Jumhur: Biaya Lingkungan adalah Investasi untuk Menang di Pasar Global
Gambar atau konten salah?
Jakarta — Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat punya pandangan yang jarang didengar di kalangan pengusaha. Ia menyebut biaya pengelolaan lingkungan hidup bukan sekadar pengeluaran, melainkan investasi yang bisa membuat perusahaan lebih unggul di pasar global. Pernyataan itu ia sampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional Bidang Investasi, Hilirisasi, Energi dan Lingkungan Hidup Kadin Indonesia 2026 di The Langham, Jakarta Selatan, Selasa (13 Oktober 2026).
Menurut Jumhur, daya saing perusahaan zaman sekarang tidak cukup hanya mengandalkan kualitas produk. Proses produksi yang ramah lingkungan ikut menentukan. "Pasar global tidak lagi membeli produk yang tidak memberi kepercayaan. Investor membeli kepastian, lembaga keuangan membeli manajemen risiko, dan masyarakat memberikan jawaban lingkungan. Karena itu saya menegaskan, pengelolaan lingkungan hidup bukan biaya, pengelolaan lingkungan hidup adalah investasi untuk memenangkan persaingan global," jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pemilik modal di seluruh dunia tengah mencari perusahaan yang bisa membuktikan bisnisnya dikelola secara berkelanjutan. Pesannya tegas: "Good environmental governance is good business governance. Perusahaan yang mampu mengelola lingkungan dengan baik akan memperoleh banyak keuntungan."
Jumhur lalu memaparkan lima keuntungan yang bisa diraih perusahaan bila serius mengelola lingkungan. Pertama, akses pasar ekspor terbuka lebih lebar. Banyak negara dan perusahaan global kini mensyaratkan keberlanjutan dalam rantai pasok mereka. Perusahaan dengan kinerja lingkungan yang baik akan lebih mudah masuk ke pasar-pasar tersebut.
Kedua, akses pembiayaan menjadi lebih mudah. Bank, investor institusional, dan lembaga pembiayaan internasional semakin memasukkan aspek ESG dalam keputusan investasi. Perusahaan dengan kebijakan lingkungan yang baik bisa mendapatkan biaya modal yang lebih kompetitif dan peluang pembiayaan hijau yang lebih besar.
Ketiga, efisiensi produksi meningkat. "Penggunaan energi yang lebih efisien, penghematan air yang lebih hemat, pemanfaatan kembali limbah yang dihasilkan serta penerapan ekonomi sirkular akan menurunkan biaya produksi," terangnya.
Keempat, konflik sosial bisa diminimalkan. Masyarakat di sekitar wilayah perusahaan akan lebih percaya bila melihat operasional yang ramah lingkungan. Kepercayaan ini menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan investasi.
Kelima, biaya mitigasi dan risiko hukum berkurang. "Sengketa lingkungan, penghentian operasional, hingga kerusakan reputasi dapat menimbulkan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan biaya pencegahan. Oleh karena itu, kepatuhan lingkungan sesungguhnya merupakan bentuk perlindungan terhadap kelangsungan bisnis," ucapnya.
Pesan Jumhur ini datang di tengah tren global yang semakin ketat soal keberlanjutan. Perusahaan yang menunda investasi lingkungan justru berisiko kehilangan pasar, kesulitan mendapat pinjaman, dan menghadapi sengketa hukum yang mahal. Di sisi lain, perusahaan yang lebih dulu berbenah akan menikmati keuntungan ganda: biaya operasional yang lebih rendah sekaligus reputasi yang lebih baik di mata konsumen dan investor. Pada akhirnya, kepatuhan terhadap lingkungan bukan sekadar memenuhi aturan, melainkan cara melindungi kelangsungan bisnis itu sendiri.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pertamina Percepat Pemulihan Pasokan BBM di Bali, Kirim 24 Jam
Menkeu Pastikan Tak Ada Kenaikan Harga BBM Subsidi
PLN Dukung Kopdes Merah Putih Jadi Titik Bayar Listrik
Pelatihan Brevet Pajak AB Siap Bekali Praktik Perpajakan
IHSG Terjun Bebas, Jauhi Level 6.000 di Awal Perdagangan
Dolar AS Menguat ke Rp 17.948 Pagi Ini
Berita Terbaru
Pertamina Percepat Pemulihan Pasokan BBM di Bali, Kirim 24 Jam
Menkeu Pastikan Tak Ada Kenaikan Harga BBM Subsidi
PLN Dukung Kopdes Merah Putih Jadi Titik Bayar Listrik
Pelatihan Brevet Pajak AB Siap Bekali Praktik Perpajakan
IHSG Terjun Bebas, Jauhi Level 6.000 di Awal Perdagangan
Dolar AS Menguat ke Rp 17.948 Pagi Ini
