Pemerintah: IHSG Turun, Defisit 0,9% Menimbulkan Kecemasan

Hendra M. · 3 min baca · 1 jam lalu · 28 dibaca
Bisik.id
Pemerintah: IHSG Turun, Defisit 0,9% Menimbulkan Kecemasan

Gambar atau konten salah?

Di tengah tekanan pasar keuangan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan alasan di balik penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia menilai bahwa persepsi negatif terhadap kondisi fiskal pemerintah menjadi pemicu utama.

“Saya juga agak bingung sebenarnya apa yang terjadi. Jadi kelihatannya kesan bahwa fiskal kurang baik pelaksanaannya. Apalagi kalau kita lihat data bulan Maret seolah-olah obligasinya (defisit) besar 0,9% mereka kali 4 berarti 3,6% artinya sudah lepas dari 3% limit kan, itu yang digembar-gemborkan,” kata Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTA di Kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Jumat, 5 Juni 2026.

Defisit APBN pada bulan Maret 2026 tercatat mencapai 0,9%, menimbulkan kekhawatiran bahwa defisit anggaran sepanjang tahun ini bisa melampaui batas 3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Purbaya menekankan bahwa perkiraan ini berasal dari perkalian 0,9% dengan faktor empat, yang menghasilkan 3,6%.

Menurutnya, program pemerintah yang dianggap berpotensi mengganggu stabilitas fiskal turut memicu sentimen negatif. Ia menyinggung Badan Gizi Nasional (BGN) yang menggarap program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Jadi utamanya itu, terus ditarik ke BGN dan lain-lain, mencari lemahnya terus kan sehingga kira-kira mereka bilang fiskalnya jadi berantakan. Itu yang fit in ke pelemahan nilai tukar dan saham,” tuturnya.

Ketika ditanya tentang kemungkinan penurunan peringkat kredit Indonesia, Purbaya mengaku mendapat pandangan berbeda dari Standard & Poor's (S&P). Ia mengatakan bahwa lembaga pemeringkat internasional menilai kondisi fiskal Indonesia masih baik.

“Dari situ orang-orang bilang berarti ekonominya morat-marit nih investor akan keluar karena lembaga pemeringkat akan mendowngrade kita karena pelaksanaan fiskalnya berantakan. Tapi waktu saya tanya ke lembaga pemeringkat internasional S&P, oh sudah bagus, sudah ini sudah bagus,” jelas Purbaya.

Ia menambahkan bahwa S&P melihat pelemahan rupiah sebagai salah satu sumber ketidakpastian bagi pelaku pasar.

“Cuma gini pak, ada uncertainty di market yaitu rupiahnya melemah sehingga mungkin fiskalnya terganggu. Jadi bolak-bolak ini,” jelas Purbaya.

Purbaya menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen menjaga disiplin fiskal. Ia menyebut bahwa Presiden Prabowo Subianto secara konsisten mengarahkan agar defisit APBN tetap berada di bawah batas 3% PDB.

“Jadi ada miskonsepsi dari market atau analis yang menganggap kita menjalankan fiskal dengan jelek atau pak Prabowo menjalankan kebijakan fiskal tidak hati-hati. Padahal pak Prabowo clear banget. Defisit kita dia atur di bawah 3%,” tegas Purbaya.

Ia juga mengungkap target fiskal untuk tahun depan.

“Tahun depan dia maunya 1,8% bahkan kita rayu-rayu sedikit ‘jangan lah pak kita masih perlu dorongan ke ekonomi’, ya lebih tinggi dari itu boleh sedikit. Jadi komitmen presiden untuk menjaga fiskal di bawah 3% amat kuat sekali. Jadi kita tidak menjalankan kebijakan fiskal yang tidak hati-hati,” sambung dia.

Menanggapi sentimen negatif di pasar, Purbaya menegaskan bahwa kondisi fiskal Indonesia masih baik dan akan terus diperbaiki.

“Ada sentimen negatif di pasar yang harus kita perbaiki. Tapi yang bisa saya jelaskan sekarang adalah fondasi ekonomi baik, kebijakan fiskal betul-betul terjaga dan kalau ada apa-apa kita bisa adjust kita perbaiki. Kita betul-betul fleksibel untuk memastikan defisitnya di bawah 3% tanpa mengganggu perekonomian secara berlebihan. Kelemahan kita kurang cukup baik menjelaskan ke publik mungkin,” tutup Purbaya menjelaskan.

IHSG pada penutupan hari ini melemah 245,01 poin atau 4,20%. Indeks ini sudah turun 19,58% dalam sebulan terakhir dan anjlok hingga 35,30% sepanjang tahun 2026.

Dengan penjelasan ini, Purbaya mencoba menstabilkan persepsi pasar bahwa kebijakan fiskal Indonesia tetap terjaga di bawah ambang batas 3% PDB, meski terdapat tekanan dari data defisit dan sentimen negatif. Kejelasan mengenai target fiskal dan komitmen presiden menjadi kunci untuk menenangkan investor dan menjaga kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia.

PurbayaIHSGDefisit APBNFiskalPrabowo SubiantoStandard & Poor'sBGN

Komentar

Memuat komentar...