Debit Sungai Cikeruh Menyusut, Petani Cemas
Gambar atau konten salah?
Musim kemarau mulai terasa dampaknya di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Salah satu tanda yang paling jelas terlihat adalah menyusutnya debit air Sungai Cikeruh di Kecamatan Cileunyi. Kondisi ini menjadi bukti nyata bagaimana cuaca kering yang berkepanjangan mengubah pemandangan sehari-hari.
Pada Selasa, 14 Juli 2026, pemantauan di pintu air Sungai Cikeruh yang berlokasi di Kampung Sukarame, Desa Cileunyi Kulon, memperlihatkan volume air yang menurun drastis. Sedimentasi tanah di dasar sungai mulai muncul ke permukaan. Tidak hanya itu, tumpukan sampah juga terlihat menggunung di sekitar pintu air. Air yang menggenang di dekat pintu sungai mengeluarkan bau tidak sedap karena alirannya terhenti.
Meskipun air belum sepenuhnya hilang, hampir setengah aliran sungai kini tertutup oleh sedimentasi lumpur. Warga setempat tidak tinggal diam. Para petani padi dan palawija memanfaatkan sisa aliran air yang ada untuk mengairi sawah dan kebun mereka. Di bagian lain sungai yang sudah benar-benar kering, peternak bebek justru menggunakannya sebagai tempat penggembalaan.
Nurdin, seorang petani di kawasan tersebut, mengaku merasa cemas dengan kondisi ini. Ia khawatir jika aliran sungai terus menyusut hingga benar-benar kering. "Deg-degan, takut mengering, kalau sekarang masih ada," katanya. Kekhawatiran Nurdin beralasan. Padi miliknya baru berusia empat minggu dan sangat membutuhkan air. "Sebulanan, masih butuh-butuhnya air, semoga kemaraunya segera selesai dan cepat turun hujan," tambahnya.
Sementara itu, Dina (45), warga setempat, memiliki pandangan berbeda. Ia menilai bahwa kondisi ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi pihak berwenang. Menurutnya, BBWS Citarum perlu melakukan pengerukan sedimentasi di sungai tersebut. "Harusnya lumpur di sungai ini dikeruk BBWS, supaya pas musim hujan, aliran sungai kosong, dan aliran airnya lancar," ujar Dina. Ia menambahkan bahwa saat musim hujan, air tidak tertampung oleh sungai, sementara di musim kemarau, airnya menyusut. "Harapan saya ya seharusnya lumpurnya dikeruk aja, biar nggak banjir," pungkasnya.
Kondisi Sungai Cikeruh ini menggambarkan siklus yang kontras: di musim hujan, sungai tidak mampu menampung debit air sehingga menyebabkan banjir, sementara di musim kemarau, airnya menyusut drastis. Pengerukan sedimentasi menjadi solusi yang diharapkan warga untuk mengatasi kedua masalah tersebut sekaligus.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
