Hashim Yakin Ekonomi Indonesia Tembus 8 Persen

Fandi R. · 2 min baca · 1 jam lalu · 29 dibaca
Bisik.id
Hashim Yakin Ekonomi Indonesia Tembus 8 Persen

Gambar atau konten salah?

Jakarta — Ketua Dewan Penasihat Prasasti, Hashim Djojohadikusumo, menyatakan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa menembus angka 8 persen. Optimisme ini muncul setelah melihat sejumlah program pemerintah yang tengah berjalan, seperti pembangunan perumahan, perluasan akses internet, dan upaya swasembada pangan.

"Saya sangat optimistis dengan prospek kita. Pertumbuhan 8% memang ambisius. Saya rasa itu bisa dicapai," ujar Hashim dalam acara Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di The Ritz-Carlton Jakarta, Selasa (13 Oktober 2026).

Hashim memandang sektor perumahan sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Ia mengambil contoh dari pengalaman China yang berhasil mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 10 persen selama beberapa dekade. Menurutnya, sektor konstruksi dan perumahan punya keterkaitan dengan 185 jenis kegiatan ekonomi lain. Industri furnitur, semen, kayu, sampai kabel listrik akan ikut bergerak seiring meningkatnya pembangunan rumah.

"Ada 185 keterkaitan ekonomi dengan sektor konstruksi dan perumahan. Furnitur, semen, kayu, kabel listrik, ada 185 keterkaitan yang berbeda," jelasnya.

Selain perumahan, Hashim juga menyoroti potensi perluasan akses internet dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa setiap kenaikan 10 persen jumlah penduduk yang memiliki akses internet konsisten bisa mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 0,7 hingga 1,3 persen per tahun.

Ia menilai biaya akses internet yang masih mahal menjadi kendala utama bagi masyarakat. Menurutnya, penyediaan akses internet yang lebih terjangkau akan membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengembangkan usahanya.

Di sektor pangan, Hashim menyoroti capaian swasembada beras yang diklaim berhasil diraih tiga tahun lebih cepat dari target. Indonesia bahkan mulai kembali mengekspor beras setelah 42 tahun vakum.

"Stok beras 5,3 juta ton berdasarkan informasi yang saya terima pekan lalu. Dan sekarang Indonesia mengekspor beras untuk pertama kali dalam 42 tahun. Terakhir kali Indonesia melakukan ekspor adalah pada tahun 1984," ungkapnya.

Hashim juga memperkirakan Indonesia bisa mencapai swasembada kedelai dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Peningkatan produksi pangan dalam negeri diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor dan menghemat pengeluaran negara.

"Kita akan segera mencapai swasembada kedelai dalam dua atau tiga tahun mendatang, saat ini Indonesia mengimpor cukup banyak kedelai," tutup Hashim.

Target pertumbuhan 8 persen memang bukan angka yang mudah diraih. Namun kombinasi dari pembangunan perumahan massal, konektivitas digital yang lebih luas, dan kemandirian pangan menjadi tiga pilar yang diyakini bisa menggerakkan roda ekonomi. Keberhasilan Indonesia mengekspor beras kembali setelah lebih dari empat dekade menjadi bukti awal bahwa program-program tersebut mulai menunjukkan hasil nyata.

pertumbuhan ekonomi 8 persenpembangunan perumahanakses internetswasembada panganekspor berasHashim DjojohadikusumoUMKM

Komentar

Memuat komentar...