BRI Siap Ikut Buyback Saham, Jaga Nilai Perusahaan
Gambar atau konten salah?
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mengisyaratkan kesiapan mereka untuk ikut serta dalam aksi pembelian kembali saham atau buyback. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya menjaga nilai perusahaan sekaligus mengoptimalkan keuntungan bagi para pemegang saham.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menyampaikan bahwa pihaknya siap berpartisipasi dalam rencana tersebut. Ia menegaskan bahwa langkah ini mencerminkan keyakinan perseroan terhadap fundamental dan prospek bisnis jangka panjang.
"Terkait rencana adanya buyback saham, Corporate Secretary BRI Dhanny menyampaikan perseroan siap untuk berpartisipasi. Rencana tersebut sekaligus mencerminkan keyakinan BRI terhadap fundamental dan prospek bisnis jangka panjang Perseroan, dengan tetap mengedepankan kecukupan permodalan, prinsip kehati-hatian, penerapan tata kelola perusahaan yang baik serta dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku," ujar Dhanny pada Selasa (20 Oktober 2026).
Kesiapan ini muncul di tengah kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memperpanjang relaksasi buyback tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) hingga 31 Desember 2026. Perpanjangan itu memberi ruang bagi perusahaan terbuka untuk melakukan buyback tanpa perlu menunggu persetujuan RUPS terlebih dahulu, selama memenuhi ketentuan yang berlaku di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan.
Dalam siaran pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan September 2026, OJK menyatakan kebijakan buyback tanpa RUPS diperpanjang hingga akhir tahun. Kebijakan ini menjadi salah satu instrumen yang dapat dimanfaatkan emiten dalam merespons kondisi pasar.
Sebelumnya, BRI sempat mengumumkan rencana buyback dengan dana maksimal Rp 500 miliar untuk periode 12 Juni hingga 11 September 2026. Dalam pelaksanaannya, BRI membeli kembali sekitar 31 juta saham dengan nilai sekitar Rp 90,37 miliar, atau setara 18,1 persen dari alokasi maksimal yang disiapkan perusahaan.
Periode buyback tersebut telah berakhir pada September 2026. Karena itu, rencana partisipasi berikutnya perlu dilihat berdasarkan keterbukaan informasi resmi perseroan, termasuk mengenai nilai dana dan jadwal pelaksanaan apabila telah ditetapkan.
Di sisi lain, CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, sebelumnya menyoroti peluang investasi di pasar modal di tengah koreksi harga saham. Ia menilai koreksi tersebut dapat menjadi momentum bagi investor untuk masuk ke pasar modal dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan.
"Valuasinya sangat boleh dikatakan rendah pada saat ini, karena terjadinya koreksi," ujar Rosan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (16 Oktober 2026).
Meski demikian, pernyataan Rosan tersebut berkaitan dengan peluang investasi Danantara di pasar modal secara umum dan bukan pengumuman khusus mengenai rencana buyback BRI. Pelaksanaan buyback tetap perlu mempertimbangkan kondisi keuangan, kecukupan modal, prinsip kehati-hatian, dan ketentuan yang berlaku.
BRI menyatakan kesiapan berpartisipasi dengan tetap memperhatikan aspek-aspek tersebut. Periode buyback sebelumnya telah berakhir pada September 2026, sehingga rencana partisipasi berikutnya perlu dilihat berdasarkan keterbukaan informasi resmi perseroan, termasuk mengenai nilai dana dan jadwal pelaksanaan apabila telah ditetapkan.
Di sisi lain, CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, sebelumnya menyoroti peluang investasi di pasar modal di tengah koreksi harga saham. Ia menilai koreksi tersebut dapat menjadi momentum bagi investor untuk masuk ke pasar modal dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan.
"Valuasinya sangat boleh dikatakan rendah pada saat ini, karena terjadinya koreksi," ujar Rosan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (16 Oktober 2026).
Meski demikian, pernyataan Rosan tersebut berkaitan dengan peluang investasi Danantara di pasar modal secara umum dan bukan pengumuman khusus mengenai rencana buyback BRI.
Pelaksanaan buyback tetap perlu mempertimbangkan kondisi keuangan, kecukupan modal, prinsip kehati-hatian, dan ketentuan yang berlaku. BRI menyatakan kesiapan berpartisipasi dengan tetap memperhatikan aspek-aspek tersebut.
Perlu dicatat, periode buyback BRI sebelumnya telah berakhir pada September 2026. Untuk rencana partisipasi berikutnya, publik perlu menunggu keterbukaan informasi resmi dari perseroan, termasuk nilai dana dan jadwal pelaksanaan apabila sudah ditetapkan.
Di sisi lain, CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, sebelumnya menyoroti peluang investasi di pasar modal di tengah koreksi harga saham. Ia menilai koreksi tersebut bisa menjadi momentum bagi investor untuk masuk ke pasar modal dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan.
"Valuasinya sangat boleh dikatakan rendah pada saat ini, karena terjadinya koreksi," ujar Rosan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (16 Oktober 2026).
