Perusahaan Indonesia Menahan Rekrutmen, Tantangan Tenaga Kerja

Maya K. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 48 dibaca
Bisik.id
Perusahaan Indonesia Menahan Rekrutmen, Tantangan Tenaga Kerja

Gambar atau konten salah?

Perusahaan di Indonesia kini menghadapi tantangan serius dalam menampung tenaga kerja baru. Banyak perusahaan memilih menahan laju rekrutmen agar operasi tetap stabil.

Ivan Taufiza, praktisi HR dan Ketua ISPI, menjelaskan bahwa HRD biasanya melakukan tiga jenis rekrutmen: replacement atau penggantian karyawan yang keluar, membuka lowongan untuk ekspansi bisnis, dan membuka lowongan karena investasi baru.

Menurutnya, penahanan laju rekrutmen paling terlihat pada kategori kedua, yaitu ekspansi. Ia melihat banyak klien yang proses rekrutmen sedang menahan laju ekspansi karena berbagai faktor.

“Nah, kaca itu kan perlu gas untuk peleburan ya. Dia sudah tanda tangan kontrak harga gasnya Rp 6 ribu per kilogram, sekarang naik jadi Rp 9 ribu, itu kan sudah naik 50%. Tadinya dia mau merekrut 2.000 orang, kemarin diskusi sama saya, ‘kayaknya kita mau koreksi, nggak tahu jadi berapa, tapi sepertinya nggak bakal 2.000’. Nah yang seperti ini,”

Situasi serupa ia temui di perusahaan industri kendaraan listrik. Awalnya rencana merekrut lebih banyak pekerja, namun menahan laju rekrutmen karena perubahan regulasi insentif kendaraan listrik.

“Dia mau merekrut, tadinya total 5.000. Itu komitmen dan segala macam tetap jalan sampai pemerintah mengubah insentif untuk mobil listrik. Itu kan berpengaruh ke minat orang untuk membeli. Jadi sudah mau rekrut 5.000, begitu ada perubahan, nggak jadi, sekarang sekian ribu dulu,”

Ivan menilai ketidakpastian regulasi menjadi salah satu alasan utama menahan ekspansi. Ditambah ketidakpastian ekonomi dan kondisi global, peluang investor menahan laju ekspansi semakin besar.

Ia menekankan pentingnya pemerintah menunjukkan niat baik dan kepastian usaha agar perusahaan tetap melakukan ekspansi dan menyerap tenaga kerja baru.

“Supaya kebutuhan tiga gelombang tadi—mengganti karyawan, ekspansi, dan investasi baru—tidak dikoreksi atau dikurangi,”

Untuk pencari kerja, Ivan menyarankan tetap melamar ke berbagai perusahaan sampai ada yang menerima. Ia juga menyarankan melakukan pekerjaan sampingan agar tetap aktif.

“Apalagi fresh graduate, biasanya paling susah dari sisi mindset. ‘Ngapain capek-capek kuliah elektro ITB jadi cleaning service’, misalnya. Tapi kalau bicara kebutuhan, sektor informal itu tidak pernah berkurang,”

Ia menambahkan bahwa pengalaman kerja sampingan, meskipun tidak sesuai bidang pendidikan, masih menjadi nilai tambah saat melamar ke perusahaan. Penjelasan yang baik akan menunjukkan kemampuan adaptasi.

“Itu nilai tambah. Itu namanya SQ, survival quotient. Orang itu diukur dengan berbagai indikator, salah satunya kemampuan untuk bertahan. Nah, makin tinggi itu, makin bagus nilainya,”

Kalau mau lebih teknis, Ivan menjelaskan strategi layoff. Ia memikirkan bukan karyawan yang keluar, tapi yang tetap di dalam. Karena yang keluar sudah selesai urusannya. Yang di dalam, beban kerjanya bertambah, jadi harus orang yang dari awal bisa bertahan.

Perusahaan yang menahan rekrutmen ini mencerminkan dampak regulasi dan biaya operasional pada pasar tenaga kerja domestik. Pekerja harus tetap proaktif, mencari peluang sampingan, dan menonjolkan kemampuan bertahan. Pemerintah diharapkan dapat memberikan kepastian agar ekspansi bisnis tidak terhambat, sehingga tenaga kerja tetap dapat diserap.

rekrutmenekspansiregulasiinsentif kendaraan listrikketidakpastian ekonomitenaga kerja domestikpemerintah

Komentar

Memuat komentar...