pada tahun 1867 gempa kuat merusak Surabaya.
Ricko juga menginformasikan kondisi sesar dalam beberapa tahun terakhir. “Dalam beberapa tahun terakhir, kami mendeteksi adanya aktivitas seismik berupa gempa-gempa dangkal berskala kecil hingga menengah dengan Magnitudo 4 sampai 5 di sepanjang jalur sesar ini,” katanya.
Di media sosial Threads, akun @hsuliz2021 menyoroti gempa Palu dengan magnitudo 6,7 yang mungkin memicu gempa di daerah lain, termasuk Bojonegoro. Akun tersebut meminta warga di Bojonegoro, Pandeglang, Padang Pariaman, dan Simeulue Aceh untuk meningkatkan kewaspadaan. “Dari kejadian gempa Kota Palu 6,7 mag hari ini, mohon teman di Bojonegoro Jatim, Pandeglang Banten, Padang Pariaman, Simeulue Aceh, waspada bisa muncul gempa skala 6-7. Ada gempa sesar darat yang lebih sulit diprediksi,” tulisnya. Ia juga menyebut tekanan lempeng bumi telah mencapai angka tertentu: “Data tekanan lempeng bumi udah 1.200 bar, yang tertinggi masih Selat Sunda bisa 1.350 bar, arti bisa ada gempa skala 6-7-8.”
Dr. Ir. Amien Widodo, Pakar Geologi ITS sekaligus peneliti senior Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS, menanggapi pernyataan tersebut. Ia menjelaskan bahwa posisi Palu sangat jauh dari Pulau Jawa. “Posisi Palu sangat jauh dari Pulau Jawa. Selain itu, arah pergerakan sesar di wilayah tersebut tidak berada dalam satu garis lurus dengan Jawa,” jelas Amien. Ia menambahkan bahwa gempa Palu berada di kawasan Sesar Palu-Koro dan bergerak menuju barat laut, menjauh dari Jawa. “Sesar Kendeng misalnya tadi. Nah, Sesar Kendeng itu kemungkinan yang mempengaruhi adalah megathrust yang ada di Selatan Jawa kemungkinan. Karena dia didorong dari Selatan begitu,” tambahnya.
Dengan data dan analisis yang ada, situasi di Bojonegoro dan sekitarnya tetap dipantau secara intensif. Aktivitas seismik yang terdeteksi masih berada pada tingkat normal, namun potensi gempa besar tetap menjadi perhatian. Pemantauan berkelanjutan dan kesadaran masyarakat menjadi kunci untuk menghadapi kemungkinan kejadian gempa di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BMKG: Gempa Magnitudo 7 di Sesar Kendeng Bukan Peringatan
Rumor Erupsi Gunung Lawu 7 Tidak Terdukung Data BMKG
BMKG Monitor 24 Jam, Sosialisasi Gempa di Bojonegoro
Gunung Semeru Erupsi, APG 4,5 km: Peringatan BPBD Warga
Malang Pakai Jersey Jumat Piala Dunia, Dukung UMKM Ekonomi
Gempa Kecil 4-5 M di Sesar Kendeng, BMKG: Tenang Ya Warga Siap
Berita Terbaru
