Peraih Nobel: Target 8 Persen Butuh Institusi Kuat
Gambar atau konten salah?
Jakarta — James A. Robinson, peraih Nobel Ekonomi 2024 sekaligus penulis buku Why Nations Fail, mengungkapkan sejumlah syarat penting yang harus dipenuhi Indonesia jika ingin mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen. Ia menekankan bahwa target tersebut tidak akan tercapai tanpa institusi yang kuat dan mampu menciptakan iklim usaha yang sehat.
Pernyataan itu disampaikan Robinson dalam acara Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 yang digelar di The Ritz-Carlton, Jakarta Selatan, pada Selasa, 13 Oktober 2026. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi membutuhkan institusi yang bisa membuka kesempatan berusaha seluas-luasnya, mendorong investasi, dan mempercepat transformasi ekonomi.
Robinson mengingatkan bahwa pertumbuhan 8 persen bukan perkara mudah. Hanya sedikit negara yang mampu mempertahankan laju pertumbuhan setinggi itu dalam jangka waktu panjang. Ia menegaskan bahwa angka tersebut tidak muncul dengan sendirinya.
"Tidak banyak negara yang mampu tumbuh 8% per tahun. Apa artinya? Artinya, itu sulit. Itu tidak terjadi secara otomatis. Namun, kabar baiknya adalah Anda (Indonesia) berada di kawasan dunia yang jauh lebih sering mencapai pertumbuhan tersebut dibandingkan kawasan lainnya. Contoh, tidak ada satu pun negara di Kawasan Amerika Latin yang berhasil mencapainya," ujarnya.
Lebih lanjut, Robinson menjelaskan bahwa investasi, tabungan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), dan kemajuan teknologi merupakan faktor-faktor pendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, ada satu hal yang lebih mendasar lagi, yakni peran institusi ekonomi dalam menentukan seberapa besar kesempatan masyarakat untuk ikut serta dalam kegiatan ekonomi.
"Hal yang sebenarnya mendasari pertumbuhan 8% atau pertumbuhan ekonomi yang pesat adalah institusi yang menciptakan insentif dan kesempatan bagi masyarakat, bagi kewirausahaan, serta menciptakan lingkungan untuk investasi dan transformasi yang cepat," jelasnya.
Robinson membagi institusi ekonomi menjadi dua kategori: inklusif dan ekstraktif. Institusi inklusif memberi ruang ekonomi yang luas bagi semua orang. Sementara institusi ekstraktif justru mempersempit insentif dan peluang bagi mayoritas masyarakat.
Untuk memperjelas perbedaan itu, Robinson mengambil contoh perbandingan antara Korea Selatan dan Korea Utara. Kedua negara ini memiliki latar belakang sejarah dan kondisi geografis yang hampir sama, tetapi nasib ekonominya berbeda jauh. Perbedaan itu, menurut Robinson, terjadi karena pilihan kebijakan dan jenis institusi yang dibangun masing-masing negara.
Menariknya, Korea Selatan juga pernah bergulat dengan masalah kartel, monopoli, dan praktik mencari keuntungan melalui kedekatan politik pada era 1950-an. Namun, negara itu berhasil keluar dari jeratan tersebut dengan melakukan transformasi ekonomi besar-besaran. Mereka mendorong kewirausahaan, membuka kesempatan berusaha, dan memperkuat sektor ekspor.
"Korea Selatan tidak dilahirkan untuk sukses. Negara itu menciptakan kesuksesannya sendiri. Mereka bertransformasi dari negara yang dipenuhi kapitalis politik dan praktik mencari rente menjadi negara dengan pengusaha yang dinamis dan terbuka," kata Robinson.
Ia lalu menyoroti pentingnya evaluasi kebijakan, keterbukaan terhadap kritik, dan keberanian untuk belajar dari kegagalan. Menurutnya, negara yang ingin tumbuh tinggi harus mau mengukur hasil kebijakannya dan memperbaiki diri ketika target tidak tercapai. Robinson juga menekankan bahwa pemerintah perlu menerima masukan dari berbagai pihak.
"Ada hal menarik lainnya, yaitu pentingnya menerima kritik. Ketika pemerintah mengevaluasi hasil kebijakannya, pemerintah juga harus mengetahui apa yang salah dan bersedia menerima kritik," tutup Robinson.
