BGN Targetkan 5.000 Dapur MBG Terapkan Prasmanan Akhir Tahun

Rizki W. · 2 min baca · 1 jam lalu · 23 dibaca
Bisik.id
BGN Targetkan 5.000 Dapur MBG Terapkan Prasmanan Akhir Tahun

Gambar atau konten salah?

Jakarta — Badan Gizi Nasional (BGN) punya target besar untuk program makan bergizi gratis (MBG). Hingga akhir tahun, mereka ingin 1.000 sampai 5.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menerapkan metode prasmanan. Angka itu masih jauh dari kondisi sekarang, di mana baru 62 SPPG yang memakai cara tersebut di berbagai daerah, dari Merauke, Pulau Madura, Jawa, sampai Riau.

Kepala BGN Sudaryono menjelaskan bahwa pihaknya berencana melakukan uji coba MBG prasmanan selama dua minggu. Kalau tidak ada masalah besar dalam pelaksanaannya, metode ini akan diperluas ke ribuan dapur MBG hingga akhir 2026.

"Kalau tidak terjadi masalah yang begitu signifikan, kami rencananya sampai dengan akhir tahun menargetkan paling tidak minimal 1.000 sampai dengan 5.000 dapur sudah bisa melaksanakan MBG dengan cara prasmanan," ujar Sudaryono dalam keterangannya, Rabu (14 Oktober 2026).

Menurut Sudaryono, metode prasmanan punya beberapa keunggulan. Salah satunya, tingkat konsumsi makanan jadi lebih tinggi. Makanan yang disajikan cenderung habis dimakan oleh siswa.

"Dari hasil MBG prasmanan itu, tingkat kehabisannya relatif tinggi. Jadi habis. Kalau masih ada sisa, siswa yang masih ingin nambah bisa nambah. Kemudian makanannya itu hangat-hangat dibawa ke kelas, jadi lebih segar, lebih hangat, lebih enak," jelasnya.

Bukan cuma soal penyajian makanan. MBG prasmanan juga memberi kesempatan bagi siswa untuk ikut terlibat dalam pelayanan secara bergiliran, atau lewat sistem piket yang diatur sekolah. Keterlibatan siswa ini bukan berarti mereka menggantikan petugas. Tujuannya lebih ke pembelajaran—tentang tanggung jawab, disiplin, sabar saat mengantre, dan peduli pada teman.

"Ini bagian dari edukasi bagaimana siswa itu ikut melayani temannya. Di banyak kegiatan makan siang di sekolah, di banyak negara, siswa secara piket ikut terlibat. Di situ ada mengantre, ada melayani, ada belajar sabar. Ini bagian dari pendidikan," tambahnya.

Jadi, MBG prasmanan tidak cuma soal menyediakan makanan bergizi. Ada harapan bahwa cara ini juga membantu membentuk kebiasaan positif di lingkungan sekolah. Namun Sudaryono menegaskan, keberhasilan program ini butuh kesiapan dari semua pihak. Terutama SPPG sebagai penyedia layanan dan sekolah sebagai tempat pelaksanaan.

"Tantangannya adalah yang harus dilatih adalah dapurnya dan yang harus dilatih adalah sekolahnya. Kami akan memulai prasmanan ini dari dapur yang bisa dan mau, serta sekolah yang mau, bisa, dan punya kerelaan untuk dibantu," terangnya.

Penerapan prasmanan ini memang bukan sekadar soal membagikan makanan. Ada dimensi pendidikan yang ingin dibangun di dalamnya. Sekolah yang mau ikut harus siap melatih dapur dan melatih siswanya. BGN memilih memulai dari pihak-pihak yang sudah siap dan bersedia, baik dari sisi penyedia layanan maupun sekolah. Dengan begitu, program ini diharapkan berjalan lancar sebelum diperluas ke lebih banyak tempat.

makan bergizi gratisprasmananBadan Gizi NasionalSPPGedukasi siswa

Komentar

Memuat komentar...