Banjir 2025: 58 Orangutan Tapanuli Tewas, Populasi 11%

Tika M. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Banjir 2025: 58 Orangutan Tapanuli Tewas, Populasi 11%

Gambar atau konten salah?

Di akhir tahun 2025, Sumatra diserang banjir dan longsor yang menambah beban bagi orangutan Tapanuli, spesies yang sudah berada di ambang kepunahan. Bencana tersebut membuat populasi mereka semakin menipis.

Seorang peneliti mengutip hasil publikasi di jurnal Current Biology yang menunjukkan bahwa 58 orangutan Tapanuli tewas akibat longsor yang dipicu oleh banjir dari Siklon Tropis Senyar. Angka tersebut setara dengan 11 % dari populasi yang tinggal di wilayah tersebut, atau 7 % dari total populasi di alam liar. Penelitian menegaskan bahwa angka ini bersifat konservatif, karena belum menghitung kerusakan kanopi akibat hujan terus menerus atau berkurangnya ketersediaan makanan.

Hingga kini, populasi orangutan Tapanuli di alam liar kurang dari 800 ekor. Menurut klasifikasi IUCN Red List, status mereka adalah critically endangered atau terancam kritis. Temuan tersebut menegaskan bahwa curah hujan ekstrem dapat mengancam kelangsungan hidup orangutan secara langsung.

Para ahli satwa liar sebelumnya mencatat penampakan orangutan Tapanuli berkurang setelah badai, yang memicu spekulasi bahwa kera besar itu tersapu oleh banjir dan tanah longsor. Peneliti menegaskan bahwa Siklon Tropis Senyar merupakan peristiwa anomali, namun perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia juga memiliki peran besar.

Studi ini menunjukkan bahwa orangutan Tapanuli terancam punah jika populasi berkurang lebih dari 1 % dalam satu tahun. “Jadi, jika terjadi peristiwa di mana sekitar 58 individu terbunuh dari 580, itu sekitar 10 sampai 11% dari populasi di sana dan 7% dari total populasi spesies tersebut,” kata Profesor Sergei Vich, ahli primatologi di Liverpool John Moore University dan salah satu penulis studi, seperti dikutip dari BBC, Senin (15/6/2026). “(Tingkat kematian) itu jauh melampaui kemampuan hewan-hewan ini untuk bertahan. Jadi ini adalah peristiwa yang sangat besar.

Peneliti menutup laporan dengan pernyataan: “Melalui penguatan perlindungan domestik, perencanaan yang responsif terhadap perubahan iklim, serta bantuan keuangan dan teknis dari global, kita masih dapat mencegah kepnunahan modern pertama dari spesies kera besar,” tulis tim peneliti.

Dengan populasi yang menurun drastis dan ancaman lingkungan yang terus meningkat, upaya pelestarian orangutan Tapanuli menjadi sangat penting. Tanpa intervensi cepat, spesies ini berpotensi hilang dalam dekade mendatang, menandai kehilangan satu makhluk unik di dunia.

Orangutan Tapanulibanjir dan longsorSiklon Tropis Senyarpopulasi menipisIUCN Red Listperubahan iklimpelestarian

Komentar

Memuat komentar...