Debit Sungai Cikeruh Menyusut, Petani Cemas

Wati N. · 2 min baca · 1 jam lalu · 4 dibaca
Bisik.id
Debit Sungai Cikeruh Menyusut, Petani Cemas

Gambar atau konten salah?

Musim kemarau mulai terasa dampaknya di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Salah satu tanda yang paling jelas terlihat adalah menyusutnya debit air Sungai Cikeruh di Kecamatan Cileunyi. Kondisi ini menjadi bukti nyata bagaimana cuaca kering yang berkepanjangan mengubah pemandangan sehari-hari.

Pada Selasa, 14 Juli 2026, pemantauan di pintu air Sungai Cikeruh yang berlokasi di Kampung Sukarame, Desa Cileunyi Kulon, memperlihatkan volume air yang menurun drastis. Sedimentasi tanah di dasar sungai mulai muncul ke permukaan. Tidak hanya itu, tumpukan sampah juga terlihat menggunung di sekitar pintu air. Air yang menggenang di dekat pintu sungai mengeluarkan bau tidak sedap karena alirannya terhenti.

Meskipun air belum sepenuhnya hilang, hampir setengah aliran sungai kini tertutup oleh sedimentasi lumpur. Warga setempat tidak tinggal diam. Para petani padi dan palawija memanfaatkan sisa aliran air yang ada untuk mengairi sawah dan kebun mereka. Di bagian lain sungai yang sudah benar-benar kering, peternak bebek justru menggunakannya sebagai tempat penggembalaan.

Nurdin, seorang petani di kawasan tersebut, mengaku merasa cemas dengan kondisi ini. Ia khawatir jika aliran sungai terus menyusut hingga benar-benar kering. "Deg-degan, takut mengering, kalau sekarang masih ada," katanya. Kekhawatiran Nurdin beralasan. Padi miliknya baru berusia empat minggu dan sangat membutuhkan air. "Sebulanan, masih butuh-butuhnya air, semoga kemaraunya segera selesai dan cepat turun hujan," tambahnya.

Sementara itu, Dina (45), warga setempat, memiliki pandangan berbeda. Ia menilai bahwa kondisi ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi pihak berwenang. Menurutnya, BBWS Citarum perlu melakukan pengerukan sedimentasi di sungai tersebut. "Harusnya lumpur di sungai ini dikeruk BBWS, supaya pas musim hujan, aliran sungai kosong, dan aliran airnya lancar," ujar Dina. Ia menambahkan bahwa saat musim hujan, air tidak tertampung oleh sungai, sementara di musim kemarau, airnya menyusut. "Harapan saya ya seharusnya lumpurnya dikeruk aja, biar nggak banjir," pungkasnya.

Kondisi Sungai Cikeruh ini menggambarkan siklus yang kontras: di musim hujan, sungai tidak mampu menampung debit air sehingga menyebabkan banjir, sementara di musim kemarau, airnya menyusut drastis. Pengerukan sedimentasi menjadi solusi yang diharapkan warga untuk mengatasi kedua masalah tersebut sekaligus.

musim kemaraudebit air sungaisedimentasipengerukanpetaniSungai Cikeruhbanjir

Komentar

Memuat komentar...