Bamsoet: Kargo Udara Kunci Daya Saing Ekonomi
Gambar atau konten salah?
Pendiri PT Raffles Global Angkasa (RGA), Bambang Soesatyo, yang akrab disapa Bamsoet, melihat bisnis penerbangan kargo sebagai sektor yang sangat menjanjikan. Ia menilai sektor ini bisa menjadi mesin baru bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pandangan ini muncul seiring dengan meningkatnya kebutuhan untuk mendistribusikan barang-barang bernilai tinggi, melonjaknya perdagangan elektronik, aktivitas ekspor manufaktur, serta pengembangan kawasan industri di berbagai penjuru negeri.
Indonesia adalah negara kepulauan. Kondisi geografis ini membuat konektivitas lewat udara menjadi sangat penting secara strategis. Terutama untuk mengangkut barang-barang yang memerlukan kecepatan, ketepatan waktu, keamanan ekstra, dan pengendalian suhu yang ketat. Data dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mencatat, volume kargo angkutan udara di Indonesia mencapai sekitar 1,47 miliar kilogram sepanjang tahun 2025. Sementara itu, hingga tanggal 23 September 2026, data sementara sudah menembus angka sekitar 1,14 miliar kilogram. Angka-angka ini membuktikan bahwa pasar angkutan udara memiliki basis permintaan yang sangat besar, dan ruang untuk terus tumbuh masih terbuka lebar.
Bamsoet menekankan, Indonesia perlu mengubah cara pandang terhadap penerbangan kargo. "Indonesia perlu melihat penerbangan kargo sebagai bagian strategis dari infrastruktur ekonomi, bukan semata-mata sebagai bisnis transportasi," ujarnya dalam keterangan resmi pada Jumat, 25 September 2026. Ia menyampaikan hal ini saat menandatangani kerja sama penambahan dua armada pesawat kargo antara Raffles Global Angkasa (RGA) dengan Bank Mandiri. Acara penandatanganan berlangsung di Kantor Pusat RGA-Black Stone Airlines, JB Tower Kebon Sirih, Jakarta, pada Kamis, 24 September 2026.
"Kita membutuhkan jaringan kargo udara yang mampu menghubungkan kawasan produksi dengan pasar domestik dan internasional secara cepat, efisien, serta terintegrasi dengan pelabuhan, jalan tol, kereta api, pergudangan dan kawasan industri. Kalau konektivitas barang kita semakin kuat, biaya logistik bisa ditekan dan daya saing produk Indonesia ikut meningkat," tambah Bamsoet. Penambahan dua pesawat BOEING 737-800SF ini bertujuan untuk memperkuat armada kargo udara nasional Black Stone Airlines. Sebelumnya, sejak tahun 2022, sudah ada enam pesawat yang beroperasi.
Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar ini kemudian memaparkan tantangan terbesar yang dihadapi industri penerbangan kargo di Indonesia. Tantangan itu adalah menciptakan ekosistem yang membuat angkutan udara mampu bersaing dengan moda transportasi laut dan darat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, barang yang diangkut melalui angkutan udara domestik sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai 671,1 ribu ton. Angka ini relatif stabil jika dibandingkan dengan tahun 2024, dengan pertumbuhan yang hanya sekitar 0,01 persen. Pada Desember 2025, angkutan udara domestik bahkan mencatat pengangkutan sebanyak 57 ribu ton barang, atau naik 4,97 persen secara tahunan.
Kondisi ini menunjukkan potensi pasar yang masih sangat besar. Namun, Bamsoet mengingatkan, pengembangan bisnis kargo udara perlu didukung oleh berbagai faktor. Efisiensi biaya menjadi kunci. Kepastian jadwal penerbangan juga penting. Fasilitas pergudangan yang memadai, layanan ground handling yang profesional, serta konektivitas antarmoda yang lebih baik mutlak diperlukan. "Yang dibutuhkan industri adalah konsep dari pintu pabrik sampai pintu konsumen atau pasar ekspor. Pesawat kargo harus terkoneksi dengan pusat produksi, kawasan industri, fulfillment center, gudang berikat, pelabuhan dan jaringan distribusi. Dengan begitu, kargo udara menjadi bagian dari rantai pasok, bukan sekadar alat memindahkan barang dari satu bandara ke bandara lain," kata Bamsoet.
