Bagus Hernawan: Perjalanan 20 Tahun Menggenggam Apple
Gambar atau konten salah?
Apple merayakan usianya yang ke-50 pada tahun 2026, dan kisah para penggemar setianya menjadi sorotan. Di Indonesia, salah satu nama yang paling dikenal adalah Bagus Hernawan, seorang Apple enthusiast sekaligus pengelola Appleisme.id. Perjalanan Bagus bersama Apple tidak semula berasal dari keinginannya sendiri, melainkan dari sebuah hadiah.
Di 2006, saat kuliahnya masih baru, orang tua Bagus memberi hadiah MacBook White berprosesor Intel Core 2 Duo. Modelnya adalah MB403, sebuah angka yang begitu berkesan hingga menjadi username Twitter-nya, @bhaguz_403, yang masih aktif hingga kini.
“Waktu pertama kali menggunakan Mac itu langsung amaze banget, karena sudah bisa dipakai begitu unboxing. Sistem operasi sudah terinstal, tinggal bikin Apple ID dan semuanya siap dipakai,” ungkap Bagus saat berbincang dengan media.
Pengalaman “langsung pakai” itu menjadi pembeda besar di zamannya. Tanpa instalasi rumit, tanpa setup panjang‑semuanya terasa instan dan seamless. Rasa penasaran pun berubah menjadi ketertarikan yang semakin dalam.
Setelah itu, Bagus membeli iPod Touch generasi keempat dengan uang sendiri. Niatnya sederhana: belajar membuat aplikasi iOS untuk skripsi. Namun rencana itu kandas karena sulitnya mencari mentor programmer iOS pada masa tersebut.
Yang justru memperdalam ketertarikannya pada ekosistem Apple adalah sang dosen. Dalam mata kuliah Sistem Operasi, dosennya yang menggunakan MacBook Black berpesan: “Kalian sebagai mahasiswa Teknologi Informatika harusnya explore banyak sistem operasi.”
Sejak itulah Bagus mulai serius menggali dunia Mac. Menurutnya, sebelum memiliki MacBook, ia sudah lebih dulu bergabung dengan forum Mac Club Indonesia—komunitas pengguna Apple yang menjadi rumah digitalnya selama hampir dua dekade.
Di forum itu, Bagus belajar dan berbagi. Ia juga aktif di dunia offline: kopdar dan gathering rutin digelar di berbagai kota seperti Jakarta dan Surabaya. Saat tinggal di Yogyakarta, ia menggelar gathering lokal pertama yang hanya dihadiri empat orang, namun menjadi awal komunitas yang terus berkembang.
Keaktifannya membuat ia dipercaya menjadi “kepala suku” Mac Club Indonesia regional Yogyakarta oleh moderator forum. Puncaknya, pada 2010, ia berhasil menggelar Gathering Nasional Mac Club Indonesia yang dihadiri sekitar 50 anggota dari berbagai kota.
Menjelang lulus kuliah, Bagus mencari penghasilan tambahan sebagai penulis lepas. Ia bergabung dengan majalah PC Plus dan menemukan ironi yang tak terlupakan. “Lucunya, saya menulis tentang Macintosh di majalah yang namanya PC,” katanya sambil tersenyum.
Pengalaman itu justru menjadi batu loncatan. Saat melamar ke MakeMac, ia membawa tulisan tersebut sebagai portofolio. Keputusan itu terbukti tepat. Ia diterima dan memulai karier di dunia media teknologi. Dari MakeMac, ia kemudian menjabat Editor in Chief, sebelum akhirnya mengelola Appleisme.id sebagai platform enthusiast independen.
Selama 20 tahun menjadi fanboy Apple, Bagus memiliki banyak momen berkesan. Salah satu yang unik adalah kebiasaannya membeli iPhone baru setiap tahun di Apple Store—dengan satu “ritual” khusus. Ia selalu mengenakan kaus bergambar Steve Jobs.
“Saya ajak Steve Jobs untuk lihat iPhone terbaru,” ujarnya sambil tertawa, menirukan respons khas Apple Genius yang sering mengajaknya berbincang.
Namun, momen paling membekas datang dari layanan Apple. Saat Apple mengumumkan program recall iPod Nano generasi pertama karena masalah baterai, Bagus ikut serta. Padahal perangkat yang ia miliki sudah rusak dan hanya dijadikan pajangan.
Apple menggantinya dengan iPod Nano generasi keenam—gratis. “Padahal jarak rilisnya jauh banget. Tapi Apple tetap mengutamakan pelanggan,” jelas Bagus.
Bagus juga sudah lama berjualan aksesori Apple sejak kuliah. Awalnya sekadar membantu teman. Namun saat pindah ke Jakarta, aksesnya ke pasar Apple semakin luas. Ia mulai mengenal jaringan penjual, produk non‑authorized, hingga jasa servis.
Puncaknya terjadi saat pandemi. Ketika toko‑toko di Mangga Dua dan ITC tutup akibat PSBB, banyak orang mencari MacBook bekas untuk kebutuhan kerja dan kuliah online. Bagus melihat peluang itu. Ia memotret produk dari temannya, lalu mengunggahnya ke Twitter. Hasilnya di luar dugaan—postinganannya viral.
Sejak saat itu, aktivitas jual beli produk Apple menjadi rutinitas yang terus berjalan hingga sekarang. Dengan pengalaman panjang di pasar Apple second, Bagus punya dua tips penting:
- Pastikan akun pemilik lama sudah sign out.
- Cek kondisi layar dengan teliti. “Harga perbaikan layar biasanya mahal sekali,” tegasnya.
Bagus Hernawan, bersama tech reviewer, telah menorehkan 20 tahun yang tak terasa. Di usia Apple yang ke-50, ia masih berada di jalur yang sama—menulis, berbagi, berjualan, dan menjaga komunitas yang ia bantu tumbuhkan sejak awal. Tidak karena tren. Tidak juga karena sekadar suka. Tetapi karena perjalanan itu sudah menjadi bagian dari hidupnya. Dan semuanya, dimulai dari satu MacBook putih untuk kuliah.
Perjalanan Bagus mencerminkan bagaimana sebuah hadiah sederhana dapat membuka pintu ke dunia teknologi, membentuk komunitas, dan menciptakan karier yang berkelanjutan. Ia tetap menjadi contoh bagi para penggemar Apple di Indonesia, menunjukkan bahwa ketertarikan yang tulus dapat berkembang menjadi kontribusi nyata bagi industri dan komunitas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Rupiah Menembus Rp 18.000 Pagi Saat Dolar Tembus 18k Indonesia
Safari Apple: Kecepatan, Baterai, dan Privasi Unggul
Scammer Solo Baru Target Warga AS, Polda Jawa Tengah
Fabiola Elizabeth Tersangka Penipuan Online Internasional
Paula Hurd & Bill Gates Bersinergi di Breakthrough Prize 2026
Praearcturus Gigas: Kalajengking Raksasa 1 Meter di Era Devon
Berita Terbaru
Prancis Jadi Negara dengan Pemain Terbanyak Piala Dunia 2026
Knicks Kalahkan Spurs 105-95, Brunson 30 Poin di Frost
Sony Beri 3 Game PS4/PS5 Gratis untuk Anggota PS Plus
Kucing Terapi Pinecone Jadi Asisten Guru Seni Rhode Island
Pemerintah, DPR Setujui UU P2SK, Reformasi Keuangan
DPR Setujui RUU P2SK, Mulai Tahap Akhir Persidangan
