Dua Pasar Unik Ini Ubah Uang Jadi Koin Bambu

Wulan M. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Dua Pasar Unik Ini Ubah Uang Jadi Koin Bambu

Gambar atau konten salah?

Bosan dengan suasana mal yang itu-itu saja dan polusi kota yang mencekik? Coba luangkan waktu untuk menyusuri kawasan Bandung dan Cimahi. Di sana, ada sebuah tempat yang terasa seperti mesin waktu, menghadirkan pengalaman pasar tradisional Sunda yang autentik. Bukan sekadar tempat jual-beli biasa, tempat ini menawarkan sensasi berburu kuliner sambil menikmati suasana yang benar-benar berbeda.

Pasar-pasar ini dirancang sebagai ruang terbuka hijau yang menyatu dengan alam. Bayangkan, lapak-lapak terbuat dari bambu yang sederhana, para pedagang yang dengan anggunnya mengenakan pakaian adat Sunda, dan ada komitmen kuat untuk bebas dari plastik. Semua elemen ini membawa pengunjung kembali ke suasana Tatar Sunda di masa lampau.

Yang paling unik, uang kertas tidak berlaku di sini. Pengunjung harus menukarkan uang mereka dengan koin khusus yang terbuat dari bambu atau kayu. Koin-koin ini menjadi alat transaksi yang sah di area pasar. Bagi warga Jawa Barat dan juga mereka yang berasal dari Jabodetabek yang rindu akan udara sejuk serta suara gemerisik daun bambu, dua destinasi wisata kuliner jadul ini layak masuk dalam daftar tempat untuk dikunjungi.

1. Pasar Awi Campernik, Cimahi

Alamat tempat ini berada di Kawasan Ekowisata Cipageran, Jl. Terobosan, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi. Pasar ini hanya beroperasi pada hari Minggu, tepatnya di minggu pertama dan ketiga setiap bulan. Jam bukanya dari pukul 07.00 hingga 13.30 WIB.

Sesuai dengan namanya, 'Awi' yang berarti bambu dan 'Campernik' yang berarti kecil dan unik, pasar ini tersembunyi di tengah rimbunnya hutan bambu yang teduh di sudut Cimahi. Begitu melangkah masuk, pengunjung akan langsung disambut oleh semilir angin sejuk dan aroma panggangan tradisional yang menggoda.

Semua makanan yang dijajakan oleh para pelaku UMKM lokal dijamin organik. Makanan-makanan tersebut bebas dari pengawet, tidak menggunakan pewarna kimia, dan juga menjauhi penggunaan penyedap rasa yang berlebihan. Pengunjung bisa memanjakan lidah dengan surabi oncom yang gurih, atau mencoba es goyobod yang kenyal dan terbuat dari tepung aci secara alami.

Menurut situs resmi pariwisata setempat, tidak ada tiket masuk yang diperlukan untuk menikmati keindahan hutan bambu ini. Namun, untuk bisa bertransaksi, pengunjung wajib menyambangi saung penukaran uang terlebih dahulu. Di sana, uang ditukar dengan koin bambu yang disebut 'Pernik'. Nilainya mudah dipahami: 5 pernik setara dengan Rp5.000, 10 pernik setara dengan Rp10.000, dan 20 pernik senilai Rp20.000. Setelah kantong penuh dengan koin, pengunjung bebas berburu camilan dan menikmatinya di atas bangku-bangku bambu yang tersedia di bawah kanopi hijau yang estetik.

2. Pasar Padaringan, Bandung

Alamat pasar ini berada di Bukit Mbah Garut, Jl. Cilengkrang 1, Cisurupan, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. Pasar ini juga hanya buka pada hari Minggu, di minggu pertama dan ketiga setiap bulan. Jam operasionalnya dari pukul 07.00 hingga 12.00 WIB.

Beralih ke arah Bandung Timur, ada Pasar Padaringan yang tak kalah memikat. Pasar ini bertengger di kawasan Bukit Mbah Garut yang udaranya bersih, menawarkan pelarian yang sempurna dari hiruk-pikuk pusat kota. Filosofi ramah lingkungan benar-benar dipegang teguh di sini. Tidak ada kantong plastik atau sterofoam yang digunakan.

Semua jajanan, mulai dari awug yang manis legit, leupuet, bandrek yang menghangatkan tubuh, hingga kue-kue basah tradisional, semuanya disajikan menggunakan wadah dari daun pisang atau anyaman bambu. Sama seperti pasar yang ada di Cimahi, akses masuk ke Pasar Padaringan ini gratis. Alat tukar utamanya adalah koin kayu atau bambu dengan pecahan nilai nominal 5, 10, dan 20 yang setara dengan nilai rupiah ribuan.

Pasar ini tidak sekadar menjadi tempat rekreasi. Lebih dari itu, pasar ini adalah ruang budaya yang interaktif. Perputaran ekonomi yang terjadi di sini kini menjadi napas baru bagi kesejahteraan warga lokal. Berdasarkan informasi dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat, pasar ini sering dikombinasikan dengan pertunjukan seni budaya Sunda secara langsung. Pertunjukan ini semakin memanjakan mata para pengunjung yang datang.

Kedua pasar tradisional ini menawarkan pengalaman yang berbeda dari pusat perbelanjaan modern. Dengan sistem koin bambu atau kayu sebagai alat transaksi, pengunjung diajak untuk lebih menghargai proses jual beli yang sederhana. Suasana hutan bambu yang teduh dan sejuk menjadi nilai tambah yang sulit ditemukan di tempat lain. Ini adalah bentuk wisata yang menggabungkan unsur kuliner, budaya, dan alam dalam satu kesempatan.

Pasar tradisionalBandungCimahikoin bambuwisata kulinerhutan bamburamah lingkungan

Komentar

Memuat komentar...