Nama Dusun Pentil: Asal Usul dan Tradisi Pasar Lokal
Gambar atau konten salah?
Dusun Pentil terletak di Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Nama ini seringkali membuat orang tersenyum karena pengucapannya mirip kata pentil, yang dalam bahasa Jawa berarti puting payudara. Meskipun terdengar lucu, asal usulnya tidak berkaitan dengan makna tersebut.
Perangkat Desa Gunungsari, Sumijan, menjelaskan bahwa nama tersebut berasal dari kondisi masyarakat lama. Ia berkata, “Dulu diceritakan kalau orang sini berdagang atau usaha itu sulit berkembang. Kalau sudah mulai besar selalu ada kendala.” (Sabtu, 13 Juni 2024). Sumijan menambahkan bahwa leluhur dusun mengibaratkan situasi itu seperti buah yang baru tumbuh. Dalam bahasa Jawa, buah kecil disebut pentil. Ketika usaha warga mulai berkembang, kondisi seringkali kembali ke titik awal dan tidak pernah benar-benar membesar. “Diibaratkan seperti tanaman yang mau berbuah. Sudah pentil, tetapi tidak bisa berkembang besar, lalu seperti pentil lagi. Begitu terus. Dari situ kemudian disebut Pentil,” ujarnya.
Meskipun nama ini kerap menjadi bahan candaan, warga Dusun Pentil tidak pernah mempertimbangkan mengganti namanya. Sumijan mengaku sejak kecil sudah terbiasa mendengar guyonan dari teman-temannya yang berasal dari luar desa. Ia mengingat ejekan populer di kalangan anak sekolah, yakni “Nganguk-Pentil Sewu (mengintip pentil, seribu)”. Sebutan tersebut merujuk pada dua dukuh di Desa Gunungsari. “Kalau saya tidak apa-apa. Warga juga sudah terbiasa. Itu cuma bercanda saja,” katanya sambil tersenyum.
Warga Pentil menegaskan bahwa nama tersebut merupakan warisan leluhur yang harus dijaga. “Sudah dari nenek moyang dulu. Tidak ada usulan ganti nama,” imbuh Sumijan. Dengan demikian, identitas Dusun Pentil tetap terjaga meski sering menjadi bahan lelucon.
Di balik nama unik ini, terdapat tradisi kenduri jajanan pasar yang masih dipercaya sebagian masyarakat. Pasar tradisional di Dusun Pentil, yang dikenal sebagai Pasar Pentil, bukan sekadar tempat jual beli. Bagi sebagian warga, pasar ini memiliki nilai simbolis yang berkaitan dengan ritual nazar atau kenduri. Menurut Sumijan, seseorang yang memiliki hajat tertentu terkadang bernazar akan menggelar kenduri apabila keinginannya terkabul. Salah satu syarat yang dipercaya turun-temurun adalah menggunakan jajanan pasar yang dibeli dari Pasar Pentil.
“Ada yang kendurinya di lokasi pasar, ada juga yang di rumah. Tetapi berkat atau ambengnya menggunakan jajan pasar dari Pasar Pentil,” jelasnya. Tradisi ini telah berlangsung lama dan melibatkan warga Gunungsari serta masyarakat dari desa-desa sekitar.
Warga Desa Babadan, Kecamatan Kaliori, Masudi, juga mengaku pernah menjalankan nazar yang berkaitan dengan Pasar Pentil. Ia menyampaikan, “Ibu saya pernah bernazar, kalau punya menantu akan mengadakan kenduri dengan jajan pasar dari Pasar Pentil. Memang kepercayaan warga sekitar seperti itu,” tutur Masudi.
Keberadaan Dusun Pentil dan Pasar Pentil menunjukkan bagaimana nama dan tradisi lokal dapat menjadi bagian penting dari identitas komunitas. Meskipun sering menjadi bahan candaan, masyarakat tetap menghargai sejarah dan nilai budaya yang terkandung dalam nama dan praktik tradisional mereka.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Promo Akhir Juli: Tiket Trans Studio Cibubur Mulai Rp398 Ribu
Piala Dunia 2026 Gagal Tarik Lonjakan Wisatawan
'Timuran di Bekasi' Hadirkan Musik Santai dan Games Seru
Nemuru Ciawi Siapkan Paket Liburan Sekolah Anak
Bandara Husein Sastranegara Resmi Jadi Bandara Internasional
13 Terluka dalam Lari Banteng San Fermin
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi