Ekonomi Zona Euro Hanya Tumbuh 0,4 Persen
Gambar atau konten salah?
Perekonomian negara-negara di kawasan Uni Eropa mengalami perlambatan. Pada periode Juli hingga September 2026, pertumbuhan ekonomi di zona euro hanya mencapai 0,4%. Angka ini terbilang rendah, terutama di tengah krisis yang melanda Prancis dan berdampak ke negara-negara tetangganya.
Badan statistik Eropa, Eurostat, mencatat angka 0,4% ini sebenarnya lebih baik dari perkiraan para ekonom. Dalam jajak pendapat Reuters, para ekonom sebelumnya hanya memprediksi pertumbuhan sebesar 0,2%. Namun, capaian ini masih di bawah performa kuartal sebelumnya.
Pada kuartal II 2026, zona euro yang beranggotakan 21 negara berhasil mencatat pertumbuhan 0,6%. Angka itu naik setelah kawasan tersebut sempat stagnan di tiga bulan pertama tahun ini.
Joe Nellis, Kepala Penelitian Ekonomi di firma akuntansi MHA, memberikan tanggapannya. "Zona euro menunjukkan ketahanan yang tak terduga di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang cukup besar," ujarnya pada Sabtu, 31 Oktober 2026.
Tapi Nellis juga punya peringatan. Ketahanan yang terlihat ini, menurutnya, bisa jadi hanya semu. Di balik angka-angka itu, ada masalah struktural akut yang sudah mengakar lama. Masalah-masalah itu antara lain lesunya produktivitas, rendahnya belanja investasi, tekanan demografis, dan merosotnya daya saing industri Eropa.
Nellis menambahkan, prospek ekonomi untuk tahun 2027 juga terlihat rumit. Ancaman tekanan inflasi masih membayangi. "Kecuali krisis di Timur Tengah tuntas dalam waktu dekat, lonjakan biaya energi dan transportasi bakal terus mencekik biaya hidup serta keuangan rumah tangga, di saat kepercayaan konsumen sedang berada di titik nadir," katanya.
Yang menarik, beberapa negara ekonomi terbesar di Eropa justru mengalami tekanan cukup besar. Padahal, negara-negara ini biasanya menjadi pilar utama pertumbuhan kawasan.
Prancis, misalnya. Ekonomi negara ini justru mengalami kontraksi atau menyusut sebesar 0,1% sepanjang Juli hingga September 2026. Negeri Mode itu sedang berdarah-darah. Biaya pinjaman melonjak setelah para investor kabur. Penyebabnya adalah krisis politik dan demonstrasi besar-besaran.
Pemerintah Prancis saat ini sedang berusaha memangkas defisit anggaran yang membengkak dan menumpuknya utang nasional. Tapi situasi malah tambah parah. Sepanjang Oktober 2026, gelombang protes nasional terjadi di mana-mana. Penyebabnya adalah mahalnya biaya hidup. Beberapa kali protes berujung pada kerusuhan berdarah dan kerugian besar.
Jerman, sebagai ekonomi terbesar di zona euro, juga tidak bisa bernapas lega. Pertumbuhan ekonominya hanya 0,2% pada kuartal III-2026. Italia, yang biasanya menjadi ekonomi terbesar ketiga di blok tersebut, harus puas dengan pertumbuhan nol persen alias stagnan.
Spanyol justru menunjukkan hasil yang cukup baik. Negara ini mencatat pertumbuhan 0,6%. Padahal, Spanyol juga sempat diguncang demonstrasi besar-besaran. Warga memprotes mahalnya biaya hidup dan krisis perumahan. Akibatnya, pemilu mendadak pun harus digelar bulan depan.
Ada beberapa faktor yang membuat Spanyol tetap kuat. Pasar tenaga kerjanya solid. Sektor pariwisata juga berjalan baik. Permintaan domestik tinggi, dan posisi fiskal negara ini cukup sehat. Semua itu membuat Spanyol konsisten berada di atas rata-rata negara zona euro lainnya.
Irlandia mencatat angka pertumbuhan yang sangat fantastis, yaitu 5,5%. Tapi angka ini perlu dilihat dengan hati-hati. PDB Irlandia terkenal sangat fluktuatif. Sebab, banyak perusahaan multinasional raksasa yang beroperasi di luar negeri, tetapi berkedudukan di Irlandia. Lalu-lalang perusahaan ini sangat mempengaruhi angka PDB negara tersebut.
Secara keseluruhan, perlambatan ekonomi di zona euro ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut sedang menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Krisis politik di Prancis, tekanan inflasi, dan masalah struktural yang sudah lama ada menjadi pekerjaan rumah yang berat. Sementara itu, negara-negara seperti Spanyol dan Irlandia menunjukkan bahwa ada juga titik terang di tengah situasi yang suram.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
