Kartini: Tokoh Pendidikan dan Hak Perempuan di Indonesia

Teguh A. · 4 min baca · 1 bulan lalu · 130 dibaca
Bisik.id
Kartini: Tokoh Pendidikan dan Hak Perempuan di Indonesia

Gambar atau konten salah?

Raden Ajeng Kartini adalah nama yang dikenal luas di Indonesia. Ia adalah pahlawan nasional yang berjuang untuk kesetaraan perempuan, khususnya dalam pendidikan. Meskipun berasal dari keluarga bangsawan, hidupnya tidak selalu mudah. Kartini pernah mengalami masa sulit, terutama ketika harus menjalani masa pingitan, tradisi adat Jawa yang mengekang perempuan.

Berbagai buku biografi, seperti Ensiklopedi Pahlawan Nasional karya Julinar Said dan Triana Wulandari, Buku Biografi R.A Kartini karya Elvi Leila Suheila, serta Sisi Lain Kartini karya Djoko Marihandono, menjadi sumber utama informasi tentangnya. Berikut rangkuman biografinya.

Lahirnya R.A. Kartini

Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Ayahnya, Raden Mas Adipati Sosroningrat, adalah bupati Jepara. Ibu, Ngasirah, adalah putri kiai dari Teluk Amur, Jepara. Kartini adalah putri pertama dari istri pertama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, namun bukan dari istri utama. Ia memiliki sepuluh saudara, termasuk saudara kandung dan tiri. Sebagai anak kelima, ia tetap menjadi anak perempuan tertua di antara 11 bersaudara.

Berikut rincian saudara kandungnya:

  • Raden Mas Slamet, lahir 15 Juni 1873
  • Raden Mas Boesono, lahir 11 Mei 1874
  • Raden Mas Kartono, lahir 10 April 1877
  • Raden Ajeng Kartini, lahir 21 April 1879
  • Raden Ajeng Kardinah, lahir 1 Maret 1881
  • Raden Mas Moeljono, lahir 26 Desember 1885
  • Raden Ajeng Soematri, lahir 11 Maret 1888
  • Raden Mas Rawito, lahir 16 Oktober 1892

Dan saudara tiri:

  • Raden Ajeng Soelastri, lahir 9 Januari 1877
  • Raden Ajeng Roekmini, lahir 4 Juli 1880
  • Raden Ajeng Kartinah, lahir 3 Juni 1883

Masa Kecil

Karena keluarga bangsawan, Kartini diberi gelar Raden Ajeng (R.A.). Ia tumbuh cepat, bisa berjalan sendiri pada usia delapan bulan. Kemampuan fisik dan motoriknya berkembang lebih cepat daripada teman sebaya. Ia juga menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi, menjadi anak lincah yang aktif bergerak. Hal ini tercermin dalam suratnya kepada Estelle Zeehandelaar, sahabatnya, pada 18 Agustus 1899:

"Saya disebut kuda kore atau kuda liar. Karena saya jarang berjalan, tetapi selalu melompat atau melonjak-lonjak. Dan karena sesuatu dan lain hal lagi saya dimaki-maki juga sebab saya sering sekali tertawa terbahak-bahak dan memperlihatkan banyak gigi yang dinilai perbuatan tidak sopan."

Riwayat Pendidikan

Karena status bangsawan, Kartini dimasukkan ke Europesche Lagere School (ELS), sekolah dasar Eropa. Tradisi bangsawan pada waktu itu melarang puteri pergi keluar rumah, namun Kartini tetap belajar di sini. Sekolah ini khusus untuk anak bangsa Eropa dan Belanda Indo, sementara anak pribumi hanya diizinkan jika berasal dari pejabat tinggi. Banyak siswa ELS menyukai Kartini karena sifatnya luwes, periang, dan pandai. Ia mengikuti semua kegiatan belajar dengan baik, bersaing dengan siswa lain, dan menguasai bahasa Belanda.

Ia lulus ELS pada 1892 dengan nilai baik. Namun, impian melanjutkan pendidikan tinggi tidak terwujud karena tidak mendapat restu. Akibatnya, masa pingitan dimulai.

Masa Pingitan

Di usia belum genap 13 tahun, Kartini harus menjalani masa pingitan selama lebih dari empat tahun. Ia hanya boleh keluar rumah lima kali selama periode tersebut. Meski terkurung, ia terus membaca apa saja yang dapat ia temukan. Ia memilih bacaan yang menurutnya bermutu, menolak yang tidak. Kehadiran kakaknya, Raden Mas Sosrokartono, yang sedang liburan, membantu Kartini melewati masa sulit. Sosrokartono mendengarkan keluh kesah Kartini tanpa menghakimi, menjaga konflik keluarga tetap ringan.

