Dusun Kauman: Rumah Tua Kolonial Menjadi Saksi Sejarah Batik
Gambar atau konten salah?
Dusun Kauman, di Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, masih menampung rumah‑rumah tua bergaya Indis yang berasal dari masa kolonial Belanda. Bangunan‑bangunan ini, yang dibangun pada akhir abad ke‑19 hingga awal 1900, tetap kokoh dan menjadi saksi bisu sejarah industri batik serta perdagangan di wilayah pesisir selatan Sidoarjo.
Di antara rumah‑rumah bersejarah tersebut, Khaidir (58) tinggal di sebuah rumah yang didirikan pada 1913. Ia merupakan generasi kelima dari keluarga pemiliknya. Menurutnya, bangunan itu masih terjaga dengan baik dan hampir semua materialnya asli. “Rumah ini dibangun tahun 1913 dan sampai sekarang belum ada bagian yang diganti. Gentengnya masih asli, begitu juga rangka dan tiang‑tiang kayu jatinya,” ucapnya kepada media pada 07 Mei 2026.
Menurut Khaidir, dulu Dusun Kauman dikenal sebagai pusat batik terbesar di wilayah pesisir Sidoarjo. Hampir seluruh penduduk bergantung pada industri batik tulis dan kerajinan bade berbahan anyaman bambu. Ia mengingat cerita orang tua: “Dari cerita orang tua kami, dulu Kauman ini pusat batik pertama di Sidoarjo. Selain batik, warga juga banyak membuat bade dari bambu. Hampir semua warga punya usaha,” ujarnya. Namun, kejayaan itu perlahan memudar ketika batik printing mulai berkembang dan dipasarkan dengan harga lebih murah. Sejak 1997, hanya tersisa satu perajin batik yang masih bertahan di kampung tersebut. “Sekarang tinggal cerita saja ke generasi muda. Sudah tidak ada yang meneruskan usaha batik keluarga karena kalah dengan batik printing,” tambahnya.
Selain industri batik, Khaidir menyoroti tingkat kesejahteraan masyarakat Dusun Kauman pada masa lalu. Ia menegaskan bahwa listrik sudah tersedia di sekitar 1940, jauh sebelum banyak wilayah lain di Indonesia mendapat fasilitas serupa. “Dulu di sini sudah ada gardu listrik sendiri dari bata dan beton. Padahal saat itu masih zaman Belanda dan jarang ada desa yang sudah dialiri listrik,” katanya. Ia menilai keberadaan listrik itu tidak terlepas dari aktivitas perdagangan dan industri rumahan yang berkembang di kawasan tersebut.
Selain penduduk pribumi Jawa, Dusun Kauman juga menjadi tempat kedatangan pedagang keturunan Tionghoa dan Arab. Mereka berperan sebagai penyalur maupun pembeli hasil kerajinan warga. “Mereka datang untuk berdagang batik dan kerajinan. Hubungannya baik dengan warga sini,” ujar Khaidir.
Hal yang serupa dikemukakan oleh M. Alwi (58), generasi keempat dari salah satu keluarga pemilik rumah kuno di Dusun Kauman. Rumahnya dibangun pada 1903 dan sebagian besar bangunannya masih asli. “Kalau rumah saya, bagian bawahnya masih utuh dan belum pernah diubah sama sekali. Hanya atap yang pernah dibongkar karena bocor. Jendelanya juga masih asli,” kata Alwi. Ia menjelaskan bahwa jumlah rumah‑rumah peninggalan kolonial di Dusun Kauman dulunya sangat banyak. Namun, seiring waktu, sebagian bangunan mulai rusak atau berubah bentuk. “Sampai sekarang diperkirakan masih ada sekitar 60‑70 rumah kuno yang berdiri. Sekitar delapan rumah masih ditempati oleh keturunannya,” ujarnya.
Rumah‑rumah tersebut dibangun dalam rentang waktu berbeda, mulai akhir 1800‑an hingga awal 1900‑an. Beberapa di antaranya masih mempertahankan bentuk asli khas arsitektur Indis dengan jendela besar, dinding tebal, dan tiang kayu jati berukuran besar. Bagi warga setempat, rumah‑rumah kuno itu bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga saksi sejarah kejayaan industri batik dan perdagangan di kawasan pesisir selatan Sidoarjo.
Keberadaan rumah‑rumah kolonial ini memberi gambaran tentang bagaimana kehidupan di masa lalu di wilayah pesisir Sidoarjo. Mereka menunjukkan bagaimana industri batik tulis, kerajinan anyaman bambu, dan perdagangan lintas budaya berperan penting dalam membangun ekonomi lokal. Meskipun kini sebagian besar aktivitas tersebut telah digantikan oleh batik printing dan industri modern, warisan arsitektur dan cerita sejarah tetap hidup melalui rumah‑rumah tua yang masih berdiri kokoh di Dusun Kauman.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Gading Serpong: Pusat Kafe Favorit Warga BSD dan Tangerang
Indonesia vs Kamboja Imbang 0-0, Bertarung Ketiga AFF U-19
Pawai Pesta Kesenian Bali ke-48 di Renon, 13 Juni 2026
185 Posisi PPPK Tendik Sekolah Rakyat 2026 untuk SMA/SMK
Maroko Hadapi Brasil di Piala Dunia 2026: Titik Awal Baru
Sabar & Reza Raih Kemenangan Semifinal Open Australia 2026
IPO SpaceX Bawa Jutaan Rupiah bagi Ribuan Karyawan
Banjir di Jakarta Wabah Sakit Flu, Banyak Rumah Terendam
