Munas & Konbes NU 20–22 Juni 2026 di Al Falah Ploso

Nita W. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Munas & Konbes NU 20–22 Juni 2026 di Al Falah Ploso

Gambar atau konten salah?

Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) akan digelar di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kabupaten Kediri. Acara ini dijadwalkan pada 20, 21, dan 22 Juni 2026 dan menjadi titik tolak bagi persiapan Muktamar NU. Seiring berjalannya persiapan, dinamika pemilihan pemimpin tertinggi NU semakin terasa.

Di tengah persiapan, Prof. KH. Nasaruddin Umar muncul sebagai nama yang sering disebut sebagai calon Ketua Umum PBNU. Gus Ipul, Sekretaris Jenderal PBNU, menilai rekam jejaknya kuat, khususnya pengalaman sebagai Katib Aam pada masa kepemimpinan KH Hasyim Muzadi. Prof Nasaruddin Umar pernah menjadi Katib Aam pada era KH Hasyim Muzadi. Kalau melihat statistik dan pengalaman yang ada selama ini, beliau sangat berpotensi, kata Gus Ipul.

Gus Ipul menegaskan bahwa ia tidak sedang mempromosikan sosok tertentu. Namun, ia mengakui bahwa nama Prof. KH. Nasaruddin Umar sering muncul dalam berbagai pertemuan di daerah-daerah. Kalau saya berkeliling ke beberapa daerah, memang nama Prof Nasar cukup banyak disebut. Itu yang saya dengar dari berbagai kalangan. Selebihnya tentu akan ditentukan oleh dinamika yang berkembang menjelang muktamar, ujarnya.

Menurut Gus Ipul, posisi Katib Aam sering menjadi jalur bagi pemimpin tertinggi NU. Ia mencontohkan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Hasyim Muzadi, dan KH Yahya Cholil Staquf yang pernah menjabat Katib Aam sebelum terpilih sebagai Ketua Umum PBNU. Kalau ditarik dalam sekitar 40 tahun terakhir, tiga Ketua Umum PBNU sebelumnya pernah menjadi Katib Aam. Itu menunjukkan posisi tersebut memiliki rekam jejak yang cukup kuat dalam melahirkan pemimpin NU, ujarnya.

Selain Katib Aam, Gus Ipul menyoroti jabatan Sekretaris Jenderal PBNU dan Ketua PWNU Jawa Timur sebagai jalur lain. Ia menyebut KH Idham Chalid yang pernah menjabat Sekjen PBNU sebelum menjadi Ketua Umum PBNU, serta KH Hasyim Muzadi yang memimpin PWNU Jawa Timur sebelum naik ke kepemimpinan nasional. Kalau melihat statistik, yang pernah menjadi Sekjen punya peluang, yang pernah menjadi Ketua PWNU Jawa Timur punya peluang, dan yang pernah menjadi Katib Aam juga punya peluang, katanya.

Meski bursa calon Ketua Umum PBNU menjadi perbincangan, Gus Ipul menegaskan bahwa agenda tersebut belum akan dibahas dalam Munas dan Konbes. Ia juga menepis spekulasi tentang dirinya. Saya sudah menyatakan dengan tegas, saya tidak mencalonkan diri dan tidak mau dicalonkan. Dua-duanya, tandas Gus Ipul.

Persiapan pelaksanaan Munas dan Konbes telah memasuki tahap akhir. Panitia pusat dan panitia lokal melakukan pengecekan menyeluruh untuk memastikan semua kebutuhan acara siap. Prof. KH. Mohammad Nuh, Ketua Steering Committee, menyatakan optimisme. Kami datang ke Ploso untuk melakukan final checking seluruh persiapan pelaksanaan Munas dan Konbes NU yang insyaallah digelar pada 20, 21, dan 22 Juni mendatang. Kami bersyukur dan berterima kasih karena Pondok Pesantren Al Falah Ploso bukan hanya siap, tetapi sangat-sangat siap menjadi tuan rumah, kata M. Nuh.

Menurut Prof. KH. Mohammad Nuh, Munas dan Konbes merupakan forum tertinggi NU sebelum pelaksanaan Muktamar. Keputusan strategis yang dihasilkan akan menjadi pijakan bagi arah kebijakan organisasi ke depan. Forum ini menjadi ruang konsolidasi pemikiran para ulama dan pengurus NU. Berbagai keputusan yang lahir akan menjadi bahan penting menuju muktamar, katanya.

Forum ini tidak hanya membahas persoalan organisasi. Isu keagamaan kontemporer juga akan dikaji, seperti fikih digital, kecerdasan buatan (AI), dan aset kripto yang memerlukan panduan hukum Islam. KH Muhammad Al Kautsar, pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, memastikan semua elemen pesantren siap. Kami berupaya semaksimal mungkin berkhidmat kepada Nahdlatul Ulama. Berbagai persiapan terus kami kebut agar para peserta merasa aman dan nyaman selama mengikuti Munas dan Konbes. Mohon doa dari seluruh masyarakat agar kegiatan ini berjalan lancar dan membawa manfaat besar bagi umat, jelas Gus Kautsar.

Gus Ipul menilai Munas dan Konbes kali ini menjadi momentum penting bagi NU untuk memperkuat perannya dalam menjawab tantangan zaman. NU harus terus menghadirkan solusi atas persoalan-persoalan yang berkembang di masyarakat. Karena itu forum Munas dan Konbes ini sangat penting sebagai wadah musyawarah para ulama dan pengurus dalam merumuskan pandangan keagamaan maupun kebijakan organisasi, kata Gus Ipul.

Panitia memperkirakan sekitar 1.000 peserta dan tamu undangan akan hadir. Mereka terdiri atas jajaran pengurus PBNU, PWNU, PCNU, para masyayikh, kiai sepuh, pimpinan pesantren, badan otonom NU, hingga tamu undangan dari berbagai daerah di Indonesia.

Acara ini menjadi ajang penting bagi NU untuk meninjau kembali arah strategisnya dan menanggapi isu-isu kontemporer. Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, NU berharap dapat menghasilkan keputusan yang mendukung keutuhan dan relevansi organisasi di tengah perubahan zaman.

Munas NUKonbesPondok Pesantren Al FalahNasaruddin UmarKatib AamMuktamarAI

Komentar

Memuat komentar...