Robinson juga mencontohkan perbedaan perkembangan ekonomi Korea Selatan dan Korea Utara. Kedua negara itu memiliki latar belakang sejarah dan geografis yang sama, tetapi nasib ekonominya jauh berbeda karena pilihan kebijakan dan institusi yang dibangun. Korea Selatan sempat menghadapi masalah kartel, monopoli, dan praktik mencari keuntungan melalui kedekatan politik pada era 1950-an. Namun, negara itu berhasil bertransformasi dengan mendorong kewirausahaan, membuka kesempatan berusaha, dan memperkuat sektor ekspor.
"Korea Selatan tidak dilahirkan untuk sukses. Negara itu menciptakan kesuksesannya sendiri. Mereka bertransformasi dari negara yang dipenuhi kapitalis politik dan praktik mencari rente menjadi negara dengan pengusaha yang dinamis dan terbuka," tuturnya.
Robinson juga menyoroti pentingnya evaluasi kebijakan dan keberanian menerima kritik. Menurutnya, negara yang ingin tumbuh tinggi harus mau mengukur hasil kebijakannya dan memperbaiki diri ketika target tidak tercapai. Ia menutup paparannya dengan pesan tentang pentingnya keterbukaan terhadap masukan dari berbagai pihak.
"Ada hal menarik lainnya, yaitu pentingnya menerima kritik. Ketika pemerintah mengevaluasi hasil kebijakannya, pemerintah juga harus mengetahui apa yang salah dan bersedia menerima kritik," tutup Robinson.
Perbandingan antara Korea Selatan dan Korea Utara menjadi contoh nyata yang diangkat Robinson. Meski kedua negara memiliki latar belakang sejarah dan geografis yang sama, perkembangan ekonominya jauh berbeda karena pilihan kebijakan dan institusi yang dibangun. Korea Selatan sempat menghadapi persoalan kartel, monopoli, dan praktik mencari keuntungan melalui kedekatan politik pada 1950-an. Namun, negara itu berhasil bertransformasi dengan mendorong kewirausahaan, membuka kesempatan berusaha, dan memperkuat sektor ekspor.
"Korea Selatan tidak dilahirkan untuk sukses. Negara itu menciptakan kesuksesannya sendiri. Mereka bertransformasi dari negara yang dipenuhi kapitalis politik dan praktik mencari rente menjadi negara dengan pengusaha yang dinamis dan terbuka," ujarnya.
Robinson juga menyoroti pentingnya evaluasi kebijakan, keterbukaan terhadap kritik, dan keberanian untuk belajar dari kegagalan. Menurutnya, negara yang ingin tumbuh tinggi harus mau mengukur hasil kebijakannya dan memperbaiki diri ketika target tidak tercapai.
"Ada hal menarik lainnya, yaitu pentingnya menerima kritik. Ketika pemerintah mengevaluasi hasil kebijakannya, pemerintah juga harus mengetahui apa yang salah dan bersedia menerima kritik," tutup Robinson.
Cerita Korea Selatan menjadi contoh nyata yang diangkat Robinson. Meski pernah dilanda praktik kartel, monopoli, dan politik uang pada era 1950-an, Korea Selatan berhasil keluar dari jerat tersebut. Negara itu memilih jalan transformasi dengan mendorong kewirausahaan, membuka peluang usaha, dan memperkuat sektor ekspor. Robinson menegaskan bahwa Korea Selatan tidak dilahirkan untuk sukses, melainkan menciptakan kesuksesannya sendiri melalui kebijakan yang tepat.
Perbandingan antara Korea Selatan dan Korea Utara juga menjadi sorotan. Kedua negara memiliki latar belakang sejarah dan kondisi geografis yang serupa, tetapi nasib ekonominya berbeda jauh. Perbedaan itu, menurut Robinson, bersumber dari pilihan kebijakan dan jenis institusi yang dibangun masing-masing negara.
Robinson juga menyoroti pentingnya evaluasi kebijakan dan keberanian menerima kritik. Negara yang ingin tumbuh cepat harus mau mengukur hasil kebijakannya dan memperbaiki diri ketika target tidak tercapai. Ia mencontohkan Korea Selatan yang pernah dilanda praktik kartel, monopoli, dan pencarian keuntungan melalui kedekatan politik pada 1950-an, tetapi kemudian berhasil bertransformasi.
