Vietnam Melaju Jadi Macan Asia, Pelajaran Keras buat Indonesia

Rini S. · 4 min baca · 1 jam lalu · 18 dibaca
Bisik.id
Vietnam Melaju Jadi Macan Asia, Pelajaran Keras buat Indonesia

Gambar atau konten salah?

Sekitar sembilan tahun lalu, Forbes menerbitkan laporan pada 07 September 2016 yang menyebut Vietnam siap menjadi macan ekonomi Asia berikutnya. Saat itu, ekonomi Vietnam tumbuh 6,68% per tahun. Angka ini jauh di atas pertumbuhan Indonesia yang hanya 4,94%.

Modal utama Vietnam adalah populasinya yang mencapai 90 juta jiwa, dengan usia median sekitar 30,7 tahun. Sebagian besar adalah pekerja muda, berpendidikan, dan punya keterampilan tinggi. Laporan Forbes pada 2016 juga mencatat belanja pendidikan Vietnam mencapai 6,3% dari PDB. Data Bank Dunia dan UNESCO menunjukkan angka 4,4% pada tahun yang sama. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya mengalokasikan 3,3% PDB untuk pendidikan pada 2016.

Investasi besar di pendidikan membuahkan hasil. Peringkat global nilai matematika dan sains anak usia 15 tahun di Vietnam secara rutin mengalahkan Amerika Serikat dan Inggris. Tenaga kerja Vietnam punya kapasitas tinggi untuk menyelesaikan pekerjaan kompleks. Ketersediaan tenaga kerja terampil ini menjadi fondasi adopsi teknologi manufaktur terbaru yang masuk lewat investasi asing langsung.

Fenomena ini mengingatkan pada istilah "Macan Asia" yang dulu disematkan pada Korea Selatan, Taiwan, Singapura, dan Hong Kong. Julukan itu diberikan pada negara Asia yang mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi tinggi selama satu dekade atau lebih, mengalami kemajuan pesat di manufaktur, berinvestasi di teknologi, dan memiliki kapasitas inovasi yang kuat.

Syaratnya, negara itu harus punya sumber daya manusia berkualitas tinggi dengan angkatan kerja terdidik dan terampil lebih dari setengah total tenaga kerja. Vietnam memenuhi syarat ini. Global Innovation Index Vietnam pada 2026 naik ke peringkat 43, jauh meninggalkan Indonesia di peringkat 55. Nilai GII tinggi mencerminkan kemampuan negara bertransformasi menuju ekonomi berbasis inovasi yang digerakkan oleh riset dan pengembangan.

Keunggulan Vietnam atas Indonesia terletak pada kemampuannya membangun keterkaitan kuat antara inovasi domestik dengan luar negeri. Ini dilakukan lewat rantai pasok global, perdagangan barang berteknologi tinggi, digitalisasi, kekayaan intelektual, dan pengembangan perusahaan rintisan. Menurut Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia, ekonomi Vietnam lebih siap masuk ke 40 besar peringkat GII dibanding Indonesia. Indikatornya antara lain kapasitas riset yang luas, riset bisnis yang kuat, hubungan erat antara ilmu pengetahuan dan industri, serta kemampuan menghasilkan pengetahuan baru di dalam negeri.

Akibatnya, sejak satu dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Vietnam selalu di atas Indonesia, berkisar 6-7%. Sementara Indonesia terjebak di pertumbuhan 5%. Keajaiban ekonomi Vietnam berlanjut hingga kuartal pertama 2026 dengan pertumbuhan tahunan 8,15%. Angka ini naik menjadi 8,81% di kuartal kedua, dan melonjak ke 9,95% di kuartal ketiga 2026.

Sektor manufaktur menjadi kontributor utama, tumbuh 12,50% dan menyumbang 51,57% PDB. Sektor jasa tumbuh 9,54% dengan kontribusi 43,29% PDB. Sektor pertanian tumbuh paling rendah, 4,21%, dengan kontribusi hanya 5,14% PDB. Dari sisi permintaan, ekspor tumbuh 23,27% dan impor tumbuh 28,75%. Investasi tumbuh 21,39%, sementara konsumsi rumah tangga tumbuh 8,96%.

Hingga tiga kuartal 2026, pertumbuhan kumulatif Vietnam mencapai 9,01%. Target pemerintah adalah 10% pada 2026. Pertumbuhan ini didukung belanja infrastruktur yang sangat besar.

Apa yang bisa dipelajari dari kisah sukses Vietnam?

Pertama, kemampuan mendongkrak efisiensi ekonomi. Incremental Capital Output Ratio Vietnam turun dari lebih 6,5% pada 2016 menjadi 5,85% pada 2026. Targetnya 3,58-4,6% pada 2030.

Kedua, besarnya lapisan pekerja berpendidikan tinggi dan terampil yang menjadi penggerak inovasi teknologi. Sekitar 87,26% angkatan kerja Vietnam adalah lulusan pendidikan tinggi atau sederajat. Pekerja profesional ini menjadi faktor utama dalam mengadopsi teknologi manufaktur terbaru. Peringkat Economic Complexity Index Vietnam lebih baik dari Indonesia: Vietnam di peringkat 45, Indonesia di peringkat 69.

Ketiga, pemerintah Indonesia perlu belajar dari Vietnam dalam membangun kawasan industri terintegrasi. Vietnam memiliki kawasan seluas dua juta hektar. Indonesia hanya punya 24 ribu hektar.

Keempat, mendongkrak belanja riset dan pengembangan, baik oleh pemerintah maupun swasta. Targetnya, rasio belanja riset terhadap PDB naik dari 0,25% menjadi 1,0% hingga 2030.

Kelima, membangun keterkaitan kuat antara perguruan tinggi sebagai pusat pengetahuan dan riset dengan industri manufaktur nasional. Keterkaitan ini akan mempercepat lahirnya inovasi baru dan meningkatkan efisiensi.

Keenam, untuk mempercepat pengembangan kawasan industri terintegrasi, Indonesia bisa mengadopsi pendekatan aglomerasi ekonomi berbasis provinsi dan kabupaten/kota. Targetnya, memperluas kawasan menjadi satu juta hektar dalam lima tahun ke depan hingga 2030, dan dua juta hektar dalam 10 tahun hingga 2035.

Ketujuh, meningkatkan skor PISA Indonesia untuk menyamai Vietnam. Targetnya, skor sains naik dari 389 menjadi 457, matematika dari 364 menjadi 443, literasi membaca dari 365 menjadi 392, dan kemampuan pemecahan masalah komputasional dari 427 menjadi 461 dalam lima tahun ke depan.

Kedelapan, untuk masuk kelompok "Macan Asia baru", pemerintah perlu mendongkrak lapisan pekerja berpendidikan dan berketerampilan tinggi hingga lebih dari setengah angkatan kerja. Caranya, menata ulang kebijakan pendidikan dengan fokus pada pendidikan gratis dari sekolah menengah hingga pendidikan tinggi, terutama di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika.

Status Vietnam sebagai macan Asia baru memberikan pelajaran bagi negara tetangga: lompatan besar dimulai dari pembenahan fundamental, terutama di sektor pendidikan dan STEM. Pilihan ada di tangan kita—apakah hanya akan menjadi penonton, atau bersiap mengambil langkah berani untuk menyusul.

Artikel ini ditulis oleh Muhammad Syarkawi Rauf, dosen FEB Unhas dan Ketua ASEAN Competition Institute.

Vietnamekonomipendidikantenaga kerjamanufakturinovasiSTEM

Komentar

Memuat komentar...