Syaiful Huda Tolak WFH, Dorong Transportasi Umum Lebih
Gambar atau konten salah?
Jakarta – Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda menolak kebijakan Work from Home (WFH) yang diberlakukan pemerintah untuk menghemat bahan bakar minyak. Ia menilai langkah tersebut tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
“Krisis energi yang kita hadapi saat ini harus menjadi pelecut bagi pemerintah. Kita tidak bisa terus-menerus terjebak dalam kebijakan reaktif seperti bekerja dari rumah (WFH) setiap kali harga minyak melonjak,” ujar Syaiful Huda, dikutip dari laman resmi PKB, Selasa 07 April 2024.
Huda mengusulkan alternatif yang lebih revolusioner: memperbaiki transportasi umum (transum). Dengan sistem ini, masyarakat tidak lagi mengandalkan mobil pribadi sebagai prioritas utama.
“Solusi permanennya adalah memindahkan mobilitas warga dari kendaraan pribadi ke transportasi umum yang mumpuni,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa ketergantungan pada kendaraan pribadi berbahan bakar bensin membuat ketahanan nasional rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Menurutnya, pembenahan transportasi massal bukan sekadar soal kenyamanan perkotaan, melainkan strategi pertahanan kedaulatan energi.
“Harus ada peta jalan jelas agar transportasi publik di Indonesia benar-benar menjadi tulang punggung transportasi yang nyaman, murah, dan menjangkau semua area,” tuturnya.
Huda menyebut bahwa kemunduran pembangunan angkutan umum di kota besar disebabkan oleh efisiensi anggaran. Ia menyerukan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah untuk menggerakkan sistem Buy The Service (BTS).
“Saat ini transportasi massal yang berjalan baik dan relatif terintegrasi hanya di Jakarta. Padahal kota-kota besar lain seperti Bandung, Surabaya, Semarang, Medan, Makassar, Palembang, sangat membutuhkan penanganan serius atas ketersediaan transportasi massal yang memadai,” ungkapnya.
Politisi PKB meminta pemerintah berani mengalihkan sebagian subsidi BBM kendaraan pribadi untuk memperkuat subsidi operasional atau Public Service Obligation (PSO) angkutan umum. Langkah ini bertujuan menjaga tarif transportasi massal tetap terjangkau dan memperluas layanannya.
“Jika terjangkau kami yakin transportasi publik akan jadi pilihan rasional masyarakat di tengah mahalnya biaya BBM,” kata dia.
Dengan menempatkan transportasi umum sebagai solusi utama, Huda berharap pemerintah dapat mengurangi ketergantungan pada BBM pribadi, sekaligus meningkatkan mobilitas warga secara berkelanjutan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BYD M6 DM Rp298 Juta, Harga Dekat Toyota Veloz Hybrid
BBM Pertamax Naik Rp16.250, Pertalite Tetap Rp10.000
Toyota Calya dan Honda Brio Pimpin Penjualan LCGC Turun 23%
Kawasaki Brusky 125 Dijual Rp 26,5 Juta, Hadapi Honda Vario 125
PT Pindad Siapkan Mobil Nasional di Subang Target 50.000
Honda HR-V Terbanyak Terjual di Segmen SUV Kompak 2026
Berita Terbaru
Denpasar Rilis Jadwal Shalat 14 Juni 2026: Subuh 05:09
Jaya Raya Jakarta Juara Yonex‑Sunrise Doubles 2026
Jadwal Sholat Minggu, 14 Juni 2026: Cirebon dan Sekitarnya
Cuaca Jawa Timur 14 Juni: Cerah Berawan Hingga Hujan Berat
Aquilani Jadi Pelatih Baru Sassuolo, Idzes Tantangannya
Perbanas Juara Campus League Basketball 2026, UBAYA Putri
Unpas Gelombang Kedua Wisuda, 1.075 Lulusan dan Kerja Sama
Brasil Hadapi Maroko 14 Juni 05.00 WIB di MetLife Stadium
Brasil vs Maroko: Piala Dunia 2026 Pagi Pukul 05.00 WIB