Menurut Bamsoet, perubahan struktur industri di Indonesia akan menciptakan jenis permintaan baru bagi penerbangan kargo. Proses hilirisasi mineral, industri farmasi, produk elektronik, komponen otomotif, manufaktur berteknologi tinggi, hasil perikanan segar, dan produk pertanian bernilai tinggi, semuanya membutuhkan sistem logistik yang lebih cepat. Dalam kondisi seperti ini, keberhasilan industri kargo udara tidak bisa hanya diukur dari jumlah tonase barang yang diangkut. Nilai ekonomi dari barang-barang tersebut juga menjadi ukuran penting. Barang bernilai tinggi dan sensitif terhadap waktu berpotensi memberikan keuntungan yang lebih baik bagi operator dibandingkan komoditas berukuran besar dengan nilai ekonomi yang lebih rendah.
"Hilirisasi jangan berhenti ketika bahan mentah sudah berubah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Kita harus memastikan produk tersebut bisa bergerak cepat menuju pasar. Misalnya komponen elektronik, perangkat industri, produk farmasi, suku cadang kendaraan, sampai produk perikanan segar. Untuk barang seperti itu, waktu adalah bagian dari nilai ekonomi. Di sinilah penerbangan kargo memiliki keunggulan yang sulit digantikan moda lain," tutur Bamsoet.
Bamsoet menambahkan, pengembangan kargo udara juga harus diarahkan untuk membangun pusat-pusat logistik udara baru di luar Pulau Jawa. Indonesia memiliki banyak sentra produksi komoditas unggulan, kawasan industri, destinasi pariwisata, dan wilayah kepulauan yang membutuhkan konektivitas cepat. Bandara di kawasan seperti Batam, Balikpapan, Makassar, Manado, Denpasar, dan Papua dapat dikembangkan sesuai dengan karakteristik pasar masing-masing. Kehadiran pesawat kargo berbadan kecil hingga menengah juga bisa menjadi solusi untuk menjangkau wilayah yang volume muatannya belum cukup besar bagi pesawat kargo berbadan lebar. Data registrasi pesawat sipil tahun 2026 menunjukkan sejumlah operator telah menggunakan pesawat untuk kebutuhan kargo dan distribusi regional, termasuk Boeing 737-300F serta berbagai jenis pesawat turboprop.
"Kita membutuhkan model bisnis yang fleksibel. Tidak semua daerah membutuhkan pesawat kargo berbadan besar. Untuk Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi atau kawasan kepulauan lainnya, pesawat berkapasitas lebih kecil bisa menjadi penghubung dari sentra produksi menuju hub utama. Dari sana barang dapat diteruskan ke Jakarta, Singapura, Kuala Lumpur, Hong Kong, Shanghai atau pusat perdagangan lainnya. Konsep hub and spoke seperti ini harus dikembangkan secara serius," pungkas Bamsoet.
Singkatnya, Bamsoet mendorong pengembangan kargo udara sebagai tulang punggung logistik nasional. Ia menekankan pentingnya integrasi antarmoda dan pembangunan hub regional di luar Jawa. Kuncinya adalah fleksibilitas, efisiensi, dan menjadikan kargo udara sebagai bagian tak terpisahkan dari rantai pasok industri modern Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Prabowo Kritik 8 Perda Izin Bakar Lahan 2 Hektare
DJKN Dorong SMV Optimalkan Program Kemiri NTB
Prabowo Peringatkan Perusahaan Soal Aturan Lahan
Bank Mandiri Permudah Bisnis Lewat Livin' Merchant
ANTAM Serap 9 Ton Emas dari Freeport Sepanjang 2026
Mentan Perintahkan Percepat Proyek Ayam Terintegrasi