Ekspor UMKM Tembus Rp6,2 Triliun hingga Agustus 2026

Cahyo S. · 2 min baca · 1 jam lalu · 21 dibaca
Bisik.id
Ekspor UMKM Tembus Rp6,2 Triliun hingga Agustus 2026

Gambar atau konten salah?

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan angka baru dari program UMKM Bisa Ekspor. Dalam periode Januari hingga Agustus 2026, nilai transaksi ekspor yang tercatat mencapai US$ 347 juta. Jika dikonversi dengan kurs Rp 17.900 per dolar AS, jumlah itu setara dengan Rp 6,21 triliun.

Budi menyampaikan hal tersebut saat acara Kick Off Fasilitas Sertifikasi Barcode Produk Pangan di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, pada Selasa, 06 Oktober 2026. Ia menjelaskan bahwa pihaknya memiliki perwakilan atase perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) yang tersebar di 33 negara. Total ada 46 perwakilan yang membantu pelaku UMKM bertemu langsung dengan calon pembeli dari luar negeri.

“Tahun lalu transaksinya mencapai US$ 134,8 juta. Tahun ini sampai Januari sampai Agustus transaksinya sudah US$ 347 juta,” kata Budi.

Menurut Budi, sebagian besar UMKM yang bergabung dalam program ini belum pernah melakukan ekspor sebelumnya. Tujuan program ini, katanya, adalah membuka akses bagi semua pelaku usaha untuk bisa menembus pasar luar negeri. Bukan hanya perusahaan besar yang selama ini mendominasi.

Selain program ekspor, Kementerian Perdagangan juga mendorong UMKM masuk ke ritel modern di dalam negeri. Salah satu caranya adalah dengan menyediakan fasilitas sertifikasi barcode. Program ini bekerja sama dengan perusahaan GS1 Indonesia, khusus untuk produk pangan kemasan dan produk perawatan kecantikan.

“Kita sudah punya kerja sama dengan Aprindo dengan Hippindo kalau kita lihat sekarang banyak produk-produk lokal kita ini yang sudah ada di ritel modern,” jelas Budi.

Pada tahap awal, ada 50 UMKM yang telah melewati proses kurasi untuk mendapatkan fasilitas barcode ini. Budi menjelaskan, barcode memudahkan layanan, penyimpanan, hingga distribusi produk. Syarat utamanya, produk harus memiliki daya saing dan kualitas yang baik.

“Konsumen punya standar yang kemudian direpresentasikan ke dalam ritel. Ritel juga punya standar. Karena kalau ritel enggak punya standar ya konsumen juga enggak mau pasti beli barang yang lebih bagus,” beber ia.

Dalam kesempatan yang sama, Budi juga membahas Trade Expo Indonesia (TEI) yang akan digelar pada 14 hingga 18 Oktober 2026 di ICE BSD. Sebanyak 5.400 pembeli asing telah mengonfirmasi kehadiran mereka. Meski begitu, Budi optimistis jumlah itu akan bertambah.

Pada TEI 2025, jumlah pembeli yang hadir mencapai 8.045 orang dengan total nilai transaksi US$ 22,8 miliar. Untuk tahun ini, target transaksi yang ditetapkan lebih rendah, yaitu US$ 17,5 miliar.

Program UMKM Bisa Ekspor dan fasilitas barcode menunjukkan dua arah kebijakan yang saling melengkapi. Satu sisi mendorong ekspor, sisi lain memperkuat pasar domestik. Keduanya bertujuan memperluas jangkauan usaha kecil dan menengah di Indonesia.

UMKM Bisa Ekspornilai eksporsertifikasi barcodepasar luar negeriritel modernKementerian PerdaganganUMKM

Komentar

Memuat komentar...