2.369 Lulusan SMK Kemenperin, 63,70% Terserap Industri
Gambar atau konten salah?
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengembangan tenaga kerja industri yang berkualitas. Tujuannya jelas: menciptakan SDM yang unggul, kompeten, siap kerja, dan mampu bersaing di tingkat global. Semua ini menjadi fondasi untuk mewujudkan mimpi Indonesia sebagai negara industri yang maju.
Langkah nyata dilakukan lewat pendidikan vokasi industri di jenjang SMK-SMAK dan SMK-SMTI. Kurikulumnya dirancang khusus agar sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Pendidikan vokasi ini dianggap sebagai investasi strategis untuk menyiapkan tenaga kerja terampil yang akan menjadi motor penggerak transformasi industri nasional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan pentingnya peran lulusan vokasi. Dalam keterangan tertulis pada Kamis, 16 Juli 2026, ia menyampaikan pesan tegas. "Tidak ada hilirisasi tanpa laboratorium dan tidak ada laboratorium tanpa analis. Tidak ada pabrik yang berjalan tanpa teknisi yang terampil. Cita-cita besar menjadikan Indonesia sebagai pusat manufaktur dunia tidak diwujudkan di ruang rapat, tetapi di meja laboratorium dan di lantai produksi. Di sanalah para lulusan SMK-SMAK dan SMTI akan mengambil peran penting," ujarnya.
Acara kelulusan tahun 2026 mengusung tema "Bersama Mencetak SDM Industri Unggul, Berdaya Saing Global dan Berkelanjutan". Sebanyak 2.369 siswa dari sembilan SMK binaan Kemenperin dinyatakan lulus. Sembilan sekolah itu tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Spesialisasinya beragam, mulai dari kimia industri, permesinan, otomasi industri, hingga mekatronika. Semua disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan sektor manufaktur di masing-masing wilayah.
Agus menyebut arah pembangunan industri nasional sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto. Visi itu adalah memperkuat industrialisasi dan hilirisasi di dalam negeri. Karena itu, keberadaan SDM industri yang kompeten menjadi faktor penentu keberhasilan transformasi tersebut. Ia juga berpesan agar kompetensi dibarengi dengan kejujuran dan integritas. "Hasil kerja seorang analis maupun teknisi akan dipercaya karena dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Menjaga integritas berarti menjaga mutu produk Indonesia, melindungi konsumen, sekaligus memperkuat daya saing industri nasional di pasar global," pesan Agus.
Pendidikan di SMK Kemenperin diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri yang kompeten dan siap kerja. Caranya dengan menyelaraskan kurikulum dengan standar kompetensi industri. Ada juga pelaksanaan praktik kerja industri berbasis sistem ganda. Penguatan teaching factory dan kelas industri juga dilakukan. Sertifikasi kompetensi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi menjadi bagian dari proses.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI), Doddy Rahadi, mengatakan kualitas lulusan sekolah vokasi Kemenperin sudah diakui dunia industri. Hingga Juli 2026, sebanyak 1.483 orang atau 63,70% dari total 2.369 lulusan telah terserap bekerja di berbagai perusahaan industri. "Capaian ini menunjukkan bahwa kompetensi lulusan SMK Kemenperin sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri," ucap Doddy.
Lulusan SMK Kemenperin terserap di berbagai perusahaan manufaktur nasional. Beberapa di antaranya adalah PT Mayora Indah Tbk, PT Panasonic Gobel Energy Indonesia, PT Astra Daihatsu Motor, PT Toyota Boshoku Indonesia, PT Adhi Chandra Jaya, PT Sucofindo, PT LAPI Laboratories, PT Alamanda Global Health, serta sejumlah perusahaan manufaktur lainnya.
Bagi lulusan yang masih dalam proses rekrutmen, BPSDMI bersama SMK akan memberikan asistensi selama tiga bulan ke depan untuk pencarian kerja. Jika dalam enam bulan masih belum terserap, akan diberikan program penguatan kompetensi spesifik. Fasilitasi pemagangan juga disediakan untuk mempercepat penempatan kerja.
Selain tingkat penyerapan kerja yang tinggi, sekolah vokasi Kemenperin juga semakin diminati masyarakat. Pada tahun ajaran 2026, rasio pendaftar terhadap daya tampung mencapai 1:12,2. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 1:10,7. Artinya, setiap satu kursi diperebutkan oleh sekitar 12 calon peserta didik.
"Untuk menjaga kualitas penyelenggaraan pendidikan vokasi, BPSDMI akan terus memperkuat pembinaan dan evaluasi terhadap penyelenggaraan pendidikan di SMK-SMAK dan SMK-SMTI. Langkah ini diarahkan untuk menjaga konsistensi mutu, meningkatkan tata kelola satuan pendidikan, serta memastikan setiap program pendidikan menghasilkan lulusan yang semakin kompeten, adaptif dan siap menjawab kebutuhan industri," pungkas Doddy.
Angka penyerapan kerja yang mencapai 63,70% dalam waktu singkat menunjukkan bahwa lulusan SMK binaan Kemenperin memang dicari industri. Minat masyarakat yang tinggi, dengan rasio pendaftar 1:12,2, juga menandakan kepercayaan terhadap kualitas pendidikan vokasi ini. Ke depannya, pembinaan dan evaluasi berkelanjutan akan menjadi kunci untuk menjaga mutu dan relevansi lulusan dengan kebutuhan industri yang terus berubah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Prabowo Puji CEO Inpex Takayuki Ueda Bisa Bahasa Indonesia
Pertamina Minta Maaf Atas Antrean BBM di Sumatera
Harga BBM Naik, Konsumsi Subsidi Melonjak
Pertamina Normalisasi Distribusi BBM Sumut 24 Jam
Antrean BBM di SPBU, Pemerintah Janji Normal 2 Hari
BPH Migas Temukan Kecurangan BBM Subsidi Pakai QR Code Ganda
Berita Terbaru
2.369 Lulusan SMK Kemenperin, 63,70% Terserap Industri
Prabowo Puji CEO Inpex Takayuki Ueda Bisa Bahasa Indonesia
Pertamina Minta Maaf Atas Antrean BBM di Sumatera
Harga BBM Naik, Konsumsi Subsidi Melonjak
Pertamina Normalisasi Distribusi BBM Sumut 24 Jam
Antrean BBM di SPBU, Pemerintah Janji Normal 2 Hari
BPH Migas Temukan Kecurangan BBM Subsidi Pakai QR Code Ganda
IHSG Menguat 66 Poin, Tren Bulanan Masih Negatif