Bulan Jauh, Gerhana Matahari Total Akan Hilang Jutaan Tahun

Cahyo S. · 3 min baca · 20 hari lalu · 64 dibaca
Bisik.id
Bulan Jauh, Gerhana Matahari Total Akan Hilang Jutaan Tahun

Gambar atau konten salah?

Di langit Jakarta, bulan terus bergerak menjauh dari Bumi. Fenomena ini sudah berlangsung selama miliaran tahun dan kini mulai memberi dampak nyata bagi manusia. Salah satu akibatnya adalah kemungkinan hilangnya gerhana Matahari Total di masa depan.

Menurut pengukuran ilmiah, Bulan menjauh dari Bumi dengan kecepatan rata‑rata 3,8 sentimeter per tahun. Angka ini terdengar kecil, hampir setara dengan pertumbuhan kuku manusia. Namun bila dilihat dalam skala jutaan hingga miliaran tahun, perubahan ini mengubah sistem Bumi‑Bulan secara signifikan.

Konfirmasi mengenai pergerakan ini datang dari eksperimen Lunar Laser Ranging Experiment (LLRE). Ilmuwan menembakkan sinar laser dari observatorium di Bumi ke reflektor yang ditinggalkan astronot misi Apollo di permukaan Bulan pada akhir 1960‑an dan 1970‑an. Laser memakan waktu sekitar 2,5 detik pulang‑pergi, sehingga jarak Bumi‑Bulan dapat diukur dengan akurasi milimeter. Pengamatan selama puluhan tahun menunjukkan jarak tersebut memang terus bertambah.

Gerhana Matahari Total bisa hilang. Saat ini, Bulan dan Matahari terlihat hampir sama besar dari Bumi karena kombinasi jarak dan ukuran yang sangat pas. Matahari memiliki diameter sekitar 400 kali lebih besar daripada Bulan, tetapi jaraknya juga sekitar 400 kali lebih jauh dari Bumi. Kebetulan kosmik ini memungkinkan Bulan menutupi Matahari secara sempurna saat gerhana Total terjadi.

Seiring Bulan terus menjauh, ukuran Bulan di langit akan tampak semakin kecil. Akibatnya, Bulan nanti tak lagi mampu menutupi seluruh permukaan Matahari. Ilmuwan NASA Richard Vondrak pernah menjelaskan bahwa gerhana Matahari Total suatu saat akan berakhir. “Seiring berjalannya waktu, jumlah dan frekuensi Gerhana Matahari Total berkurang. Sekitar 600 juta tahun lagi, Bumi akan melihat keindahan Gerhana Matahari Total untuk terakhir kalinya,” ujar Vondrak pada 2017 dikutip dari iflscience.

Setelah periode tersebut, yang tersisa hanyalah gerhana Matahari cincin atau annular eclipse. Dalam fenomena itu, Bulan tampak terlalu kecil untuk menutupi Matahari sepenuhnya sehingga menyisakan lingkaran cahaya terang di sekelilingnya.

Dulu Bulan tampak jauh lebih besar. Kondisi Bulan di masa lalu ternyata sangat berbeda dibanding sekarang. Saat pertama kali terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu akibat tabrakan raksasa, Bulan berada jauh lebih dekat dengan Bumi. Beberapa ratus juta tahun setelah pembentukannya, Bulan diperkirakan tampak sekitar tiga kali lebih besar di langit dibanding ukuran yang terlihat saat ini.

Perubahan jarak ini terjadi akibat interaksi gravitasi dan pasang surut antara Bumi dan Bulan. Rotasi Bumi yang lebih cepat secara perlahan mentransfer energi ke orbit Bulan, sehingga satelit alami tersebut terdorong semakin jauh. Di sisi lain, proses ini juga membuat rotasi Bumi melambat. Dampaknya, panjang hari di Bumi terus bertambah meski sangat kecil dan sulit dirasakan manusia dalam kehidupan sehari‑hari.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tata surya bukan sistem yang statis. Meski perubahan berlangsung sangat lambat, dampaknya nyata dalam skala waktu astronomi. Bagi generasi manusia ratusan juta tahun mendatang, gerhana Matahari Total kemungkinan hanya akan menjadi catatan sejarah astronomi yang pernah menghiasi langit Bumi, demikian dilansir dari iflscience.

Dengan pemahaman bahwa Bulan secara perlahan menjauh, para astronom dapat memprediksi kapan gerhana total terakhir akan terjadi. Penelitian ini juga menegaskan pentingnya menjaga catatan ilmiah jangka panjang, karena data yang dikumpulkan selama dekade dapat mengungkap perubahan kecil yang berakumulasi menjadi pergeseran besar dalam sejarah kosmik Bumi

Bulan menjauhGerhana Matahari TotalLunar Laser RangingRotasi BumiNASA Richard Vondrak600 juta tahunDampak astronomi

Komentar

Memuat komentar...