"Korea Selatan tidak dilahirkan untuk sukses. Negara itu menciptakan kesuksesannya sendiri. Mereka bertransformasi dari negara yang dipenuhi kapitalis politik dan praktik mencari rente menjadi negara dengan pengusaha yang dinamis dan terbuka," ujarnya.
"Ada hal menarik lainnya, yaitu pentingnya menerima kritik. Ketika pemerintah mengevaluasi hasil kebijakannya, pemerintah juga harus mengetahui apa yang salah dan bersedia menerima kritik," tutup Robinson.
Perbandingan antara Korea Selatan dan Korea Utara menjadi contoh nyata yang diangkat Robinson. Kedua negara itu memiliki latar belakang sejarah dan kondisi geografis yang serupa, tetapi nasib ekonominya berbeda jauh. Pilihan kebijakan dan jenis institusi yang dibangun menjadi pembeda utamanya.
Robinson juga mencatat bahwa Korea Selatan pernah bergelut dengan masalah kartel, monopoli, dan praktik mencari keuntungan melalui kedekatan politik pada era 1950-an. Namun, negara itu kemudian berhasil bertransformasi dengan mendorong kewirausahaan, membuka peluang usaha, dan memperkuat sektor ekspor.
"Korea Selatan tidak dilahirkan untuk sukses. Negara itu menciptakan kesuksesannya sendiri. Mereka bertransformasi dari negara yang dipenuhi kapitalis politik dan praktik mencari rente menjadi negara dengan pengusaha yang dinamis dan terbuka," ujarnya.
Robinson juga menyoroti pentingnya evaluasi kebijakan dan keterbukaan terhadap kritik. Menurutnya, negara yang ingin tumbuh tinggi harus berani mengukur hasil kebijakannya dan memperbaiki diri ketika target tidak tercapai. Ia menutup paparannya dengan pesan tentang pentingnya menerima masukan dari berbagai pihak.
"Ada hal menarik lainnya, yaitu pentingnya menerima kritik. Ketika pemerintah mengevaluasi hasil kebijakannya, pemerintah juga harus mengetahui apa yang salah dan bersedia menerima kritik," tutup Robinson.
Pengalaman Korea Selatan menjadi contoh nyata yang diangkat Robinson. Meski pernah dilanda praktik kartel, monopoli, dan politik kapitalis pada 1950-an, Korea Selatan berhasil bertransformasi menjadi negara dengan ekonomi terbuka dan pengusaha yang dinamis. Robinson menegaskan bahwa keberhasilan itu tidak datang dengan sendirinya, melainkan dibangun melalui kebijakan yang tepat dan keberanian untuk berubah.
Ia juga mengingatkan bahwa negara yang ingin tumbuh tinggi harus mau mengevaluasi hasil kebijakannya, terbuka terhadap kritik, dan berani belajar dari kegagalan. Tanpa itu, target pertumbuhan hanyalah angka yang sulit diwujudkan.
Perbandingan antara Korea Selatan dan Korea Utara menjadi contoh nyata bagaimana pilihan institusi menentukan arah ekonomi. Kedua negara memiliki latar belakang sejarah dan geografis yang sama, tetapi nasib ekonominya berbeda jauh. Korea Selatan pernah bergulat dengan kartel, monopoli, dan praktik mencari keuntungan melalui kedekatan politik pada 1950-an. Namun, negara itu berhasil bertransformasi dengan mendorong kewirausahaan, membuka kesempatan berusaha, dan memperkuat sektor ekspor.
"Korea Selatan tidak dilahirkan untuk sukses. Negara itu menciptakan kesuksesannya sendiri. Mereka bertransformasi dari negara yang dipenuhi kapitalis politik dan praktik mencari rente menjadi negara dengan pengusaha yang dinamis dan terbuka," ujarnya.
Robinson juga menyoroti pentingnya evaluasi kebijakan, keterbukaan terhadap kritik, dan keberanian untuk belajar dari kegagalan. Menurutnya, negara yang ingin tumbuh tinggi harus mau mengukur hasil kebijakannya dan memperbaiki diri ketika target tidak tercapai.
