Premi Asuransi Energi Offshore Tugu Melonjak 75%
Gambar atau konten salah?
Bisnis asuransi untuk sektor energi lepas pantai di Indonesia tengah menunjukkan geliat positif. PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk, yang lebih dikenal sebagai Tugu Insurance, mencatat lonjakan premi bruto hingga 75 persen pada paruh pertama 2026. Angka ini dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini, menurut catatan perusahaan, jauh melampaui rata-rata industri. Data dari Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menunjukkan premi asuransi energi offshore secara keseluruhan mencapai Rp 932 miliar pada semester I-2026. Angka itu hanya tumbuh 2,9 persen secara tahunan.
Corporate Secretary Tugu Insurance, Dudi Subekti, menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) menjadi pendorong utama. Aktivitas yang meningkat ini, kata dia, otomatis meningkatkan kebutuhan akan perlindungan asuransi. Terutama untuk aset-aset dan kegiatan operasional yang berlangsung di lepas pantai.
"Sektor hulu migas memiliki karakteristik investasi bernilai besar dengan proses operasional yang kompleks serta risiko keselamatan dan lingkungan yang tinggi," ujar Dudi dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Ia menambahkan, "Oleh karena itu, perlindungan asuransi menjadi bagian penting dalam mitigasi risiko industri tersebut, mulai dari potensi kecelakaan kerja, kerusakan peralatan, hingga risiko dampak lingkungan."
Prospek bisnis ini dinilai masih akan terus terbuka. Dudi melihat perkembangan berbagai proyek strategis dan peningkatan aktivitas industri migas sebagai peluang yang masih bisa digarap.
Sebagai anak usaha PT Pertamina (Persero), Tugu Insurance meyakini sektor energi akan tetap menjadi motor utama pertumbuhan bisnis perusahaan. Pengalaman panjang perusahaan dalam menangani risiko-risiko besar di sektor migas, marine hull, hingga aviation disebut memperkuat posisi mereka dalam ekosistem energi nasional.
"Kami memiliki rekam jejak yang kuat di lini bisnis ini, serta fokus pada pengelolaan risiko komersial, kebakaran, dan industri energi. Hal tersebut menjadi keunggulan kami dalam mendukung kebutuhan proteksi sektor energi nasional," kata Dudi.
Kinerja positif asuransi energi offshore ini sejalan dengan kinerja Tugu Insurance secara keseluruhan. Sepanjang semester I-2026, secara konsolidasi, perusahaan membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 480,29 miliar. Angka ini melonjak 76,87 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 271,55 miliar.
Sejalan dengan penerapan PSAK 117, perusahaan mencatatkan Pendapatan Jasa Asuransi sebesar Rp 4,45 triliun pada semester I-2026. Jumlah itu meningkat 16,31 persen dari Rp 3,83 triliun pada semester I-2025. Sementara itu, Hasil Jasa Asuransi tercatat sebesar Rp 602,95 miliar, naik 85,56 persen dari Rp 324,94 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
"Kami berkomitmen untuk menjaga kesinambungan bisnis, memenuhi tanggung jawab kepada para pemangku kepentingan, serta mendorong terciptanya nilai jangka panjang melalui pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan," pungkas Dudi.
Pertumbuhan premi asuransi energi offshore Tugu Insurance yang mencapai 75 persen jauh di atas rata-rata industri yang hanya 2,9 persen. Ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki posisi yang kuat di segmen tersebut, kemungkinan besar didukung oleh hubungannya dengan Pertamina dan pengalaman panjangnya di sektor migas. Kinerja keuangan perusahaan secara keseluruhan juga tumbuh signifikan, mengindikasikan bahwa lini bisnis energi menjadi kontributor utama profitabilitas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
