Wabah Pes Prasejarah Ditemukan pada Pemburu-Pengumpul Siberia

Rizki W. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Wabah Pes Prasejarah Ditemukan pada Pemburu-Pengumpul Siberia

Gambar atau konten salah?

Sekitar 5.500 tahun lalu, sekelompok pemburu dan pengumpul di Siberia mengalami wabah pes yang mematikan. Temuan ini menjadi bukti paling awal keberadaan penyakit pes yang pernah tercatat dalam sejarah manusia.

Para peneliti yang mempelajari sisa-sisa kerangka dari Zaman Batu berhasil mengidentifikasi DNA kuno dari belasan individu. DNA tersebut mengandung strain bakteri Yersinia pestis yang sebelumnya belum pernah diketahui. Bakteri inilah yang menjadi penyebab tiga jenis pes: pes paru (pneumonik), pes bubo (bubonik), dan pes septikemik.

Penyakit yang menyerang para pemburu pengumpul ini kemungkinan besar adalah pes paru. Sumber penularannya diduga berasal dari marmot liar. Wabah ini diperkirakan menghancurkan kelompok-kelompok keluarga yang tinggal di sekitar Danau Baikal. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Nature.

DNA kuno yang ditemukan menunjukkan keberadaan gen unik. Gen ini bertugas mengode protein yang memicu respons imun secara besar-besaran. Hal ini mungkin bisa menjelaskan mengapa anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan meninggal akibat penyakit tersebut.

Penemuan dua wabah pes pada kelompok pemburu-pengumpul prasejarah ini mengubah pandangan lama. Sebelumnya, banyak ahli mengira epidemi pertama kali muncul setelah manusia mulai beralih ke sektor pertanian.

"Kami mendapatkan hasil yang sangat mengejutkan. Kami menemukan banyak sekali kasus pes di sini, jauh lebih awal dari yang kami perkirakan," kata Ruairidh Macleod, penulis utama studi tersebut. Ia adalah peneliti genomik kuno di University of Oxford.

Pes memang memainkan peran penting dalam sejarah manusia. Penyakit ini masih terus menginfeksi hingga saat ini. Namun kabar baiknya, kasus Y. pestis yang terdeteksi lebih awal kini sudah bisa diobati dengan antibiotik.

Menurut Eske Willerslev, penulis studi lainnya yang merupakan ahli genetika evolusioner di University of Copenhagen, memahami evolusi penyakit ini sangat penting. Pengetahuan ini bisa memberi gambaran tentang bagaimana Y. pestis bisa berubah di masa depan.

Wabah pes prasejarah

Berbagai penelitian sebelumnya sudah menunjukkan bahwa wabah pes pernah menghancurkan peradaban jauh sebelum Maut Hitam (Black Death) melanda Eropa pada abad ke-14. Saat itu, epidemi tersebut menewaskan sekitar 25 juta orang. Jumlah ini setara dengan 25 hingga 33 persen dari total populasi Eropa Barat pada masa itu.

Sebagai contoh, wabah pes berulang sudah terdeteksi pada periode antara 5.300 hingga 4.900 tahun lalu. Kelompok yang terkena saat itu adalah para petani di wilayah yang kini dikenal sebagai Skandinavia. Namun, para ahli masih memperdebatkan apakah galur pes awal ini benar-benar mematikan atau hanya menyebabkan penyakit ringan.

Sekarang, penelitian mendalam terhadap DNA kuno dari kelompok pemburu-pengumpul memberikan jawaban. Mereka dimakamkan di empat lokasi pemakaman di sepanjang tepi Sungai Angara. Sungai ini mengalir dari Danau Baikal. Hasil penelitian memberikan bukti terkuat bahwa galur pes prasejarah memang mematikan dan menyebabkan kematian massal.

Para peneliti menyadari ada sesuatu yang tidak biasa. Jumlah anak yang dimakamkan dalam rentang waktu singkat sangat tinggi. Tidak ada tanda-tanda kekerasan pada sisa-sisa kerangka mereka. Macleod dan timnya pun memutuskan untuk menyelidiki apakah DNA kuno bisa mengungkap misteri ini.

Tim peneliti mengekstraksi DNA kuno dari gigi 46 individu yang ditemukan di keempat pemakaman. Mereka memeriksa apakah ada hubungan kekerabatan di antara individu-individu tersebut. Hasilnya mengejutkan. Bakteri Y. pestis teridentifikasi dalam jumlah besar pada 18 individu.

Kasus-kasus ini mencakup dua wabah penyakit yang berbeda. Wabah pertama berlangsung sekitar 5.596 hingga 5.341 tahun yang lalu. Wabah kedua kemungkinan berlangsung antara 5.126 hingga 4.926 tahun lalu.

Beberapa makam berisi sisa kerangka sejumlah individu yang terinfeksi. Mereka dikuburkan pada waktu yang bersamaan. Ini mengindikasikan mereka tewas selama wabah yang sama. Satu makam menjadi tempat peristirahatan tiga gadis muda yang memiliki hubungan kekerabatan dekat. Makam lainnya berisi jenazah seorang keponakan dan bibinya.

"Pasti ada penyintas yang mengenal orang-orang ini ketika mereka masih hidup. Mereka tahu identitas dan hubungan biologis para korban. Karena itulah mereka bisa menguburkan jenazah-jenazah tersebut di liang lahat yang sama," jelas Macleod.

Konteks singkat: Penemuan ini menunjukkan bahwa wabah pes sudah ada jauh sebelum peradaban manusia berkembang pesat. Bakteri Y. pestis ternyata sudah menjadi ancaman bagi kelompok pemburu-pengumpul di Siberia ribuan tahun sebelum Maut Hitam melanda Eropa. Ini membuktikan bahwa penyakit pes bukanlah fenomena yang baru muncul bersamaan dengan pertanian, melainkan sudah ada sejak zaman prasejarah.

pes prasejarahYersinia pestispemburu-pengumpulSiberiaDNA kunoDanau Baikalwabah

Komentar

Memuat komentar...