186 Kasus HIV Baru di Malang per Mei 2026

Kartika D. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
186 Kasus HIV Baru di Malang per Mei 2026

Gambar atau konten salah?

Dinas Kesehatan Kota Malang melaporkan temuan 186 kasus baru HIV/AIDS dalam kurun waktu Januari hingga Mei 2026. Angka ini merupakan pembaruan dari data sebelumnya yang mencatat 97 kasus baru pada periode yang sama.

Kepala Dinkes Kota Malang, dr Husnul Muarif, menjelaskan bahwa data awal 97 kasus hanya mencakup temuan hingga Maret 2026. "Data kemarin 97 itu hanya sampai Maret. Untuk kasus baru sampai bulan Mei 2026, ada 186 kasus baru HIV," ujarnya kepada wartawan pada Selasa, 14 Juli 2026.

Dari total 186 kasus baru tersebut, kelompok Laki Seks Laki (LSL) mendominasi dengan jumlah sekitar 100 kasus. Angka ini mewakili lebih dari 90 persen dari seluruh temuan baru. "Berdasarkan data, jumlah LSL terbanyak, sekitar 100 kasus," tegas Husnul.

Dinkes Kota Malang mengidentifikasi lima kategori kelompok yang rentan terhadap HIV. Kelompok-kelompok tersebut meliputi LSL, ibu hamil, Wanita Pekerja Seks (WPS), pengguna jarum suntik, dan waria. Dari kelima kategori ini, LSL menjadi kelompok dengan jumlah kasus baru tertinggi.

Untuk mempercepat deteksi kasus, pemerintah kota telah menyediakan 16 layanan deteksi HIV yang tersebar di berbagai puskesmas dan rumah sakit. Fasilitas-fasilitas ini tidak hanya melayani pemeriksaan, tetapi juga perawatan, pengobatan, hingga pendampingan bagi Orang Dengan HIV (ODHIV).

Husnul menekankan perbedaan mendasar antara penanganan HIV dan tuberkulosis (TBC). Jika TBC cukup diobati selama enam bulan, penanganan HIV harus dijalani seumur hidup. Tujuannya agar jumlah virus tetap terkendali dan risiko penularan dapat ditekan.

Dinkes terus mendorong masyarakat, terutama mereka yang merasa memiliki faktor risiko, untuk mengikuti Voluntary Counseling and Testing (VCT) atau konseling dan tes HIV secara sukarela. "Kami mengedukasi masyarakat agar melakukan self-assessment, apakah dirinya memiliki faktor risiko atau tidak. Kalau merasa berisiko, silakan melakukan VCT. Layanan itu tersedia di 16 puskesmas," tandas Husnul.

Selain menemukan kasus baru, Dinkes juga memperkuat pendampingan terhadap ODHIV. Tujuannya agar mereka tetap menjalani terapi secara teratur. Pendampingan dilakukan melalui berbagai cara, antara lain:

  • Kemudahan akses layanan kesehatan
  • Kontrol rutin
  • Kepatuhan minum obat
  • Edukasi menghindari perilaku berisiko atau menggunakan alat pelindung
  • Dukungan dari keluarga, tenaga kesehatan, teman sebaya, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM)

Beberapa LSM seperti Sadar Hati dan Mahameru dilibatkan sebagai pendamping bagi ODHIV. "Beberapa LSM seperti Sadar Hati dan Mahameru itu kami libatkan sebagai pendamping bagi ODHIV untuk memastikan pengobatan berjalan optimal," kata Husnul.

Meski angka temuan di Kota Malang terbilang tinggi, Husnul menyebut bahwa dibandingkan daerah lain, angka ini masih di bawah Surabaya. "Kita masih di bawah Surabaya untuk penemuan kasus baru. Upaya pencegahan akan terus diperkuat karena setiap kasus baru berpotensi menjadi mata rantai penularan apabila tidak segera ditangani," pungkasnya.

Data ini menunjukkan bahwa meskipun upaya deteksi dan pendampingan terus dilakukan, kasus HIV/AIDS masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang serius di Kota Malang. Dominasi kelompok LSL dalam temuan kasus baru menjadi perhatian khusus dalam strategi pencegahan ke depan.

HIVAIDSMalangkasus baruLSLDinkesVCT

Komentar

Memuat komentar...