Selama masa pingitan, Kartini berkonflik dengan saudara lain, Raden Ajeng Soelastri dan Raden Mas Slamet, karena perbedaan pandangan. Konflik mereda ketika mereka keluar rumah, memberi ruang bagi Kartini untuk tinggal bersama adik-adiknya, Raden Ajeng Roekmini dan Raden Ajeng Kardinah, di satu kamar. Ia memanfaatkan waktu ini untuk menulis gagasan-gagasan pemikirannya di malam hari.

Di masa pingitan, Kartini mengungkapkan perasaannya kepada Nyonya Abendanon:

"Empat tahun telah lewat, cukup tenang dan tentram bagi mereka yang berpikiran dangkal. Namun bagi orang yang berpikiran bijak, waktu sepanjang itu merupakan perjuangan lahir dan batin bagi Ni. Boleh jadi dalam tiga tahun ia dapat belajar banyak menguasai diri, bersedia mengalah dan tidak terlalu mengutamakan diri sendiri. Tetapi ia tidak belajar tawakal dan tidak dapat belajar."

Setelah 2 Mei 1898, ketiga saudara tersebut dibebaskan dari masa pingitan.

Perjuangan dan Jasa RA Kartini bagi Kaum Perempuan

Perjuangan Kartini dimulai dari dirinya sendiri dan saudara-saudaranya. Ia tetap belajar di tengah masa pingitan dan mengirim surat kepada teman di Belanda. Pada masa itu, perempuan dianggap terbelakang. Mereka hanya memiliki kewajiban mengurus rumah, anak, dan berbakti kepada suami tanpa dihargai pendapatnya.

Setelah masa pingitan berakhir, Kartini dan saudara-saudaranya mulai berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Mereka mengunjungi desa-desa, mendengar keluhan masyarakat, dan mencatat masalah. Salah satu masalah yang mereka atasi adalah kemiskinan para perajin ukir di Kampung Belakang Gunung. Untuk mengatasinya, Kartini menghubungi orang-orang Belanda di Semarang dan Batavia, mempromosikan kerajinan ukir tersebut. Barang-barang tersebut akhirnya terjual dengan harga tinggi.

Ia juga meminta izin pemerintah Hindia Belanda untuk membuka sekolah bagi anak perempuan. Sekolah ini dimulai pada Juni 1903 di pendopo Kabupaten. Kartini langsung terjun sebagai pengajar, bersama adik Rukmini. Mereka mengajarkan anak perempuan membaca, menulis, menjahit, merenda, memasak, dan tata krama. Sebagai guru pertama, ia menyadari pentingnya pendidikan bagi ibu, karena pengetahuan yang layak memengaruhi generasi penerus bangsa.

Wafatnya RA Kartini

Di tengah perjuangannya, Kartini juga menjalani peran sebagai istri. Ia menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Djojoadiningrat, yang mendukung pilihannya. Bersama suami, Kartini mendirikan sekolah di Rembang. Mereka juga memperkenalkan ukiran kayu Jepara dan memamerkan batik hasil karya perempuan Indonesia di pameran di Den Haag, Belanda, pada 1898.

Namun, Kartini wafat pada 17 September 1904, setelah melahirkan putra pertamanya, RM Susalit. Usianya masih muda, 25 tahun. Meskipun begitu, perjuangan dan karya Kartini tetap abadi.

Karya-Karya RA Kartini

Menurut buku Kartini: Kumpulan Surat-surat 1899-1904 Jilid I karya Wardiman Djojonegoro, sekitar 400 surat ditulis oleh Kartini. Namun, hanya 179 surat yang berhasil dikumpulkan. Surat-surat tersebut diterbitkan dalam berbagai versi, salah satunya Habis Gelap Terbitlah Terang. Isi surat mencakup kehidupan Kartini, pemikiran, cita-cita, perjuangan, dan perasaan cinta serta kepedulian.

Ringkasan konteks: Kartini adalah tokoh yang menolak tradisi yang mengekang perempuan. Ia menuntut pendidikan, membuka sekolah, dan memperjuangkan hak perempuan. Karyanya, terutama surat-suratnya, tetap menjadi sumber inspirasi bagi generasi berikutnya. Kartini menunjukkan bahwa perubahan sosial dimulai dari kesadaran diri dan tekad untuk melawan ketidakadilan.

Raden Ajeng Kartinikesetaraan perempuanmasa pingitansuratedukasi perempuantradisi adat Jawapahlawan nasional

Komentar

Memuat komentar...