IHSG Anjlok 3,64 Persen ke 4.996, BEI Keluarkan Saham HSC dari Indeks

Agus P. · 4 min baca · 31 menit lalu · 14 dibaca
Bisik.id
IHSG Anjlok 3,64 Persen ke 4.996, BEI Keluarkan Saham HSC dari Indeks

Gambar atau konten salah?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026. Indeks utama bursa saham Indonesia itu turun cukup dalam, yakni 3,64 persen, ke level 4.996,61. Penurunan ini terjadi di tengah tekanan yang cukup kuat di pasar.

Meski secara keseluruhan pasar melemah, beberapa saham justru mencatatkan penguatan. Saham BSIM menjadi yang paling menonjol dengan kenaikan 24,83 persen. Saham AADI juga naik 2,78 persen, sementara DSSA menguat 2,10 persen. Di sisi lain, sejumlah saham berkapitalisasi besar justru tertekan. BBCA terkoreksi 6,86 persen, BYAN turun 6,95 persen, dan BBRI melemah 3,79 persen.

Tekanan juga datang dari aktivitas investor asing. Di pasar reguler, investor asing mencatatkan penjualan bersih atau net sell sebesar Rp2,28 triliun. Angka itu sedikit lebih rendah jika dihitung di seluruh pasar, di mana net sell asing tercatat Rp1,72 triliun. Artinya, investor asing lebih banyak melepas saham daripada membeli.

Tak satu pun sektor industri yang berhasil menguat pada hari itu. Sebanyak 11 sektor berakhir di zona merah. Sektor Basic Industry menjadi yang paling tertekan setelah turun 4,57 persen. Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat bergerak beragam. Dow Jones turun tipis 0,07 persen ke level 51.966. Namun, S&P 500 naik 0,41 persen ke 7.690 dan Nasdaq menguat 1,11 persen ke 26.430.

BEI Ubah Perhitungan IHSG

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah baru. Seluruh saham yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) akan dikeluarkan dari perhitungan IHSG. Keputusan ini diambil setelah BEI menggelar pertemuan dengan MSCI, lembaga penyedia indeks global.

Langkah ini bertujuan meningkatkan kredibilitas indeks. BEI ingin memberikan gambaran pergerakan IHSG yang lebih sesuai dengan kondisi pasar yang sebenarnya. Ini dilakukan di tengah perhatian yang semakin besar terhadap saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Namun, kebijakan ini bukan berarti saham HSC akan dihapus dari perdagangan.

Saham-saham tersebut tetap bisa diperjualbelikan di BEI. Hanya saja, perubahan harganya tidak lagi berdampak pada perhitungan IHSG. Saat ini, saham dalam daftar HSC memiliki bobot sekitar 18 persen terhadap IHSG.

Berdasarkan materi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total kapitalisasi pasar saham HSC mencapai Rp3.076,5 triliun. Angka itu setara dengan 28,8 persen dari total kapitalisasi pasar BEI per September 2026. Daftar HSC kini mencakup 83 saham. Jumlah tersebut bertambah setelah BEI memasukkan 19 saham baru pada 12-13 Oktober 2026.

Selain mengubah komponen perhitungan IHSG, BEI juga akan mencantumkan informasi status afiliasi dalam publikasi pemegang saham yang memiliki kepemilikan 1 persen atau lebih. Tanggal mulai berlakunya kedua kebijakan tersebut akan disampaikan BEI kemudian. Sementara itu, perkembangan terkait sanksi terhadap saham HSC akan diperbarui oleh OJK.

PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) Naikkan Target

PT Puradelta Lestari Tbk atau DMAS menaikkan target marketing sales tahun 2026 menjadi Rp2,95 triliun. Target tersebut naik 41,83 persen dibandingkan target sebelumnya yang sebesar Rp2,08 triliun. Kenaikan target ini terjadi seiring meningkatnya permintaan lahan industri, terutama dari sektor data center.

Sampai September 2026, DMAS telah mengantongi marketing sales Rp2,61 triliun. Realisasi tersebut setara dengan 88,57 persen dari target baru dan sudah mencapai 125,91 persen dari target awal. Segmen data center menjadi salah satu penyumbang utama penjualan lahan industri perseroan.

Kinerja keuangan DMAS juga tumbuh pada paruh pertama 2026. Pendapatan tercatat Rp1,80 triliun. Angka itu melonjak 193,64 persen dibandingkan Rp613 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih ikut meningkat 154,04 persen menjadi Rp1,10 triliun dari sebelumnya Rp433 miliar pada semester I 2025.

Tiga Emiten Siapkan Buyback Saham

Tiga emiten tengah menyiapkan aksi buyback saham. Ketiganya adalah Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), Barito Renewables Energy (BREN), dan Dian Swastistika Sentosa (DSSA). Aksi ini dilakukan di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan.

Mengacu pada POJK No. 13/2023 dan SOJK 112/2026, aksi buyback tersebut dapat dilakukan tanpa persetujuan RUPS. CUAN menyiapkan dana paling banyak Rp500 miliar untuk buyback. Sementara BREN dan DSSA masing-masing menyiapkan dana maksimal Rp1 triliun. Seluruh dana tersebut berasal dari kas internal masing-masing perusahaan.

Secara proforma, buyback CUAN akan menurunkan total aset dari USD 2,65 miliar menjadi USD 2,62 miliar. Total ekuitas juga turun dari USD 638,37 juta menjadi USD 610,37 juta. Buyback BREN akan menurunkan total aset dari USD 4,04 miliar menjadi USD 3,99 miliar. Total ekuitasnya turun dari USD 944,99 juta menjadi USD 889,27 juta.

Berbeda dengan kedua emiten tersebut, DSSA menyebut aksi buyback tidak akan menurunkan pendapatan perusahaan. Sebaliknya, langkah ini dapat meningkatkan laba per saham. Ketiga perusahaan menargetkan aksi tersebut untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus meningkatkan nilai bagi pemegang saham.

Buyback CUAN dan BREN dimulai pada 19 Oktober hingga 31 Desember 2026. Sementara DSSA menjalankan buyback mulai 19 Oktober 2026 sampai 18 Januari 2027.

Rekomendasi Saham

Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:

  • DSSA - Buy 715-725 | TP 740-750 | SL 675
  • UNTR - Buy 22300-22400 | TP 22600-22850 | SL 21400
  • ITMG - Buy 22900-23000 | TP 23250-23500 | SL 22100
  • INCO - Buy 3590-3620 | TP 3680-3730 | SL 3420
  • PTBA - Buy 2840-2860 | TP 2910-2940 | SL 2690

Perlu diingat, segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif. Ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.

Langkah BEI mengeluarkan saham HSC dari perhitungan IHSG menunjukkan upaya untuk membuat indeks lebih mencerminkan kondisi pasar yang likuid. Sementara itu, aksi buyback tiga emiten besar menjadi strategi untuk menahan tekanan di tengah pelemahan pasar yang cukup dalam.

IHSGzona merahBEIsaham HSCbuybackrekomendasi sahamtekanan pasar

Komentar

Memuat komentar...