Bunga Rafflesia Langka Muncul Lagi Setelah 15 Tahun
Gambar atau konten salah?
Filipina baru saja menyampaikan kabar yang membangkitkan semangat. Samar Rafflesia, salah satu jenis bunga Rafflesia yang paling langka di negara itu, akhirnya terlihat lagi setelah lebih dari 15 tahun tidak pernah tercatat di habitat aslinya.
Tanaman unik yang memiliki nama ilmiah Rafflesia manillana ini ditemukan saat tim dari kantor pengelola kawasan konservasi melakukan survei di Samar Island Natural Park (SINP). Taman nasional ini merupakan kawasan hutan lindung terbesar yang ada di Filipina. Penemuan ini langsung disambut sebagai kabar baik oleh para pegiat konservasi.
Terakhir kali Rafflesia tercatat di kawasan tersebut terjadi pada Maret 2011. Setelah itu, selama bertahun-tahun, tidak ada lagi konfirmasi keberadaannya. Situasi ini membuat banyak pihak khawatir bahwa populasinya terus menurun karena habitatnya rusak.
Tim dari Protected Area Management Office di Samar Island Natural Park sengaja melakukan survei untuk memetakan persebaran dan kondisi populasi Rafflesia. Mereka ingin tahu seberapa parah dampak kerusakan hutan terhadap bunga langka ini. Hasilnya, mereka menemukan kembali spesies yang sudah lama hilang itu.
Identitas bunga tersebut kemudian dikonfirmasi oleh dua ahli botani asal Filipina, yaitu Dr. Pastor Malabrigo Jr. dan Dr. Julie Barcelona. Keduanya dikenal sebagai pakar keanekaragaman hayati tumbuhan di Filipina. Mereka memastikan bahwa bunga yang ditemukan memang benar-benar Samar Rafflesia.
Menurut pengelola taman nasional, penemuan kembali ini menjadi bukti bahwa populasi Rafflesia Samar masih bisa bertahan. Meskipun tekanan terhadap ekosistem hutan terus meningkat, spesies ini belum punah. Samar Island Natural Park menyatakan, "Penemuan kembali ini memberikan harapan baru bagi para pegiat konservasi bahwa populasi spesies yang terancam punah ini masih bertahan meskipun ancaman terhadap ekosistem hutan terus meningkat."
Rafflesia bukanlah tumbuhan biasa. Ia adalah tumbuhan holoparasit. Artinya, seluruh kebutuhan hidupnya bergantung sepenuhnya pada tanaman inang. Rafflesia tidak memiliki daun, batang, maupun akar seperti tumbuhan pada umumnya.
Sebagian besar siklus hidup Rafflesia berlangsung secara tersembunyi. Ia hidup di dalam jaringan tanaman merambat dari genus Tetrastigma. Baru ketika bunganya muncul, kita bisa melihatnya. Namun, bunga raksasa itu hanya bertahan selama beberapa hari saja sebelum akhirnya layu dan mati.
Bunga Rafflesia juga terkenal karena baunya yang menyengat. Aroma itu mirip dengan daging yang membusuk. Bau busuk ini bukanlah cacat. Justru sebaliknya, itu adalah strategi evolusi yang cerdik. Aroma tersebut berfungsi untuk menarik lalat, yang kemudian menjadi penyerbuk alami bagi Rafflesia.
Di Filipina, Samar Rafflesia sudah dikategorikan sebagai spesies yang terancam punah berdasarkan Department Administrative Order No. 2026-20. Penyebaran tanaman ini sangat terbatas. Akibatnya, ia sangat rentan terhadap kerusakan habitat, pembukaan hutan, dan aktivitas manusia.
Karena itu, survei terbaru ini tidak hanya bertujuan untuk menemukan kembali keberadaan Rafflesia. Tim juga mengumpulkan data lapangan untuk mendukung strategi konservasi jangka panjang. Data itu akan digunakan untuk mengelola habitat dan memantau populasi Rafflesia di masa depan.
Samar Island Natural Park membentang di tiga provinsi, yaitu Samar, Northern Samar, dan Eastern Samar. Luasnya mencapai lebih dari 333 ribu hektare. Kawasan ini adalah hutan lindung daratan terbesar di Filipina. Ia juga merupakan salah satu bentang hutan hujan tropis tua yang masih tersisa di negara tersebut.
Taman nasional ini tidak hanya menjadi rumah bagi Samar Rafflesia. Di dalamnya juga hidup berbagai satwa endemik dan terancam punah. Beberapa di antaranya adalah elang Filipina, tarsius Filipina, babi hutan Filipina, dan rusa tutul Filipina. Selain itu, ada juga berbagai jenis anggrek, amfibi, dan reptil langka.
Penemuan kembali Samar Rafflesia menegaskan betapa pentingnya menjaga kawasan hutan alami. Hutan-hutan ini menjadi benteng terakhir bagi keanekaragaman hayati. Bagi para ilmuwan, setiap populasi yang berhasil dipertahankan adalah peluang untuk memastikan spesies unik ini tetap bertahan untuk generasi mendatang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Google Ungkap Cara Jitu Kendalikan Biaya Token AI
Logitech Rilis Kamera AI yang 'Hilang' untuk Ruang Rapat
Iran Eksploitasi Celah SS7 untuk Lacak Tentara AS
Prediksi Final Piala Dunia 2026 Viral, Netizen Curiga
Cyber Breaker Season 3: Peserta Melonjak ke 916
Piala Dunia 2026: 48 Tim, Tiga Negara, Hadiah Fantastis
Berita Terbaru
BRIN Gandeng Modiva, Riset Antiperspiran Alami
Prabowo Umumkan Program Tukar Tambah Motor Listrik
Icomex Bursa Komoditas RI, Siap Operasi 2027
Prabowo Canangkan Bursa Mineral RI, Target Beroperasi 2027
Insentif Motor Listrik 1 Juta Unit Menanti PMK
6 dari 9 Terminal BBM Flores Beroperasi Pascagempa
Freeport Target Setor Rp 100 Triliun per Tahun ke Negara
Pertamina Potong Rp81 Per Liter BBM untuk NTT
Freeport Ajukan IUPK Baru, Operasi Tambang Terancam Berhenti 2041
Freeport Lepas 12% Saham Gratis ke RI, Berlaku 2041