Deflasi Sumatera Selatan 0,04%: BBM Naik, Harga Pangan Turun
Gambar atau konten salah?
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan mencatat deflasi sebesar 0,04 % pada 01 Mei 2026. Hasil ini muncul di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang mulai memengaruhi beberapa komoditas.
Deflasi ini lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang tercatat 0,13 % pada periode yang sama. Moh Wahyu Yulianto, kepala BPS Sumsel, menegaskan bahwa perbedaan ini mencerminkan dinamika penyesuaian harga di pasar lokal.
“Kalau kita lihat trennya, sejak 01 Januari 2026 sampai 31 Maret 2026 itu inflasi terus. Biasanya setelah itu akan ada penyesuaian, karena harga tidak mungkin naik terus-menerus tanpa diikuti kemampuan beli masyarakat,” ujarnya.
Dari 11 kelompok pengeluaran yang menjadi komponen inflasi, beberapa masih mengalami kenaikan. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, khususnya emas dan perhiasan, serta perumahan, perlengkapan rumah tangga, kesehatan, transportasi, dan pakaian jadi, masih menunjukkan tekanan harga.
Namun tekanan inflasi tersebut berhasil diredam oleh penurunan harga pada sejumlah komoditas pangan yang memiliki bobot konsumsi besar. Daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit mengalami penurunan harga yang cukup signifikan.
Menurut Wahyu, kondisi ini tidak lepas dari faktor pasca‑Lebaran. Pola konsumsi masyarakat mulai kembali normal dan pasokan barang relatif lebih stabil dibandingkan periode sebelumnya.
“Setelah momen Lebaran, biasanya permintaan mulai turun. Di sisi lain, pasokan sudah kembali normal, sehingga harga‑harga ikut menyesuaikan,” jelasnya.
Strategi pedagang dalam menentukan harga juga turut memengaruhi pergerakan inflasi. Pedagang kini lebih rasional dalam menetapkan margin keuntungan agar barang tetap terserap pasar.
“Kalau sebelumnya kenaikan bisa cukup tinggi karena ditambah margin besar, sekarang pedagang lebih menyesuaikan. Mereka tidak mau mengambil untung terlalu besar karena khawatir barang tidak laku,” kata Wahyu.
Wahyu mengungkapkan bahwa kenaikan harga BBM mulai memberikan tekanan pada komoditas tertentu, khususnya barang‑barang industri non‑pangan. Dari sekitar 425 komoditas yang dipantau, sebanyak 190 komoditas mengalami kenaikan harga, sebagian dipengaruhi oleh biaya distribusi dan produksi yang meningkat.
“Kenaikan BBM itu pasti berdampak, terutama ke barang‑barang industri seperti cat, makanan kemasan, sampai barang elektronik seperti laptop. Itu sudah mulai terlihat,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa dampak kenaikan BBM terhadap inflasi secara umum masih tertahan oleh penurunan harga komoditas pangan. Hal ini karena konsumsi barang industri cenderung tidak merata di seluruh lapisan masyarakat.
“Kenaikan BBM, khususnya yang kualitas tinggi, itu lebih banyak dikonsumsi oleh kelompok tertentu. Berbeda dengan pangan, yang kalau naik sedikit saja langsung dirasakan semua masyarakat,” jelasnya.
Ke depan, Wahyu mengingatkan agar kondisi ini tetap diwaspadai. Potensi kenaikan harga BBM lanjutan dapat memberikan tekanan yang lebih luas terhadap inflasi, terutama jika terjadi bersamaan dengan kenaikan harga pangan.
“Kalau nanti BBM naik lagi, dampaknya bisa lebih besar. Yang harus dijaga itu jangan sampai pangan ikut naik bersamaan, karena itu akan sangat terasa bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia pun menekankan pentingnya peran Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dalam memantau pergerakan harga dan menjaga stabilitas pasokan, terutama pada komoditas strategis.
“Pasar itu sangat responsif. Setelah deflasi ini, pelaku usaha bisa saja kembali menyesuaikan harga. Nah ini yang harus diantisipasi agar inflasi tetap terkendali,” tambahnya.
Dengan kondisi saat ini, BPS berharap stabilitas harga dapat terus terjaga, sehingga daya beli masyarakat tetap terlindungi di tengah dinamika ekonomi yang masih berlangsung.
Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa meski ada tekanan dari kenaikan BBM, penurunan harga pangan dan penyesuaian margin pedagang membantu menahan inflasi di tingkat yang relatif rendah. Namun, perhatikan bahwa situasi ini masih rentan terhadap perubahan harga BBM dan pangan di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Harga Emas Antam Palembang Naik Tipis 2.000 Rupiah
OKU Kirim Paket Sembako ke Korban Kebakaran Pasar Baru
Muharram 2025: Sepuluh Amalan Penting Memulai Tahun Baru Islam
270 Personel Dishub & Polrestabes Lindungi CFD Palembang
Lebih dari 40 Tema Tahun Baru Islam 2026 untuk Semua Usia
Polres Bangka Barat Tanam 100 Pohon Buah di Lahan Tambang
Berita Terbaru
Zulkifli Hasan Kunjungi Petani Aceh, Fokus Distribusi Pupuk
Gading Serpong: Pusat Kafe Favorit Warga BSD dan Tangerang
Indonesia vs Kamboja Imbang 0-0, Bertarung Ketiga AFF U-19
Pawai Pesta Kesenian Bali ke-48 di Renon, 13 Juni 2026
185 Posisi PPPK Tendik Sekolah Rakyat 2026 untuk SMA/SMK
Maroko Hadapi Brasil di Piala Dunia 2026: Titik Awal Baru
Sabar & Reza Raih Kemenangan Semifinal Open Australia 2026
IPO SpaceX Bawa Jutaan Rupiah bagi Ribuan Karyawan
Banjir di Jakarta Wabah Sakit Flu, Banyak Rumah Terendam
