Aceh Barat Daya Produksi 15 Ribu Lemang Rekor MURI

Vera T. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 68 dibaca
Bisik.id
Aceh Barat Daya Produksi 15 Ribu Lemang Rekor MURI

Gambar atau konten salah?

15 ribu batang lemang diproduksi secara massal oleh warga Aceh Barat Daya (Abdya) dalam rangka memecahkan rekor Museum Rekor‑Dunia Indonesia (MURI). Kegiatan ini sekaligus merayakan ulang tahun ke‑24 daerah yang dijuluki Nanggroe Breuh Sigupai.

Sabtu, 25 April 2026, proses pembuatan lemang berlangsung di bantaran sungai Krueng Beukah, di Gampong Lhung Asan dan Lhung Tarok, Kecamatan Blangpidie. Setiap desa membawa 50 batang bambu, yang telah diisi beras serta bahan lain yang diperlukan.

Di depan tenda perdesa, warga membentuk barisan bambu yang diatur rapi di dekat kayu bakar. Panitia memberikan nomor setiap desa untuk memudahkan pendataan, sehingga setiap lemang dapat dilacak asalnya.

Proses dimulai sejak pagi. Bambu yang sudah diisi bahan ditempatkan di dekat kayu bakar, dengan api yang terus dikontrol. “Kalau apinya pas, 2 jam lemang ini sudah bisa kita nikmati. Untuk proses membuat lemang ini sudah kami lakukan sejak jam 3 pagi tadi,” kata Pengurus PKK Desa Blang Dalam, Kecamatan Babahrot, Syarifah Marhamah kepada wartawan.

Syarifah menambahkan bahwa lemang yang mereka buat mengandung lebih banyak rempah‑rempah, sehingga rasanya berbeda dengan lemang di tempat lain. Di Abdya, lemang biasanya dimasak saat momen‑momen tertentu seperti meugang, dan disantap bersama tape hingga durian. Ia mengajak generasi muda untuk merawat tradisi tersebut.

“Jangan pernah meninggalkan karena lemang ini adalah tradisi nenek moyang kita,” jelasnya.

Bupati Aceh Barat Daya, Safaruddin, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar memecahkan rekor MURI, melainkan juga menjadi simbol semangat gotong‑royong dan kekompakan di tengah masyarakat. Dalam acara tersebut, tercipta 15 ribu batang lemang dan 35 ribu tape.

Ia menambahkan, “Kegiatan ini juga untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat lokal. Kalau dulu harga bambu ini Rp 2 ribu, sekarang menjadi Rp 8 ribu. Kebutuhannya ini sangat tinggi.” Menurutnya, lemang merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan. “Tradisi ini harus kita wariskan turun‑turun dan ini gak boleh kita hilangkan. Menurut saya ini bagian kita melestarikan nilai kebudayaan, dan Alhamdulillah kita hari ini bukan hanya memecahkan rekor Indonesia, tapi rekor dunia. Ini bukan hanya sekadar prestasi, tapi juga bagian kita menunjukkan Abdya sedang berkolaborasi,” ujar Safaruddin.

Dalam acara-acara tertentu, masyarakat di sana kerap membuat lemang dalam jumlah ganjil seperti 3, 5 atau 7. Tradisi ini tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya lokal.

Acara ini menegaskan bahwa upaya memelihara tradisi kuliner sekaligus memacu ekonomi lokal dapat berjalan bersamaan. Melalui kerja sama antar desa dan dukungan pemerintah, Abdya menunjukkan bahwa warisan budaya dapat dijaga sambil tetap relevan dengan kebutuhan zaman.

lemangrekom MURIAceh Barat Dayatradisi kulinerekonomi lokalbambutapegotong-royong

Komentar

Memuat komentar...