Pasar Keuangan Indonesia Tertekan, IHSG Koreksi 6,96%

Mira T. · 3 min baca · 1 jam lalu · 21 dibaca
Bisik.id
Pasar Keuangan Indonesia Tertekan, IHSG Koreksi 6,96%

Gambar atau konten salah?

Pasar keuangan Indonesia saat ini sedang berada dalam tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi yang cukup dalam sepanjang bulan September. Di saat yang bersamaan, nilai tukar rupiah juga melemah terhadap dolar Amerika Serikat dan dolar Singapura.

Tekanan di pasar saham terlihat dari banyaknya dana investor asing yang keluar. Jumlahnya sangat besar. Sementara itu, dolar AS sudah menembus level Rp 17.900. Dolar Singapura juga semakin mendekati angka Rp 14.000.

Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, mengungkapkan bahwa investor asing melakukan aksi jual bersih atau net sell hingga Rp 10,24 triliun di pasar saham. Ini terjadi di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global. Kondisi ini sangat berbeda dengan bulan Agustus, di mana tercatat net buy sebesar Rp 1,19 triliun.

"Investor asing membukukan net sell di pasar saham senilai Rp 10,24 triliun, sementara di bulan Agustus 2026 lalu tercatat net buy investor asing sebesar Rp 1,19 triliun," kata Hasan dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan secara virtual, Senin (05 Oktober 2026).

Tekanan ini terlihat jelas pada pergerakan IHSG. Indeks ditutup di angka 6.071,14 pada akhir September. Artinya, terjadi koreksi sebesar 6,96% secara month-to-month. Pergerakan pasar saham domestik sepanjang September dipengaruhi oleh meningkatnya volatilitas pasar keuangan global. Eskalasi tensi geopolitik dan kenaikan suku bunga global menjadi pemicunya.

Meskipun demikian, OJK menilai daya tahan dan likuiditas pasar modal domestik masih terjaga. Rata-rata bid-ask spread pasar saham berada di angka 1,2%. Angka ini relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 1,17%.

Tekanan juga terjadi di pasar obligasi. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada September 2026 ditutup pada level 439,05. Angka ini turun 0,23% secara bulanan.

Di tengah kenaikan imbal hasil obligasi global dan ketidakpastian global, tekanan keluarnya dana investor asing dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dinilai masih terbatas. Investor asing melakukan net sell sebesar Rp 340 miliar sepanjang September.

Kinerja industri pengelolaan investasi juga mengalami penyesuaian. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana tercatat Rp 637,07 triliun. Angka ini turun 2,42% secara bulanan.

Tekanan di pasar keuangan juga terlihat pada pergerakan nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda kompak melemah terhadap dolar AS dan dolar Singapura hingga perdagangan siang kemarin.

Dolar AS menguat cukup tinggi ke level Rp 17.900 pada perdagangan Senin siang. Penguatan juga terjadi pada dolar Singapura yang terus mendekati level Rp 14.000 terhadap rupiah.

Berdasarkan data Bloomberg, Senin (05 Oktober 2026), dolar AS diperdagangkan pada level Rp 17.941. Mata uang Paman Sam menguat sebesar 59 poin atau 0,33%.

Sementara itu, dolar Singapura selangkah lagi menyentuh level Rp 14.000. Mata uang milik Negeri Singa menguat sebesar 6,72 poin atau 0,05% dan berada pada level Rp 13.997.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah mengalami depresiasi 7,74% secara year to date (ytd). Pelemahan nilai tukar ini dinilai masih beriringan dengan pergerakan mata uang negara-negara tetangga.

Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, menjelaskan bahwa pergerakan nilai tukar sebuah negara dipengaruhi oleh faktor global dan domestik. Termasuk juga faktor yang bersifat sentimen dan kebutuhan. Contohnya, keputusan Amerika Serikat menaikkan suku bunga hingga konflik di Selat Hormuz yang mengakibatkan gangguan terhadap pasokan energi.

Pelaku pasar akan melihat kondisi fiskal AS yang berada di ambang defisit. Akibatnya, AS akan menerbitkan surat utang lebih banyak dengan suku bunga lebih tinggi. Hal inilah yang membuat posisi indeks nilai dolar AS (DXY) melampaui level 101 dan membuat mata uang negara lain melemah.

"Ketika DXY, indeks dollar menguat, kira-kira mata uang lain? Melemah," ujar Erwin dalam Taklimat Media di kantor BI, Jakarta Pusat, Rabu (30 September 2026).

Sementara itu, berdasarkan Google Finance, dolar Singapura bergerak naik secara konsisten pada 2026. Dolar Singapura masih diperdagangkan di level Rp 12.900-an pada awal Januari 2026. Namun nilainya terus menguat hingga sempat tembus level Rp 14.000 pada bulan Juni, Juli, Agustus, dan September.

Kondisi pasar keuangan Indonesia saat ini menunjukkan adanya tekanan dari berbagai sisi. Mulai dari pasar saham, obligasi, hingga nilai tukar rupiah. Faktor global seperti kenaikan suku bunga AS dan ketegangan geopolitik menjadi pendorong utama. Meskipun demikian, OJK dan BI menilai fundamental pasar masih cukup kuat untuk bertahan.

pasar keuanganIHSGrupiahinvestor asingnet sellnilai tukar

Komentar

Memuat komentar...