Bahlil: Kulit Hitam Jadi Modal Lobi Minyak ke Afrika
Gambar atau konten salah?
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membagikan kisah menarik di balik negosiasi pasokan bahan bakar minyak (BBM) dari Afrika. Kisah ini terjadi saat Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dari Timur Tengah, ditutup. Dalam sambutannya saat melantik pengurus DPD Golkar Aceh di Banda Aceh pada Sabtu, 11 Juli 2026, Bahlil yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar itu menyelipkan candaan. Ia mengatakan bahwa warna kulitnya yang gelap, mirip dengan pejabat-pejabat di Afrika, menjadi keuntungan tersendiri saat melobi.
Bahlil menjelaskan situasi energi Indonesia saat itu. Konsumsi BBM harian di dalam negeri mencapai sekitar 1,6 juta barel. Namun, produksi atau lifting minyak bumi hanya mampu mencapai 600 ribu barel per hari. Artinya, ada kekurangan 1 juta barel yang harus dipenuhi dari luar negeri. Sebagian besar pasokan impor itu sebelumnya berasal dari negara-negara Timur Tengah yang dikirim melalui Selat Hormuz.
Masalah muncul ketika perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel memanas. Teheran kemudian menutup Selat Hormuz. Akibatnya, jalur impor minyak dari Timur Tengah terputus. Pemerintah Indonesia pun harus mencari sumber alternatif, salah satunya dari beberapa negara di Afrika.
"Untung saja di Afrika itu kan model pejabatnya seperti orang Papua. Hitam seperti saya. Jadi pada saat saya Zoom sama mereka, mereka pikir mungkin kita ini satu keluarga. Jadi dikasih juga gitu kan. Di Afrika, di Angola gitu," ujar Bahlil disambut tawa hadirin.
Ia melanjutkan candaannya, "Bayangkan kalau saya putih, tidak percaya mereka kan gitu. Jadi ada untungnya juga jadi bolu ketan itu. Ada untungnya juga. Jadi negosiasi minyak kita, itu alhamdulillah kita bisa dapat dari Afrika, dari beberapa negara di Amerika Latin."
Lebih lanjut, Bahlil menyampaikan bahwa saat ini pasokan BBM tidak lagi bergantung pada Timur Tengah. Indonesia kini mengimpornya dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Ia juga memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa harga BBM bersubsidi tidak akan naik.
"Dan jauh lebih penting daripada itu adalah harga BBM subsidi, sampai dengan 100 dolar harga ICP, InsyaAllah tidak akan kita naikkan. Tidak akan kita naikkan. Karena itu adalah kepentingan rakyat. Sekarang yang kita perintahkan itu adalah sosialisasinya yang harus bagus. Itu menyangkut dengan persoalan BBM dan Golkar harus berada pada garda terdepan untuk mendukung program-program pemerintah," tegas Bahlil.
Cerita ini menunjukkan bagaimana faktor personal dan diplomatis, sekaligus humor, ikut berperan dalam upaya pemerintah mengamankan pasokan energi nasional saat menghadapi krisis geopolitik global. Keputusan untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi juga menjadi prioritas utama di tengah tekanan harga minyak dunia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil: Kulit Hitam Jadi Modal Lobi Minyak ke Afrika
Maryland Bayar Rp26 Juta Per Trip Basmi Lele Invasif
Prancis & Spanyol Lolos ke Semifinal Piala Dunia 2026
Norwegia vs Inggris: Ujian Perempat Final Piala Dunia
Swiss Tantang Argentina di Perempatfinal Piala Dunia
Bezzecchi Patah Tulang Selangka, Absen MotoGP Jerman
Wally Funk, Penerbang Legendaris, Meninggal di 87 Tahun
