Banjir Luwu Utara: 3.242 KK Terdampak, Darurat Hingga 31 Mei
Gambar atau konten salah?
Luwu Utara, kabupaten di Sulawesi Selatan, mengalami banjir yang melanda sebagian wilayahnya. Banjir terjadi karena curah hujan tinggi dan tanggul jebol. Pemerintah kabupaten memutuskan status tanggap darurat hingga 31 Mei 2026.
Sebanyak 3.242 kepala keluarga terdampak. Terdapat 6 kecamatan yang terkena dampak, namun tiga di antaranya paling parah.
Bupati Lutra, Andi Abdullah Rahim, mengatakan banjir memengaruhi enam kecamatan sejak Kamis (11 Mei 2026). Ia menegaskan bahwa status tanggap darurat telah ditetapkan pada Kamis (18 Mei 2026) hingga Minggu (31 Mei 2026).
"Sejak tanggal 18 Mei kita telah tetapkan status tanggap darurat atau darurat bencana, ada 6 kecamatan yang berdampak, cuma yang terparah berada di 3 kecamatan," kata Abdullah Rahim kepada detikSulsel, Kamis (28/5/2026).
Tiga kecamatan yang paling parah adalah Kecamatan Malangke, Kecamatan Malangke Barat, dan Kecamatan Baebunta Selatan. Di Malangke terdampak 1.999 KK, di Malangke Barat 805 KK, dan di Baebunta Selatan 438 KK.
Kepala BPBD Lutra, Agunawan, menegaskan bahwa lokasi terparah berada di Desa Beringin Jaya, Kecamatan Baebunta Selatan. Rumah warga di tiga dusun di desa tersebut sudah tidak dapat ditempati.
"Saat ini kondisinya hampir sama, cuma yang terendam betul kemarin dan tidak dapat ditempati akibat banyak pasir dan kayu yakni 3 dusun di Beringin Jaya, yaitu Seruni, Melati dan Anggrek," ungkapnya.
Agunawan menjelaskan ketinggian air bervariasi antara 40 cm hingga 120 cm di wilayah terdampak. Ia menekankan bahwa curah hujan masih tinggi, sehingga banjir dapat memperparah.
"Jadi memang dari BMKG per tanggal 31 Mei masih rawan dan masyarakat harus siap siaga, karena curah hujan yang masih begitu tinggi," bebernya.
Agunawan menambahkan bahwa BPBD bersama tim dari Basarnas, Polri, dan Brimob telah membangun posko komando dan dapur. Kebutuhan warga di sana cukup tinggi.
"Tapi kami juga dari BPBD dan tim gabungan dari Basarnas, Polri dan Brimob telah membuat posko komando dan dapur, kebutuhan warga disana cukup tinggi," tambahnya.
Agunawan menyebut kebutuhan mendesak warga saat ini adalah beras dan tempat tidur. Hal itu karena rumah warga yang terendam banjir sudah tidak bisa ditinggali sehingga mengungsi ke tempat aman.
"Agunawam menambahkan kebutuhan mendesak warga saat ini yakni beras dan tempat tidur. Hal itu karena rumah warga yang terendam banjir sudah tidak bisa ditinggali sehingga mengungsi ke tempat aman."
Agunawan juga mengatakan pemda terus menyalurkan kebutuhan pokok seperti beras, telur, indomie, dan lain-lain. Beberapa dusun di sana harus diberi makan setiap hari. Selain itu, kebutuhan warga di sana juga berupa tempat tidur, kasur, dan selimut.
"Pemda itu terus menyalurkan kebutuhan pokok di sana, seperti beras, telur, indomie dan lain-lain. Karena beberapa dusun di sana memang harus dikasih makan tiap hari. Selain itu kebutuhan warga di sana juga seperti tempat tidur, kasur dan selimut," tutupnya.
Situasi masih rawan hingga 31 Mei 2026. Masyarakat di Luwu Utara diharapkan tetap waspada, karena curah hujan masih tinggi. Upaya penanganan terus dilakukan oleh pemerintah kabupaten, BPBD, dan lembaga lain.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Trossard Resmi Tinggalkan Arsenal, Gabung Besiktas
Jadwal Sholat Surabaya 15 Juli 2026 Lengkap
Bersaing dengan Rekan Setim, Balsa Sekulic Rela Pakai Nomor 99
Jadwal Salat Denpasar 15 Juli 2026
Prancis vs Spanyol: Finalis Piala Dunia 2026 Diperebutkan
MU Resmi Dapatkan Tielemans dari Aston Villa Rp872 Miliar
Inter Milan Target Ganda: Scudetto dan Bangkit di Liga Champions
UEA Tuding Iran Serang Tanker di Selat Hormuz, 1 Tewas
Prakiraan Cuaca Jatim: Batu Terdingin, Surabaya Cerah