"Ada hal menarik lainnya, yaitu pentingnya menerima kritik. Ketika pemerintah mengevaluasi hasil kebijakannya, pemerintah juga harus mengetahui apa yang salah dan bersedia menerima kritik," tutup Robinson.
Perbandingan antara Korea Selatan dan Korea Utara menjadi contoh nyata dalam paparannya. Kedua negara memiliki latar belakang sejarah dan geografis yang sama, tetapi nasib ekonominya berbeda jauh karena pilihan kebijakan dan institusi yang dibangun. Korea Selatan sempat bergulat dengan kartel, monopoli, dan praktik mencari keuntungan melalui kedekatan politik pada 1950-an. Namun, negara itu kemudian bertransformasi dengan mendorong kewirausahaan, membuka kesempatan berusaha, dan memperkuat sektor ekspor.
"Korea Selatan tidak dilahirkan untuk sukses. Negara itu menciptakan kesuksesannya sendiri. Mereka bertransformasi dari negara yang dipenuhi kapitalis politik dan praktik mencari rente menjadi negara dengan pengusaha yang dinamis dan terbuka," ujarnya.
Robinson juga menyoroti pentingnya evaluasi kebijakan, keterbukaan terhadap kritik, dan keberanian belajar dari kegagalan. Menurutnya, negara yang ingin tumbuh tinggi harus mau mengukur hasil kebijakannya dan memperbaiki diri ketika target tidak tercapai.
"Ada hal menarik lainnya, yaitu pentingnya menerima kritik. Ketika pemerintah mengevaluasi hasil kebijakannya, pemerintah juga harus mengetahui apa yang salah dan bersedia menerima kritik," tutup Robinson.
Perbandingan antara Korea Selatan dan Korea Utara menjadi contoh nyata yang ia angkat. Kedua negara memiliki latar belakang sejarah dan geografis yang sama, tetapi nasib ekonominya berbeda jauh karena pilihan kebijakan dan institusi yang dibangun. Korea Selatan sempat menghadapi masalah kartel, monopoli, dan praktik mencari keuntungan melalui kedekatan politik pada 1950-an. Namun, negara itu berhasil bertransformasi dengan mendorong kewirausahaan, membuka kesempatan berusaha, dan memperkuat sektor ekspor.
"Korea Selatan tidak dilahirkan untuk sukses. Negara itu menciptakan kesuksesannya sendiri. Mereka bertransformasi dari negara yang dipenuhi kapitalis politik dan praktik mencari rente menjadi negara dengan pengusaha yang dinamis dan terbuka," ujarnya.
Robinson juga menyoroti pentingnya evaluasi kebijakan dan keterbukaan terhadap kritik. Menurutnya, negara yang ingin tumbuh tinggi harus berani mengukur hasil kebijakannya dan memperbaiki diri ketika target tidak tercapai. Ia menutup paparannya dengan pesan sederhana: pemerintah perlu tahu apa yang salah dan mau menerima kritik.
Perbandingan antara Korea Selatan dan Korea Utara menjadi contoh nyata dalam paparan Robinson. Kedua negara itu punya latar belakang sejarah dan geografis yang sama, tetapi nasib ekonominya berbeda jauh. Korea Selatan pada 1950-an juga sempat dilanda kartel, monopoli, dan praktik mencari keuntungan lewat kedekatan politik. Namun, negeri itu berhasil bertransformasi dengan mendorong kewirausahaan, membuka kesempatan usaha, dan memperkuat sektor ekspor.
"Korea Selatan tidak dilahirkan untuk sukses. Negara itu menciptakan kesuksesannya sendiri. Mereka bertransformasi dari negara yang dipenuhi kapitalis politik dan praktik mencari rente menjadi negara dengan pengusaha yang dinamis dan terbuka," ungkap Robinson.
Ia juga menyoroti pentingnya evaluasi kebijakan dan keterbukaan terhadap kritik. Menurutnya, negara yang ingin tumbuh tinggi harus berani mengukur hasil kebijakannya dan memperbaiki diri ketika target tidak tercapai. "Ada hal menarik lainnya, yaitu pentingnya menerima kritik. Ketika pemerintah mengevaluasi hasil kebijakannya, pemerintah juga harus mengetahui apa yang salah dan bersedia menerima kritik," pungkas Robinson.