Meski begitu, pernyataan Rosan tersebut berkaitan dengan peluang investasi Danantara di pasar modal secara umum dan bukan pengumuman khusus mengenai rencana buyback BRI. Pelaksanaan buyback tetap perlu mempertimbangkan kondisi keuangan, kecukupan modal, prinsip kehati-hatian, dan ketentuan yang berlaku. BRI menyatakan kesiapan berpartisipasi dengan tetap memperhatikan aspek-aspek tersebut.
Perlu dicatat, periode buyback BRI sebelumnya telah berakhir pada September 2026. Dalam pelaksanaannya, BRI membeli kembali sekitar 31 juta saham dengan nilai sekitar Rp 90,37 miliar, atau setara 18,1 persen dari alokasi maksimal yang disiapkan perusahaan. Rencana partisipasi berikutnya masih perlu menunggu keterbukaan informasi resmi dari perseroan, termasuk soal nilai dana dan jadwal pelaksanaan apabila sudah ditetapkan.
Di sisi lain, CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, sebelumnya menyoroti peluang investasi di pasar modal di tengah koreksi harga saham. Ia menilai koreksi tersebut bisa menjadi momentum bagi investor untuk masuk ke pasar modal dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan.
"Valuasinya sangat boleh dikatakan rendah pada saat ini, karena terjadinya koreksi," ujar Rosan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (16 Oktober 2026).
Namun perlu dicatat, pernyataan Rosan tersebut berkaitan dengan peluang investasi Danantara di pasar modal secara umum, bukan pengumuman khusus mengenai rencana buyback BRI. Pelaksanaan buyback tetap perlu mempertimbangkan kondisi keuangan, kecukupan modal, prinsip kehati-hatian, dan ketentuan yang berlaku.
BRI menyatakan kesiapan berpartisipasi dengan tetap memperhatikan aspek-aspek tersebut. Rencana partisipasi berikutnya perlu dilihat berdasarkan keterbukaan informasi resmi perseroan, termasuk mengenai nilai dana dan jadwal pelaksanaan apabila telah ditetapkan.
Di sisi lain, CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, sebelumnya menyoroti peluang investasi di pasar modal di tengah koreksi harga saham. Ia menilai koreksi tersebut dapat menjadi momentum bagi investor untuk masuk ke pasar modal dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan.
"Valuasinya sangat boleh dikatakan rendah pada saat ini, karena terjadinya koreksi," ujar Rosan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (16 Oktober).
Meski demikian, pernyataan Rosan tersebut berkaitan dengan peluang investasi Danantara di pasar modal secara umum dan bukan pengumuman khusus mengenai rencana buyback BRI.
Pelaksanaan buyback tetap perlu mempertimbangkan kondisi keuangan, kecukupan modal, prinsip kehati-hatian, dan ketentuan yang berlaku. BRI menyatakan kesiapan berpartisipasi dengan tetap memperhatikan aspek-aspek tersebut.
Perlu dicatat, periode buyback sebelumnya yang berlangsung 12 Juni hingga 11 September 2026 telah berakhir. Dalam periode itu, BRI membeli kembali sekitar 31 juta saham dengan nilai sekitar Rp 90,37 miliar, atau setara 18,1% dari alokasi maksimal yang disiapkan perusahaan. Untuk rencana partisipasi berikutnya, detail mengenai nilai dana dan jadwal pelaksanaan masih perlu menunggu keterbukaan informasi resmi dari perseroan.
Di sisi lain, CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, sebelumnya menyoroti peluang investasi di pasar modal di tengah koreksi harga saham. Ia menilai koreksi tersebut dapat menjadi momentum bagi investor untuk masuk ke pasar modal dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan.
"Valuasinya sangat boleh dikatakan rendah pada saat ini, karena terjadinya koreksi," ujar Rosan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (16 Oktober 2026).
Meski begitu, pernyataan Rosan tersebut berkaitan dengan peluang investasi Danantara di pasar modal secara umum dan bukan pengumuman khusus mengenai rencana buyback BRI. Pelaksanaan buyback tetap perlu mempertimbangkan kondisi keuangan, kecukupan modal, prinsip kehati-hatian, dan ketentuan yang berlaku. BRI menyatakan kesiapan berpartisipasi dengan tetap memperhatikan aspek-aspek tersebut.
Bagi investor, keputusan BRI ini bisa menjadi sinyal bahwa manajemen menilai harga sahamnya sedang berada di posisi yang menarik. Namun perlu diingat, buyback bukan jaminan harga saham akan naik. Keputusan tetap bergantung pada kondisi pasar dan fundamental perusahaan ke depannya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Lutfi: Singapura di Balik Ancaman MSCI ke RI
BEI Ubah Aturan ARB untuk Saham Rp 11-Rp 14 Jadi Rp 1
IHSG Anjlok 3,64 Persen ke 4.996, BEI Keluarkan Saham HSC dari Indeks
IHSG Bangkit ke 5.000, Tapi Setahun Anjlok 41%
Dolar AS Melemah ke Rp18.024, Rupiah Menguat
Telkom Percepat Buyback Rp 4 Triliun, Sisa Dana Lebih Rp 3 Triliun
