16 Biksu Jepara Tempuh Pantura Panas, Bertujuan Perdamaian

Dwi H. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 96 dibaca
Bisik.id
16 Biksu Jepara Tempuh Pantura Panas, Bertujuan Perdamaian

Gambar atau konten salah?

Sejumlah 16 biksu melakukan perjalanan Thudong dari Candi Sima Jepara menuju Candi Sewu Klaten melalui jalur Pantura. Mereka semua merasakan tantangan cuaca panas saat berjalan.

Peserta termuda dan tertua sama-sama merasakan cuaca panas. Nyanakaruno Mahathera (60) adalah peserta tertua. Ia menyebut cuaca di sepanjang jalur pantura sangat panas.

"Luar biasa, ini yang yang trek yang luar biasa kali ini karena sangat panas sekali. Makanya kita banyak-banyak berhenti. Pertama saya sendiri kan yang memang yang paling tua jadi saya juga istirahatnya lebih, harus lebih banyak istirahat," kata Nyanakaruno di sela-sela istirahatnya di Masjid Al Falah Genuk, Kota Semarang, Minggu (24/5/2026).

Jalur Pantura yang dipilih menghubungkan berbagai kota pesisir di Jawa Tengah. Selama perjalanan, para biksu sering berhenti di tempat ibadah dan warung kecil untuk beristirahat dan minum. Suhu udara di sepanjang jalur ini sering mencapai puncak, sehingga setiap langkah terasa berat.

Menurut Nyanakaruno, perjalanan Thudong ini tidak semata-mata mengejar sampai. Peserta juga harus memperhatikan kekuatan tubuh agar perjalanannya bisa mencapai tujuan.

"Karena ini kan kita bukan mau mengejar sampai cepat harus jam berapa sampai, yang penting pas saat-saat makan itu kita sudah sampai di tempat," ucap Nyanakaruno.

"Boleh minum tapi kita harus duduk. Makanya kita kan di situ harus berhenti dulu. Kita kalau sambil berdiri kita enggak boleh. Jadi kita harus duduk dulu, cari satu tempat, kita duduk, kita minum," sambungnya.

Meski sebagai peserta tertua, Nyanakaruno punya tekad besar untuk menyelesaikan perjalanan dan membawa misi perdamaian.

"Peersiapannya sebenarnya ya niatan dan juga memang kita punya tujuan untuk karena kepedulian kita terhadap kondisi saat ini, ada persoalan-persoalan timbul satu perselisihan yang luar biasa," ujar Nyanakaruno.

"Sekarang kan juga baru didengungkan masalah moderasi. Ya mungkin dengan langkah-langkah nyata yang kita lakukan ini ternyata benar-benar moderasi itu dapat diterapkan," tambahnya.

Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga simbolik. Nyanakaruno menekankan bahwa setiap langkah di atas tanah Jawa adalah upaya untuk memperkuat rasa persaudaraan dan menanamkan nilai perdamaian di hati setiap orang yang terlibat.

Nyanakaruno terkesan dengan antusiasme dan solidaritas masyarakat di sepanjang perjalanan.

"Karena dengan perjalanan ini ternyata banyak sekali dari sahabat-sahabat kita, dari muslim juga memberi minum, memberi support banyak, ada makanan dan lain sebagainya," tutur Nyanakaruno.

Ia berharap perjalanan Thudong ini dapat menciptakan perdamaian, dimulai dari diri sendiri.

"Bangun perdamaian itu terutamanya dari dalam diri kita sendiri dan juga nanti bisa kita kembangkan di lingkungan masyarakat. Semoga ini juga bisa menggerakkan dunia untuk terus berpikir bahwa perdamaian itu adalah sumber kebahagiaan bagi setiap makhluk bagi semua makhluk," ungkap Nyanakaruno.

"Jadi bukan keserakahan, bukan ingin menguasai, tapi bagaimana kita timbul satu kepedulian yang nyata yang dapat diterapkan di tengah-tengah kita karena karena semua kan pasti ingin hidup damai. Katanya damai itu indah," lanjutnya.

Peserta termuda asal Boyolali bernama Samanera Niroda Rakitta (20) juga merasakan cuaca panas menjadi tantangan tersendiri.

"Tantangan cuaca ya, karena saya terbiasa tinggal di Boyolali di sana cuacanya dingin. Jadi, waktu berjalan dari Jepara sampai ke Demak ini cuacanya cukup menantang di mana hari-hari panas gitu. Jadi, harus membiasakan diri," kata Niroda.

Di sisi lain, Niroda menekankan bahwa generasi muda juga memiliki peran penting dalam menjaga tradisi. Ia berharap bahwa melalui Thudong, nilai-nilai Buddha dapat disebarkan lebih luas, terutama di kalangan remaja yang lebih mudah terpengaruh oleh teknologi.

Cuaca panas tidak menyurutkan semangat Niroda mewarisi tradisi Buddha sejak zaman dahulu. Ia ingin masyarakat mengenal Buddha lewat perjalanan Thudong.

"Thudong ini merupakan tradisi yang sudah ada dari sejak zaman Buddha dahulu. Jadi, sebagai generasi Buddha yang saat ini saya mewarisi pelajaran yang terdahulu agar kembali bisa dikenal masyarakat yang lebih luas," ujar Niroda.

Niroda mengaku sangat bahagia bisa mengikuti perjalanan Thudong. Sebagai generasi muda, tantangan lain yang dia hadapi adalah melawan ego.

"Kalau tantangan pasti ada tentang keduniawian yang sekarang semakin melejit, semakin canggih di era digital ini. Saya juga masih muda, masih punya ego dan keinginan. Ini merupakan suatu tantangan bagi saya pribadi. Namun saya sangat bahagia karena ini merupakan pengalaman pertama saya," tutur Niroda.

Dengan kombinasi keteguhan fisik, tekad spiritual, dan dukungan masyarakat, perjalanan Thudong ini menjadi contoh bagaimana tradisi kuno dapat tetap relevan di zaman modern. Peserta, baik yang berusia muda maupun tua, menunjukkan bahwa ketahanan, kesabaran, dan rasa persatuan dapat mengatasi tantangan cuaca panas sekaligus memperkuat pesan perdamaian yang diusung.

ThudongPanturaNyanakaruno MahatheraCandi Sewu KlatenPerdamaian BuddhaJeparaKlaten

Komentar

Memuat komentar...