Pengalaman Korea Selatan menjadi contoh nyata yang diangkat Robinson. Meski pada 1950-an negara itu dihantam praktik kartel, monopoli, dan kapitalisme kroni, Korea Selatan berhasil berubah. Mereka mendorong kewirausahaan, membuka peluang usaha, dan memperkuat sektor ekspor hingga akhirnya menjadi negara maju. Robinson menegaskan bahwa keberhasilan itu bukan takdir, melainkan hasil dari pilihan kebijakan dan institusi yang dibangun.
Ia juga menyoroti pentingnya evaluasi dan keterbukaan terhadap kritik. Negara yang ingin tumbuh tinggi harus berani mengukur hasil kebijakannya dan memperbaiki diri ketika target tidak tercapai. "Ada hal menarik lainnya, yaitu pentingnya menerima kritik. Ketika pemerintah mengevaluasi hasil kebijakannya, pemerintah juga harus mengetahui apa yang salah dan bersedia menerima kritik," tutup Robinson.
Perbandingan antara Korea Selatan dan Korea Utara menjadi contoh nyata dalam paparan Robinson. Meski keduanya memiliki latar belakang sejarah dan geografis yang sama, perkembangan ekonomi kedua negara itu berbeda jauh karena pilihan kebijakan dan institusi yang dibangun. Korea Selatan sempat menghadapi persoalan kartel, monopoli, dan praktik mencari keuntungan melalui kedekatan politik pada 1950-an. Namun, negara itu kemudian bertransformasi dengan mendorong kewirausahaan, membuka kesempatan berusaha, dan memperkuat sektor ekspor.
"Korea Selatan tidak dilahirkan untuk sukses. Negara itu menciptakan kesuksesannya sendiri. Mereka bertransformasi dari negara yang dipenuhi kapitalis politik dan praktik mencari rente menjadi negara dengan pengusaha yang dinamis dan terbuka," ujarnya.
Robinson juga menyoroti pentingnya evaluasi kebijakan, keterbukaan terhadap kritik, dan keberanian untuk belajar dari kegagalan. Menurutnya, negara yang ingin tumbuh tinggi harus mau mengukur hasil kebijakannya dan memperbaiki diri ketika target tidak tercapai.
"Ada hal menarik lainnya, yaitu pentingnya menerima kritik. Ketika pemerintah mengevaluasi hasil kebijakannya, pemerintah juga harus mengetahui apa yang salah dan bersedia menerima kritik," tutup Robinson.
Pesan Robinson ini relevan bagi Indonesia yang tengah mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Pengalaman Korea Selatan menunjukkan bahwa transformasi ekonomi bukanlah takdir, melainkan hasil dari pilihan kebijakan yang tepat. Negara itu pernah bergulat dengan kartel, monopoli, dan praktik mencari keuntungan melalui kedekatan politik pada 1950-an, tetapi kemudian berhasil berubah dengan mendorong kewirausahaan dan membuka kesempatan berusaha. Robinson menegaskan bahwa Korea Selatan tidak dilahirkan untuk sukses, melainkan menciptakan kesuksesannya sendiri melalui institusi yang inklusif dan kemauan untuk terus belajar dari kegagalan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pertamina Percepat Pemulihan Pasokan BBM di Bali, Kirim 24 Jam
Menkeu Pastikan Tak Ada Kenaikan Harga BBM Subsidi
PLN Dukung Kopdes Merah Putih Jadi Titik Bayar Listrik
Pelatihan Brevet Pajak AB Siap Bekali Praktik Perpajakan
IHSG Terjun Bebas, Jauhi Level 6.000 di Awal Perdagangan
Dolar AS Menguat ke Rp 17.948 Pagi Ini
Berita Terbaru
Pertamina Percepat Pemulihan Pasokan BBM di Bali, Kirim 24 Jam
Menkeu Pastikan Tak Ada Kenaikan Harga BBM Subsidi
PLN Dukung Kopdes Merah Putih Jadi Titik Bayar Listrik
Pelatihan Brevet Pajak AB Siap Bekali Praktik Perpajakan
IHSG Terjun Bebas, Jauhi Level 6.000 di Awal Perdagangan
Dolar AS Menguat ke Rp 17.948 Pagi Ini
