Puasa Daud: Satu Hari Puasa, Satu Hari Buka Setiap Bulan

Sigit W. · 4 min baca · 59 menit lalu · 27 dibaca
Bisik.id
Puasa Daud: Satu Hari Puasa, Satu Hari Buka Setiap Bulan

Gambar atau konten salah?

Puasa Daud berbeda dari puasa sunnah biasa. Alih‑alih menyesuaikan dengan hari atau tanggal tertentu, ia memakai pola selang‑seling: satu hari puasa, satu hari berbuka. Metode ini diikuti secara konsisten, tanpa batasan waktu tertentu selama hidup.

Menurut buku Puasa Daud untuk Kecerdasan & Keberuntungan Akademikmu karya Yanuar Arifin, amalan ini dulu rutin dilaksanakan Nabi Daud AS sebagai bentuk cinta mendalam kepada Allah SWT. Bagi yang ingin mendalami, berikut uraian lengkap mengenai batas waktu, keutamaan, dan bacaan niat puasa Daud.

Batas Waktu Pelaksanaan

Para ulama menyatakan bahwa seorang Muslim boleh mengamalkan puasa Daud kapan saja sepanjang hidup, sesuai keinginan dan kemampuan. Aturan utamanya tetap sama: satu hari berpuasa, satu hari tidak. Tidak ada batasan berapa lama pelaksanaan puasa Daud ini.

Asal‑Usul Syariat Puasa Daud

Ibadah ini dianjurkan secara resmi oleh Rasulullah SAW, bermula dari kisah sahabat Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash. Suatu ketika, Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhu dipergoki oleh Nabi Muhammad SAW berpuasa setiap hari, dan malam‑malamnya ia gunakan hanya untuk shalat.

Nabi SAW pun bertanya, “Wahai Abdullah, apakah benar berita bahwa kamu puasa seharian penuh lalu kamu shalat malam sepanjang malam?”

“Benar wahai Rasulullah,” jawab Abdullah.

“Janganlah kamu lakukan itu, tetapi berpuasalah dan berbukalah, shalat malamlah dan tidurlah, karena untuk jasadmu ada hak atasmu, matamu punya hak atasmu, istrimu punya hak atasmu, dan tamumu punya hak atasmu. Dan cukuplah bagimu bila kamu berpuasa selama tiga hari dalam setiap bulan karena bagimu setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa dan itu berarti kamu sudah melaksanakan puasa sepanjang tahun seluruhnya,” tegur Nabi.

Abdullah meminta tambahan, ia merasa lebih kuat dari sekadar berpuasa tiga hari dalam setiap satu bulan. Lantas, Nabi menyuruhnya melakukan puasa Daud, dengan satu hari berpuasa dan satu hari tidak.

Ketika Abdullah merasa dirinya masih kuat untuk menerima amalan yang lebih berat, Rasulullah SAW sempat menyarankan untuk berpuasa sehari dan berbuka dua hari. Namun, karena sahabat tersebut terus meminta tambahan, Rasulullah SAW akhirnya bersabda:

“Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari. Ini adalah Puasa Daud, dan ini puasa yang paling baik. Tidak ada yang lebih utama darinya.”

Keutamaan Puasa Daud

Puasa Daud memiliki keistimewaan yang tinggi dibandingkan puasa sunnah lain. Berikut beberapa poin penting:

  • Puasa Sunnah yang Paling Disukai Allah – Nabi SAW menegaskan bahwa pola transisi ibadah Nabi Daud AS adalah potret ideal di mata Allah SWT. Dalam HR al-Bukhari dan Muslim, Nabi SAW bersabda: “Puasa yang paling disukai di sisi Allah adalah puasa Daud, dan shalat yang paling disukai Allah adalah shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur di pertengahan malam dan bangun pada sepertiga malam terakhir dan beliau tidur lagi pada seperenam malam terakhir. Sedangkan beliau biasa berpuasa sehari dan berbuka sehari berikutnya.”
  • Menjadi Bentuk Kasih Sayang Islam bagi Umatnya – Islam adalah agama rahmah yang tidak ingin membebani pemeluknya dengan porsi ibadah yang mengabaikan hak biologis tubuh. Saat menegur Abdullah bin 'Umar (bin al-'Ash) yang kedapatan berpuasa tanpa jeda, Nabi mengingatkan bahwa jasad, mata, istri, serta tamu yang datang berkunjung juga memiliki hak yang wajib dipenuhi. Puasa Daud menjadi titik temu terbaik antara pemenuhan spiritual dan stabilitas fisik.
  • Predikat Puasa Sunnah Paling Utama – Berdasarkan HR an‑Nasa'i, puasa Daud memegang derajat tertinggi di antara puasa sunnah lainnya. Syekh 'Abdurra'uf al‑Munawi dalam kitab Faidhul Qadir memaparkan alasannya: “Karena puasa Dawud itu memberatkan jiwa dengan mendapati apa yang disenangi jiwa sehari, lalu sehari kemudian meninggalkannya.” Secara psikologis, gejolak syahwat manusia akan naik turun secara dinamis karena satu hari ia dimanjakan dengan makanan, minuman, atau nafsu halal, lalu di hari berikutnya ia dipaksa menahan diri. Bahkan Imam al‑Ghazali menyebut puasa Daud jauh lebih utama daripada puasa sepanjang tahun (puasa dahr). Orang yang berpuasa setiap hari fisiknya akan mati rasa karena terbiasa, sedangkan pelaku puasa Daud konsisten melatih regulasi jiwanya setiap 24 jam.

Waktu Pelaksanaan dan Larangan Hari Haram

Secara teknis, menahan lapar dan dahaga dimulai sejak terbit fajar (waktu subuh) hingga terbenamnya matahari (waktu maghrib). Meskipun bisa dirutinkan seumur hidup, detikers wajib memutus siklus selang‑seling ini apabila siklusnya bertepatan dengan hari‑hari yang diharamkan untuk berpuasa:

  • Hari Raya Idul Fitri (01 Syawal)
  • Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah)
  • Hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah)
  • Separuh terakhir dari bulan Sya'ban

Tata Cara dan Bacaan Niat Puasa Daud

Menurut buku Siapa Berpuasa Dimudahkan Urusannya karya Khalifa Zain Nasrullah, tata cara puasa Daud dikerjakan persis seperti puasa pada umumnya: menjauhkan diri dari hal pembatal dan menyegerakan berbuka saat maghrib tiba. Perbedaan mendasar hanya terletak pada pembacaan niatnya.

Lafal Niat Puasa Daud di Malam Hari

Idealnya, niat wajib dihadirkan di dalam hati sejak terbenamnya matahari hingga sebelum fajar menyingsing. Berikut lafalnya:

نَوَيْتُ صَوْمَ دَاوُدَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma dâwuda sunnatan lillāhi ta'ālā.

Artinya: “Saya berniat puasa Daud, sunnah karena Allah Ta'ala.”

Lafal Niat Puasa Daud di Siang Hari

Karena statusnya adalah ibadah sunnah, apabila detikers mendadak ingin berpuasa di pagi hari karena lupa berniat semalam, hukumnya tetap sah. Syaratnya, kamu belum makan, minum, atau melakukan pembatal puasa sejak subuh hingga sebelum matahari tergelincir (waktu zuhur). Berikut lafal niatnya:

نَوَيْتُ صَوْمَ هٰذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ دَاوُدَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma hâdzal yaumi 'an adâ'i sunnati dâwuda lillâhi ta'ālā.

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Daud hari ini karena Allah Ta'ala.”

Dengan demikian, tata cara, batas waktu, dan keutamaan puasa Daud sudah dijelaskan secara lengkap. Praktik ini menegaskan keseimbangan antara ibadah spiritual dan kebutuhan tubuh, serta menekankan pentingnya niat yang tulus. Puasa Daud menjadi contoh bagaimana konsistensi dalam ibadah dapat memperkuat hubungan dengan Allah serta menjaga kesehatan fisik dan mental.

Puasa DaudNabi Daudpola selang-selingkeutamaan puasaniat puasahari haramkeseimbangan spiritual

Komentar

Memuat komentar...