BGN Revisi Aturan Gizi Usai Gempa NTT
Gambar atau konten salah?
Badan Gizi Nasional (BGN) langsung mengambil langkah cepat setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026. Kepala BGN, Sudaryono, memerintahkan semua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di dekat lokasi bencana untuk bersiap membantu menyediakan makanan bagi warga yang terdampak.
Sudaryono menyampaikan rasa prihatin yang mendalam. Sebagai bagian dari penanganan darurat, BGN secara resmi merevisi Surat Edaran (SE) Nomor 7 Tahun 2025. Dokumen ini disesuaikan dengan kondisi tanggap darurat yang sedang terjadi. Regulasi terbaru itu langsung didistribusikan secara bertahap kepada para pengelola fasilitas dan dapur-dapur di daerah melalui email resmi.
"Surat Edaran Nomor 7 Tahun 2025 resmi mengalami revisi. Perubahan dokumen menyesuaikan kondisi tanggap darurat terkini. Seluruh pengelola fasilitas wajib berpedoman pada regulasi terbaru," tulis Sudaryono di akun Instagram pribadinya, @sudaru_sudaryono, pada Minggu, 16 Agustus 2026.
Sudaryono menjelaskan, bagi SPPG yang wilayah operasionalnya ikut terdampak gempa, mereka diwajibkan untuk mengutamakan keselamatan jiwa. Namun, mereka juga harus tetap melaporkan kondisi terbaru kepada pihak-pihak terkait.
Sementara itu, SPPG terdekat yang lokasinya tidak terdampak gempa mendapat instruksi berbeda. Mereka diminta segera menyesuaikan operasional. Tugas utama dapur-dapur tersebut saat ini adalah bergerak aktif membantu pasokan makanan, terutama untuk masyarakat terdampak dan kelompok rentan di sekitar lokasi bencana.
"Sementara SPPG terdekat yang operasionalnya tidak terdampak dapat menyesuaikan pelayanan, termasuk membantu pemenuhan makanan bagi masyarakat terdampak dan kelompok rentan di sekitar wilayah bencana," tambah Sudaryono.
Ia meminta seluruh jajaran BGN dan SPPG mengikuti arahan yang berlaku. Tidak boleh ada keputusan yang diambil berdasarkan asumsi sendiri. Sudaryono memastikan pihaknya bergerak cepat, terkoordinasi, dan tetap memastikan pemenuhan gizi bagi warga yang terdampak.
Gempa berkekuatan besar ini memicu respons darurat yang terpusat. BGN tidak hanya merevisi aturan, tetapi juga mengatur ulang peran setiap unit SPPG. Ada yang fokus pada keselamatan, ada yang langsung beralih ke dapur darurat. Semua ini dilakukan agar pasokan makanan tetap sampai ke tangan mereka yang paling membutuhkan, terutama anak-anak, lansia, dan ibu hamil yang rentan mengalami kekurangan gizi pascabencana.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait